Membangun Peradaban dari Populasi Terbelakang

  • Whatsapp

Oleh: Al Mukhollis Siagian, Presiden Wadah Pejuang Penegak Solusi Politik

“Tidak sedikit masyarakat pupus harapan dan mengutuk diri menjadi budak sepanjang generasinya-abadi. Para pejabat agama dan pejabat Negara tidak peduli dengan mereka, kecuali tenaga dan kekayaan sumber daya alamnya.”

Read More

Ungkapan diatas sangat mewakili tentang realitas kehidupan sosial yang sejak babakan klasik, neo-klasik, modern, hingga post-modern selalu memperlihatkan fenomena manusia berlangsung tentang keterbrlakangan. Fenomena yang hendak penulis bahas pada artikel ini mengenai sebuah fakta yang tak terhindarkan, “malapetaka alami” pada realitas tatanan kehidupan masyarakat.

Populasi terbelakang dilihat sebagai objek transformasi yang tak terhindarkan. Dengan tujuan untuk mencapai masyarakat perkotaan, industri dan pekerjaan berbayar, cara berpakaian, dan pendidikan. Populasi terbelakang ini lebih identik dengan sebutan primitif yang karenanya tidak dilihat sebagai manusia seutuhnya dan akibatnya dibenarkan untuk mendominasi mereka, diposisikan sebagai objek, dan mengeksploitasi.
Biasanya masyarakat primitif diberi label sebagai masyarakat buta huruf atau masyarakat sederhana. Istilah pengungkapan sarat dengan nilai-nilai negatif dan merendahkan yang tidak dapat disangkal. Sebagian besar dari kita mungkin berpikir bahwa kondisi masyarakat telah berada pada fase modern di abad XXI, termasuk penulis pada mulanya. Namun kita salah besar, bahwasanya masyarakat yang berada didaerah pelosok dan berpikiran primitif masih sangat banyak di abad XXI ini. Salah satunya adalah masyarakat Desa Sigordang yang terletak di Kecamatan Dolok Sigompulon penghujung Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara.

Desa Sigordang merupakan desa yang telah berusia lebih dari 50 tahun, terletak paling luar dari Kabupaten Padang Lawas Utara setelah Desa Gotting Bange dan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan. Butuh waktu jarak tempuh 6-7 jam dari pusat kabupaten. Kondisi jalan amat memprihatinkan, komposisinya terdiri dari bebatuan beberapa kilometer, lumpur beberapa kilometer, dan aspal beton juga beberapa kilometer yang baru dibangun dua tahun ini.

Walau demikian, Desa Sigordang sudah merambah modernitas era. Dapat dilihat dari infrastruktur jalan, model bangunan, dan pakaiannya. Namun pemikiran masyarakatnya tetap primitif, satu-satunya yang mereka ketahui adalah cara untuk melangsungkan kehidupan. Tak pernah terbesit bagi mereka untuk memikirkan anak-anaknya agar melanjutkan pendidikan. Hal ini tak lain dikarenakan tidak ada satupun pejabat agama dan pejabat Negara yang mau mengunjungi mereka, apalagi untuk mengedukasi dan menyampaikan informasi tentang dunia. Yang pemerintah inginkan dari mereka hanyalah tenaga dan kekayaan alamnya, seolah-olah nasib penduduknya haram untuk diperhatikan.

Siratan raut wajah dan denyut jantung masyarakat yang pupus harapan dan mengutuk dirinya menjadi budak sepanjang generasinya tidak bisa mereka sembunyikan. Jelas, ini merupakan eksploitasi luar biasa, masyarakat diberikan raga modernitas namun jiwanya dikutuk primitif.

Oleh karena itu, pada tanggal 18-21 Mei 2021 penulis bersama Tim Dedikasi Sigordang melakukan pengabdian dengan tema “Giat Keagamaan, Giat Pendidikan, Giat Kemasyaratan, dan Giat Pariwisata” di Desa Sigordang. Tim ini terdiri dari beberapa tokoh muda Indonesia, Al Mukhollis Siagian selaku Presiden Wadah Pejuang Penegak Solusi Politik (WPPSP), Sorip Hasayangan Harahap Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pemuda Perantau Padang Lawas Utara (HMPP Paluta), Ismail Rambe Fungsionaris Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Padang, Muhammad Rofii Lubis Direktur Eksekutif Intelektual Padang Club (IPC), Galang Primuslim Manurung Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Labuhan Batu (IMLU), Marasi Ritonga Imam Masjid dan Ketua Muda/I Sigordang, Umar Siregar selaku Advokat Batam, Syahnu Simbolon Aktivis Lingkungan, Azhari Rambe Pegiat Pariwisata, Rusman Rambe, Usman Syarip Siregar Relawan Edukasi Masyarakat Pelosok, Syarif Rambe Pegiat Pendidikan, Ilal Basri Munthe Pegiat Ekonomi Maysarakat, Muhammad Saipul Bangun Hasibuan Pengamat Politik Desa, Ali Tahan Rambe Pengamat Hukum Tata Negara, Yusril Mahenra Hasibuan Aktivis Lingkungan, Jakfar Nasution Aktivis Lingkungan, dan Umar Rambe Pegiat Keagamaan.

Tim Dedikasi Sigordang yang dipimpin oleh Sorip Hasayangan Harahap selaku Ketua Umum HMPP Paluta memberikan empat program substantif terhadap masyarakat dalam menjalankan pembangunan desa berkelanjutan.
Program pertama adalah keagamaan dengan mengajari anak-anak mengaji yang dipimpin oleh Muhammad Rofii Lubis, Pengajian nilai-nilai Islam bersama masyarakat yang ditutun oleh Syahban Siregar, dan membuka Sholat Jum’at (21 Mei 2021) di imami Marasi Ritonga. Masyarakat Desa Sigordang beragama Islam namun tak pernah mengadakan sholat Jum’at sepanjang tahun dikarenakan minimnya pengetahuan. Kedua, program kemasyarakatan dipimpin oleh Marasi Ritonga dengan membersihkan pekarangan masjid, mendirikan mimbar khatib Jum’at, dan olahraga bersama masyarakat.

Program ketiga adalah pendidikan yang dipimpin Al Mukhollis Siagian dan Ismail Rambe melaui nonton bareng film kependidikan bersama masyarakat, khususnya anak-anak. Al Mukhollis Siagian menyampaikan bahwa “pendidikan merupakan kewajiban setiap manusia, hak anak adalah memperolehnya tanpa kecuali, dan dilarang keras orang tua mendzalimi anak apabila melarang anaknya untuk bersekolah. Jangan takut dengan biaya sekolah, kami siap membatu!”

Dan terakhir adalah program pariwisata. Desa Sigordang memiliki tiga potensi besar untuk destinasi wisata, yaitu air terjun, Dua Batu Ordang (Sigordang), dan Puncak sebagai titik pemandangan hijau menyegarkan. Program keempat ini masih dalam perumusan tim tentang cara pengelolaannya yang dapat menunjang kesejahteraan masyarakat setempat. Berdasarkan proyeksi tim, Desa Sigordang bisa bergandengan dengan keindahan Nagari Pariangan (Sumatera Barat) yang dinobatkan sebagai Desa Terindah Dunia. (*)

Related posts