Memulihkan Kondisi Pariwisata Sumbar Pasca Bencana, Ini Sejumlah Langka Strategis Dinas Pariwisata Sumbar

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Pasca bencana banjir lahar dingin yang menghantam sejumlah daerah, Dinas Pariwisata Sumatera Barat memulai langkah yang harus dilakukan untuk memulihkan kondisi destinasi pariwisata yang terkena dampak pasca bencana.

Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat Luhur Budianda, mengatakan pihaknya tetap optimistis sektor pariwisata bisa secepatnya pulih, karena itu target pergerakan wisatawan tidak perlu direvisi.

Pada 2024, Pemprov Sumbar menargetkan jumlah pergerakan wisatawan sebanyak 13,5 juta orang. Target tersebut meningkat jauh di atas target tahun sebelumnya yang hanya sebanyak 8,2 juta orang.

Luhur mengatakan pihaknya menggandeng semua pemangku kepentingan terkait pariwisata untuk menyiapkan sejumlah langkah antisipasi guna mengatasi dampak bencana terhadap sektor pariwisata.

“Kita sudah undang semua pemangku kepentingan terkait pariwisata untuk membahas dan mencari solusi persoalan ini, karena kontraksi pergerakan wisatawan memang cukup besar,” katanya.

Ia mengatakan Dispar Sumbar bekerja sama dengan PT Telkomsel untuk memantau pergerakan wisatawan. Berdasarkan data Telkomsel, kontraksi pergerakan wisatawan di Sumbar pada Mei 2024, mencapai 22 persen.

Kontraksi itu mulai terasa setelah bencana banjir dan banjir bandang melanda Kabupaten Pesisir Selatan pada Maret 2024. Kemudian, bencana yang sama di tiga daerah di Sumbar pada awal Mei 2024.

“Yang paling terpengaruh adalah pergerakan wisatawan Nusantara, sementara untuk wisatawan mancanegara relatif stabil,” ujarnya.

Luhur menyebut hasil pertemuan dengan pemangku kepentingan terkait pariwisata, seperti PHRI, ASITA dan pihak lain didapatkan informasi bahwa periode April-Mei 2024, okupansi hotel menurun cukup drastis hingga 45 persen.

Selain pihak yang berkaitan dengan pariwisata, Dispar Sumbar juga mengundang organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk mencari solusi persoalan penurunan pergerakan wisatawan itu.

“Dari beberapa kali pertemuan, kita merinci sejumlah langkah untuk percepatan pemulihan pariwisata Sumbar,” katanya.

Beberapa langkah yang disiapkan, di antaranya menyusun travel pattern sementara wisata aman dan nyaman di Sumbar dengan menyiapkan SOP.

Kemudian, melakukan promosi ke pasar-pasar potensial. Industri pariwisata juga diminta menyiapkan paket-paket wisata menarik.

“Salah satu opsi menanggulangi bencana adalah pariwisata yang berkelanjutan. Pelaku pariwisata pun berperan penting dalam mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Ini yang harus kita lakukan, bagaimanapun ini kita adalah masyarakat yang hidup di daerah rawan bencana,” ujar Luhur.

Luhur Budianda mendorong pelaku pariwisata untuk melakukan upaya mitigasi bencana di destinasi wisata. Misalnya, dengan menyiapkan alat-alat yang pengamanan (safety) dalam melaksanakan tanggap darurat ketika terjadi bencana.

“Maka yang harus disiapkan oleh destinasi pariwisata kita adalah alat-alat yang diperlukan untuk melaksanakan tanggap darurat ketika bencana itu terjadi,” ujarnya.

Kolaborasi pun diperlukan untuk pencegahan dan kesiapsiagaan bencana dalam mewujudkan rencana manajemen terpadu. Misalnya, dalam pemanfaatkan data dan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk manajemen krisis kepariwisataan agar mampu mengantisipasi dalam menghadapi bencana di Tanah Air.

“Kita tidak bisa sendiri dalam pencegahan dan menanggulangi bencana. Diperlukan koordinasi erat antar K/L, misalnya dengan BPBD,” ujar Luhur.

Dinas Pariwisata Sumbar telah memiliki kerangka kerja terkait manajemen krisis dinas pariwisata mulai dari Fase Kesiapsiagaan dan Mitigasi, Fase Tanggap Darurat, Fase Pemulihan, dan Fase Normalisasi.

Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Sumatera Barat, Nasirman Chan menegaskab Bencana erupsi Gunung Marapi yang terjadi belum lama ini diprediksi tidak mempengaruhi minat orang berwisata ke Sumater Barat.

Menurutnya, ada banyak pilihan untuk berwisata ke Sumatera Barat selain Wisata Gunung Marapi yang termasuk segmen wisata khusus.

Namun demikian, Nasirman mengimbau pengunjung atau wisatawan tetap berhati-hati saat melakukan perjalanan wisata terutama destinasi wisata yang berisiko tinggi, seperti wisata air, laut dan gunung. Sikap berhati-hati dapat diwujudkan dalam bentuk selektif dalam memilih lokasi dan kategori wisata yang akan dilalui. (RI)

Related posts