Membangun Narasi Kebaikan

  • Whatsapp

Oleh: Bunda Lina Nazkiya

Dalam Al-Qur’an surat Ar Ra’d ayat 11

… ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ…

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d 13: 11).

Meski takdir berada di tangan Allah tetapi Allah tidak menghendaki manusia hanya pasrah saja tanpa melakukan tindakan apa-apa. Seperti halnya seseorang yang bercita-cita menjadi dokter tetapi tidak kuliah di bidang kedokteran, hal ini jelas mustahil. Tetapi jika dia bercita-cita menjadi seorang dokter kemudian kuliah di kedekteran tetapi pada akhirnya dia tidak menjadi dokter maka inilah takdir Allah.

Seseorang yang mempunyai cita-cita tinggi, maka dia juga harus melakukan usaha yang keras untuk mencapai cita-citanya. Sama halnya dengan seseorang tadinya berbuat buruk, tidak serta merta berargumen bahwa dia sudah ditakdirkan menjadi orang buruk, tetapi yang tadinya berbuat buruk harus merubah kebiasaan buruknya agar menjadi suatu kebaikan. Orang yang berniat dengan tulus dan bersungguh-sungguh dalam merubah kebiasaan buruknya, maka keinginan menjadi orang baik akan terwujud.

Orang yang ingin selalu berbuat kebaikan, maka dalam dirinya harus terus membangun narasi kebaikan. Dia harus terus mengulang-ulang narasi kebaikan dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, sehingga lama-kelamaan akan sampai ke alam bawa sadarnya. Jika hal ini terjadi, maka hatinya akan selalu dipenuhi kebaikan, hati yang baik maka perbuatan-perbuatannya juga akan menjadi baik.

Membangun narasi kebaikan dimulai dari pikiran yang positif dan pikiran yang positif dimulai dari asupan yang positif pula, dengan kata lain jika seluruh pikiran ingin dipenuhi dengan kebaikan maka segala infomasi yang masuk baik itu didengar, dilihat atau dirasakan adalah hal-hal yang baik saja.

Demikian juga dengan ibadah, ketika seseorang ingin melakukan shalat tahajjud dengan istiqomah atau konsisten, membaca Al-Qur’an 1 juz, maka dirinya juga harus memulai dengan membangun sebuah narasi untuk melaksanakan hal tersebut, sehingga seluruh pikiran dan gerak tubuh akan menyesuaikan dengan narasi yang sudah dibangun tersebut. Otak akan terus mengingatkan ke dalam anggota tubuh yang lain agar melaksanakan hal tersebut dan akan ada penyesalan ketika kita tidak melakukan hal tersebut. Semoga kita senantiasa selalu dimudahkan dalam istiqomah kebaikan.

Wallahu A’lam Bishawab

🍃🍃🌻🍃🍃🌻🍃🍃🌻🍃🍃🌻
=============================

Related posts