Mengenal Sejarah Berdirinya Museum Rumah Adat Nan Baanjuang di Kota Bukittinggi

MINANGKABAUNEWS.COM, BUKITTINGGI – Museum ‘Rumah Adat nan Baanjuang’ di Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi dibangun pada tahun 1935 oleh Pemerintah Belanda. Fungsinya bukan sebagai rumah tapi sebagai museum yang lebih dikenal dengan rumah adat.

“Rumah adat itu Lareh Kota Piliang karena ujung-ujungnya di dalam itu tinggi,” ujar Kabid Kebudayaan Disdikbud Bukittinggi kepada Minangkabaunewscom diruang kerjanya, Selasa (24/5/2022).

Read More

Mul Akhiar menjelaskan, yang belum tersingkap waktu itu setelah ada konfirmasi dari pihak belanda, bangunan rumah adat minang itu, orang tidak tahu karena tidak pernah diturunkan filosofinya, Kenapa rumah adat itu begitu curam atapnya, kenapa pakai sandi, dan kenapa tiangnya miring?

“Artinya konstruksi orang minang dahulu itu penuh dengan filosofi” Alam Takambang Dijadikan Guru”, karena di Sumatra Barat kita punya gunung api,” jelasnya.

Ia menambahkan, gunung api itu mencurahkan abu vulkanis, kalau atap rumah itu landai dia akan menumpuk seperti juga dengan curah hujan yang tinggi, dia akan cepat turun kebawah.

Lanjut Mul Akhiar, Kenapa tiang itu miring dari ujung ke ujung? Itu adalah untuk melawan gravitasi kekuatan gempa. Makanya rumah adat dari dahulu itu, tidak pernah telapak tiangnya itu disemen. Hanya diletakkan batu yang sifatnya datar, asal ada gempa, dia cuma bergoyang dan bergeser-geser, tidak pernah satupun paku dari besi yang menempel di rumah gadang.

“Artinya sebuah rumah adat nan baanjuang itu sangat tinggi filosofinya, karena masih banyak yang belum kita dalami, hanya saat ini kita menerima apa adanya,” imbuh Kabid Kebudayaan Kota Bukittinggi ini.

Mul Akhiar menyebutkan, ahli konstruksi di luar negeri pun bingung, ini rumah tanpa coran, tanpa paku lebih kuat dari rumah permanen.

“Seberapapun besar gempa, namun rumah gadang kita tidak akan pernah runtuh, kita perlu mempelajari lebih dalam, disatu sisi saya sebagai Kabid Kebudayaan dan penghulu niniak mamak memperbanyak belajar tentang rumah adat nan baanjuang,” sebut Mul Akhiar mengakhiri ucapannya.

Related posts