Mengenal Randai sebagai Permainan Tradisional Minangkabau

  • Whatsapp
Randai
Sejumlah orang bermain Randai (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Lhara Prosa

Randai adalah salah satu permainan tradisional di Minangkabau yang dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran, kemudian melangkahkan kaki secara perlahan, sambil menyampaikan cerita dalam bentuk nyanyian secara berganti-gantian. Randai menggabungkan seni lagu, musik, tari, drama dan silat menjadi satu.
Pada zaman dulu, randai menjadi salah satu sarana untuk membantu komunikasi pesan penting untuk masyarakat dan penduduk Minangkabau setempat.

Read More

Randai sendiri berasal dari sebuah kata yaitu merandai/malinka yang mempunyai arti membentuk lingkaran. Makna lain dari kata randai adalah ber(h)andai yang artinya berkeinginan, bertutur dengan menggunakan kalimat-kalimat kiasan atau kata-kata yang samar (Ediruslan Pe Amanriza dan Hasan Junus, 1993: 111).

Pada masanya semua pemeran dalam teater Randai adalah laki-laki. Bila ada tokoh perempuan dalam cerita, maka akan dimainkan oleh laki-laki. Pemeran tokoh wanita dipilih menurut bentuk fisik. Pemeran tokoh wanita haruslah terlihat catik ketika memerankan tokoh tersebut. Laki-laki yang memerankan tokoh wanita bukanlah waria, pada saat berdialogpun tidak merubah suaranya menjadi suara perempuan, tapi kostum dan riasnya adalah perempuan. Pemeran tokoh perempuan biasanya menjadi primadona dalam pertunjukan Randai, namun pada perkembangannya Randai dapat dimainkan oleh segala kalangan.

Sumber cerita atau kisah yang diangkat adalah kaba/cerita rakyat yang lama hidup dalam masyarakat Minang yang bertemakan budi pekerti, malu, susila, pendidikan dan menanamkan kesadaran berbangsa. Salah satu Kaba yang terkenal adalah Kaba Anggun Nan Tonga Magek Jabang yang dianggap sebagai puncak dari semua kaba. Randai dipimpin oleh satu orang yang biasa disebut panggoreh, yang mana selain ikut serta bergerak dalam legaran ia juga memiliki tugas yaitu mengeluarkan teriakan khas misalnya hep tah tih yang tujuannya untuk menentukan cepat atau lambatnya tempo gerakan seiring dengan dendang atau Gurindam. Tujuannya agar Randai yang dimainkan terlihat rempak dan seirama. Biasanya dalam satu group Randai memiliki satu panggoreh yang dipercayai oleh seluruh anggota tim, tetapi bisa digantikan oleh rekan tim lainya apabila panggoreh sebelumnya kelelahan, karena untuk menuntaskan satu cerita Randai saja bisa menghabiskan 1 hingga 5 jam bahkan lebih. Cerita randai biasanya diambil dari kenyataan hidup yang ada di tengah masyarakat.

Fungsi Randai sendiri adalah sebagai seni pertunjukan hiburan yang didalamnya juga disampaikan pesan dan nasihat. Semua gerakan randai dituntun oleh aba-aba salah seorang di antaranya, yang disebut dengan janang.

Alur Cerita Dalam Randai

Dalam pertunjukan randai, cerita-cerita dikisahkan secara periodik dengan alur maju, dimana cerita dibagi menjadi beberapa bagian, setiap bagian terbagi atas beberapa adegan atau legaran dan setiap adegan menampilkan dialog-dialog antar pelaku. Dialog tersebut diselipi dengan nasihat, kritik sosial, dan humor. Diantara adegan tersebut di tampilkan dendang dengan diiringi tari berikut:

1. Dendang, nyanyian atau Simaratang: Pada mulanya alur cerita dalam randai dilakukan lewat nyanyian, sajak, yang berfungsi untuk menceritakan isi cerita yang akan ditampilkan.

2. Dayang Dayni atau gurindam persembahan: setelah selesai Simaratang lalu mereka duduk jengkang dalam lingkaran, lalu terdengar suara gurindam bersahut-sahutan. Gurindam persembahan (Dayang Dayni) dalam randai merupakan persembahan sebagai salam kepada penonton dan pertanda randai di mulai. Merupakan salam anak randai dalam gelombang. Gelombang Pemain berdiri dalam posisi pitunggua serong (sikap pasang kuda-kuda). Setelah lingkaran terbentuk, maka adegan randai siap dimainkan. Para pemain menari di sekeliling lingkaran sambil bernyanyi dan bertepuk ke tengah lingkaran serta memukul pisak kaki celana dengan kuat.

3. Titik puncak terjadinya klimaks randai adalah pada saat adegan konflik antara tokoh yang membawa kebenaran dengan tokoh yang menentang kebenaran. Adekan selanjutnya adalah bagian penyelesaian.

4. Simarantang tinggi atau gurindam penutup: Dendang yang disampaikan untuk menutup cerita. Alur cerita tersebut tertata secara teratur mulai dari awal sampai akhir sehingga penonton dapat lebih mudah memahami pesan atau makna yang mendalam dalam setiap bagiannya.

/* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Andalas, Fakultas Ilmu Budaya, Sastra Minangkabau.

Related posts