Menangani Cabin Fever Akibat Pandemi? Berikut Triknya!

  • Whatsapp
Cabin Fever
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh : Dila Salsabila

Cabin fever atau demam kabin adalah hal yang umumnya terjadi pada masyarakat di tengah pandemi ini. Cabin fever secara singkatnya dapat disimpulkan sebagai rasa gelisah, tertekan, dan tidak nyaman ketika terisolasi di suatu tempat dalam waktu yang lama. Secara psikologis, cabin fever bukanlah gangguan jiwa, tetapi cukup men-trigger anxiety dan dapat menimbulkan depresi.

Read More

Selama pandemi ini, kita harus tetap berada di rumah dalam jangka waktu yang cukup lama terhitung sejak bulan Maret lalu. Ancaman virus Corona membuat segala kegiatan diharuskan menggunakan metode daring dari tempat masing-masing. Karena itu, sebagian dari kita pasti merasakan beberapa gejala dari cabin fever ini, seperti mudah marah, menjadi lebih sering mengeluh, tidak sabaran, mudah sedih tanpa alasan dan tersinggung, sulit berkonsentrasi, merasa lelah padahal tidak melakukan apa-apa, dan lain sebagainya.

Gejala yang disebutkan diatas merupakan gejala yang umum terjadi bagi para pengidap cabin fever, tetapi tidak ada yang sama persis bagi setiap orang karena masing-masing individu memiliki hal berbeda yang harus dihadapi. Tetapi, pada intinya, cabin fever membuat kita kesulitan untuk melakukan rutinitas.

Apa yang harus dilakukan agar kita bisa lepas dari cabin fever ini? Pertama, coba untuk keluar dari dalam rumah dan biarkan tubuh terpapar sinar matahari. Tidak perlu terlalu jauh, cukup keluar sebentar dan biarkan tubuh bergerak. Hal ini dapat membuat stres berangsur-angsur menghilang. Kedua, membuat rutinitas baru juga bisa menjadi cara untuk menghilangkan rasa bosan. Atur dan rapikan tempat sedemikian rupa, jadwalkan segala kegiatan, tambahkan hal-hal yang sekiranya dapat mengurangi stres ke dalam jadwal tersebut, dan lakukan secara teratur dan tanpa perlu memaksakan diri.

Prioritaskan tidur yang cukup. Waktu tidur yang cukup dalam sehari adalah 8 jam dan salah satu alasan kita kurang konsentrasi dan sering merasa lelah padahal kita tidak melakukan apa-apa adalah kurang tidur. Bagi sebagian orang, tidur mungkin merupakan hal yang sulit karena banyaknya tekanan baik dari dalam diri maupun lingkungan sekitar, maka jika keadaan seperti itu memaksa diri untuk tidak tidur maka jaga nutrisi dan biasakan pola hidup sehat agar tidak menimbulkan penyakit lain.

Tidak perlu memaksakan diri untuk berkomunikasi dengan orang lain. Jika kita merasa bahwa diri sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk berkomunikasi maka tidak perlu melakukannya agar kita tidak menyakiti lawan bicara kita.
Merasa jenuh atau terpenjara ketika ‘isolasi’ ini adalah hal yang wajar, maka dari itu cari zona nyaman yang baru agar kejenuhan itu lama-lama menghilang. Dan yang perlu diingat, cabin fever bersifat sementara sehingga tidak perlu berlarut-larut ketika merasakannya. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Andalas.

Related posts