Membudayakan Kembali Kato Nan Ampek

  • Whatsapp

Oleh: Santika Ramadhani

Di zaman yang modern ini umumnya masyarakat sudah sangat kekinian dan mengikuti perkembangan zaman. Dengan perkembangan zaman itu banyak juga dampak positif dan negatif yang dihasilkan. Dampak positifnya sesuatu yang dulu sulit sekarang sudah menjadi sangat mudah. Sesuatu yang jauh bisa menjadi sangat dekat. Bahkan yang dulunya memakan jarak tempuh yang lama sekarang bisa menjadi sebentar. Sesuatu yang sulit didapat sekarang menjadi sangat mudah untuk didapatkan. Banyak lagi dampak positif yang dihasilnya dari perkembangan zaman itu.

Read More

Selain dampak positif tentunya juga akan menghasilkan dampak negatif. Mulai dari tergesernya nilai- nilai dan norma dalam berperilaku , berbicara dan bertindak. Tenggang rasa yang dulunya diagungkan sekarang sudah mulai diabaikan. Apalagi rasa malu yang dulunya adalah sesuatu yang tinggi bagi masyarakat Minangkabau sekarang juga sudah mulai memudar. Bagaimana cara berbicara dan bertindak sesuai tempat kita berada tidak lagi menjadi hal penting. Begitu banyak sekali dampak negatif dari perkembangan zaman ini.

Dalam berbicara khususnya. Kita masyarakat Minang sudah ada yang mengatur dengan jelas. Diajarkan bagaimana seharusnya berbicara sesuai dengan tempat dan situasi. Kepada siapa tujuan kita berbicara. Tetapi malah tergeser dengan kata kata kebarat baratan yang tidak sesuai dengan lingkungan kita. Contohnya saja lu, gua. Kata seperti itu tidak ada di Minangkabau, namun karena perkembangan zaman itu sudah menjadi hal yang lumrah. Sebagai generasi modern kita sudah diberikan tuntunan untuk berpedoman kepada adat yang sudah mengatur bagaimana cara berbicara dengan baik dan sopan. Kato Nan Ampek istilahnya juga biasa dikenal dengan langgam kata .

Langgam kata , dalam bahasa Minangkabau disebut langgam kato , ialah semacam tata krama berbicara sehari hari antara sesama mereka , sesuai dengan status sosial mereka masing masing. Dengan adanya tata Krama berbicara itu tidak berarti ada bahasa bangsawan , disamping ada bahasa rakyat . Tata krama itu dipakai semua orang. Sedangkan perbedaan pemakaiannya ditentukan siapa lawan berbicara. (Navis, A.A, 1986:101).

Didalam langgam kato atau kato Nan Ampek terdapat pedoman bagaimana cara berbicara dengan siapapun tujuan kita berbicara. Pertama, kato mandaki yaitu bahasa yang digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua atau lebih besar dibanding kita. Umpamanya, yang dipakai oleh orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua , anak kepada orang tua, siswa kepada guru atau mahasiswa kepada dosen. Kata atau bahasa yang digunakan haruslah sopan dan menghargai lawan bicara. Tidak terkesan merendahkan lawan bicara itu. Apalagi hanya memanggil mereka hanya dengan sebutan nama saja.

Kedua, kato manurun yaitu bahasa yang digunakan oleh kita untuk lawan bicara yang lebih muda atau lebih kecil dari kita. Contohnya kakak kepada adik, guru kepada murid , dosen kapada mahasiswa. Sebagai orang yang lebih besar dibanding lawan bicara contohnya kakak. Menjadi kakak haruslah mencontohkan hal hal yang baik kepada adik. Berkata dengan lembut dan tidak membentak bentaknya. Tidak berkata hal yang buruk buruk di depannya. Sebab sebagai kakak adalah contoh untuk adik. Apa yang adik lihat pasti akan ditirunya. Jadi contohkanlah hal hal yang baik didepannya.

Ketiga kato malereang yaitu adalah kata atau bahasa yang digunakan untuk orang yang disegani , dihormati dan memiliki rasa toleran yang tinggi. Di dalam hubungan kekerabatan karena perkawinan , misalnya ipar, bisan, mertua ,menantu dan bisa juga antara orang orang yang jabatannya dihormati seperti ulama dan penghulu. Disini juga harus tetap menjunjung rasa saling menghargai dan menghormati, tetap berbicara dengan lembut dan sopan.

Kaempat kato mandata yaitu adalah kata yang sering digunakan dengan yang memiliki keakraban dan umumnya usia yang sama atau sebaya. Biasanya bahasa yang digunakan akan cenderung lebih santai, walaupun santai tetap harus menghargai dan tidak menyinggung dengan kata kata yang kasar. Disini banyak terjadi perselisihan akibat kurangnya rasa menghargai dengan sering kali mengeluarkan kata kata kasar walaupun hanya kepada teman sebaya. Apalagi zaman modern ini , kata kata yang dikeluarkan oleh orang lain yang menyinggung perasaan pasti dikatakan baper atau terlalu mudah tersinggung. Padahal bisa saja kata katanya memang kasar dan tidak pantas dikatakan walaupun hanya kepada teman sebaya.

Di Minangkabau sudah ada aturan tegas yang mengatur bagaimana cara kita berbicara sesuai dengan tempat kita berada , sesuai dengan kepada siapa kita berbicara. Kita sebagai generasi penerus bangsa yang baik, harusnya selalu menerapkan aturan yang ada. Perkembangan zaman boleh saja tetap terjadi , tetapi nilai- nilai yang sudah ada dan mendarah daging juga harus tetap kita lestarikan. Membudayakan lagi Kato Nan Ampek agar hidup menjadi lebih nyaman ,tentram dam sejahtera. Hubungan antara individu dengan individu menjadi baik apalagi hubungan antara individu dengan kelompok .

Apabila Kato Nan Ampek sudah kembali dibudayakan pasti tidak akan ada lagi permasalahan akibat tersinggung karena kata kata yang dilontarkan. Boleh saja mengikuti perkembangan zaman yang pastinya tidak akan mungkin lepas dalam keseharian kita. Tetapi sebagai generasi bangsa yang baik sudah menjadi tanggung jawab kita juga untuk tetap melestarikan aturan yang sudah ada sedari dahulu agar tidak luntur keberadaannya dimakan oleh zaman. Tetap menjadi generasi penerus bangsa yang kaya akan moral , etika. Tingkah laku dan tenggang rasa yang tinggi.

/*Penulis: Mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Minangkabau, Universitas Andalas.

Related posts