Mengenal Eustress dan Distress, Pernah Mengalaminya?

  • Whatsapp
Eustress dan Distress
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Alifya Ayesha Safa Aurora

Sebagai seorang manusia yang memiliki kapasitas serta tenaga yang berbeda-beda, tentu sangat lumrah bagi seseorang untuk merasakan stres apabila mengalami suatu masalah yang melampaui kapasitas diri.

Read More

Stres adalah reaksi yang diberikan oleh tubuh ketika dihadapkan dengan sebuah ancaman atau tekanan. Ada dua faktor yang mempengaruhi stres ini, yaitu faktor internal dan eksternal.

Stres yang dipengaruhi oleh faktor internal adalah stres yang berasal dari diri sendiri, seperti berekspetasi berlebihan pada diri sendiri sehingga diri sendiri ikut terbebani. Sedangkan stres yang dipengaruhi oleh faktor eksternal berasal dari luar, baik dari lingkungan sekitar, masalah sehari-hari, pengalaman, dan lain-lain.

Dikutip dari buku Loving Wounded Soul karya Regis Machdy pada tahun 2019 bahwa dalam literatur psikologi, stres sebenarnya dibagi menjadi dua jenis, yaitu eustress dan distress. Eustress adalah stres yang sifatnya positif dan membuat diri menjadi lebih tangguh, sedangkan distress adalah stres yang bersifat negatif dan membuat kita merasa tidak berdaya dan bisa berdampak pada kesehatan fisik dan mental.

Mengapa hanya eustress yang bersifat positif? Nyatanya, eustress membuat seseorang menjadi lebih produktif karena yang bersangkutan akan merasa tertantang dan termotivasi ketika dihadapi dengan sebuah tekanan, dan juga eustress tidak muncul karena rasa tertekan atau rasa takut.

Contoh yang sering kita lihat di kehidupan sehari-hari mungkin ketika menjelang ujian, seseorang akan merasa tertekan karena diberi berbagai macam bentuk tugas ujian dan tidak ingin mendapat nilai yang buruk, maka dari itu ia mempersiapkan dirinya dari jauh-jauh hari dan belajar dengan giat serta menjadi termotivasi untuk mengerjakan berbagai macam bentuk tugas ujian tersebut.

Contoh lainnya juga dapat dilihat ketika seseorang diharuskan untuk menjadi public speaker di sebuah event besar, orang tersebut akan tertantang untuk melakukannya dengan baik sehingga ia berlatih dari jauh-jauh hari agar dapat melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Maka dari itu, eustress penting untuk memberikan energi positif serta motivasi pada diri sendiri.

Sedangkan distress adalah kebalikannya, yaitu bersifat negatif dan membuat tidak nyaman serta sedih. Distress bisa disebabkan karena pengalaman traumatis, masalah yang menumpuk, atau ketika seseorang dihadapkan pada sebuah perubahan yang terjadi secara tiba-tiba sehingga muncul rasa tertekan.

Contohnya, ketika seseorang bekerja di suatu perusahaan dengan jabatan yang biasa saja dan secara tiba-tiba di-PHK tanpa kejelasan, hal itu dapat memicu distress karena yang bersangkutan akan bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang salah pada dirinya dan mulai meragukan kualitas dirinya sendiri yang kemudian berujung pada stres dan hancurnya kepercayaan diri.

Perlu diketahui bahwa eustress yang bersifat positif juga dapat berubah menjadi distress apabila terlalu sering eustress. Maksudnya, ketika seseorang terlalu sering menantang diri sendiri atau eustress secara berlebihan maka sama saja dengan ia menumpuk stres yang ia miliki sehingga itu dapat memperburuk kesehatan mental.

Contohnya, ketika seseorang sedang sibuk dengan organisasinya, kemudian ia ditawarkan untuk menjadi narasumber sebuah webinar dan harus menyusun materinya sendiri, sementara ia memiliki tugas akhir yang deadline-nya sehari sebelum webinar tersebut dilaksanakan.

Kapasitas masing-masing manusia tentunya berbeda-beda, jadi walaupun orang tersebut memiliki tenaga yang besar dan tertantang untuk melakukan ketiga hal tersebut di saat yang bersamaan, pastinya tetap ada rasa kewalahan yang nantinya justru bisa mengubah eustress tadi menjadi distress, atau bahkan merambah menjadi penyakit lain.

Hal inilah yang mengharuskan kita untuk tidak gegabah dan terburu-buru dalam melakukan sesuatu hanya karena merasa sanggup melakukan segalanya dalam satu waktu.

Untuk distress, cara menanganinya bermacam-macam. Bisa dengan berbicara dengan orang terdekat yang dapat dipercaya, melakukan me time, atau istirahat dan tidur dengan cukup agar stres tersebut berangsur-angsur menghilang.

Distress juga dapat diubah menjadi eustress dengan cara mengubah pola pikir mengenai hal yang dianggap negatif atau mengancam. Hal yang mengancam ini biasanya menimbulkan rasa takut dan tertekan atau overthinking dan dianjurkan untuk merubah pola pikir tentang hal yang sekiranya dapat menimbulkan rasa cemas agar dapat membantu mengurangi distress.

Memfokuskan diri pada poin positif dari hal yang membuat cemas dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan juga dapat membuat diri sendiri menjadi lebih optimis dalam menghadapi tantangan tersebut.

Maka dari itu, dengan mengetahui perbedaan antara eustress dan distress serta penanganan bagi kedua jenis stres tersebut dapat mempermudah diri kita dalam mengatasi stres akibat masalah yang sedang dialami dan meminimalisir perasaan tertekan tersebut tanpa harus memaksakan diri untuk baik-baik saja.

/* Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Andalas,

Related posts