Mengenal Tradisi Maasok Anak di Nagari Padang Laweh, Batusangkar

  • Whatsapp

Oleh : Tazsya Putri Selindra

Indonesia adalah Negara kesatuan yang terdiri dari ribuan pulau, memiliki berbagai macam etnis salah satunya Minangkabau yang terletak di Sumatra Barat. Berbeda dengan kebanyakan etnis lainnya, di Minangkabau kaya akan adat istiadat dan budayanya, bahkan masing-masing daerah memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari kesenian, permainan tradisional, hingga prosesi adat tertentu. Di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar memiliki tradisi yang unik dan masih eksis hingga saat ini yaitu Tradisi Maasok Anak.

Read More

Tradisi Maasok Anak ini mungkin hampir sama dengan tradisi turun mandi pada umumnya yang dilakukan di beberapa daerah di Minangkabau. Maasok Anak atau turun mandi adalah salah satu upacara adat Minangkabau yang masih lestari sampai saat ini. Tradisi ini merupakan upacara yang dilaksanakan untuk mensyukuri nikmat atas kelahiran seorang bayi. Tradisi ini dilakukan sejak berabad-abad yang lalu. Tradisi Maasok Anak merupakan suatu warisan dari nenek moyang yang sudah berusia kurang lebih ratusan tahun silam. Tradisi ini diwariskan langsung dari nenek moyang kepada warga Nagari Padang Laweh secara turun-temurun dari generasi hingga ke generasi sampai saat ini.

Tujuan dilakukannya Tradisi Maasok Anak ini adalah untuk memberitahu warga sekitar bahwa telah lahir anak dari keturunan baru atau keluarga tertentu di daerah tersbut. Selain itu, upacara dari tradisi ini juga menjadi momen pertama kali bagi ibu Sang Bayi untuk keluar rumah pasca pemulihan setelah proses melahirkan.

Tradisi maasokan anak sama dengan tradisi turun mandi pada umumnya, hanya saja di Nagari Padang Laweh, Batu Sangka ini mempunyai keunikan tersendiri dalam melaksanakan tradisi tersebut. Tahap-tahap yang dilakukan tradisi ini hampir sama dengan tradisi turun mandi pada umumnya yang dilakukan di beberapa daerah di Minangkabau.

Tradisi maasokan anak ini adalah membawa anak turun dari rumah dan diarak ke tempat pemandian atau sumber air, dengan maksud memperkenalkan si anak dengan lingkungannya. Saat acara ini berlangsung, hantaran yang di bawa keluarga ayah atau bako adalah beras dan balango (kendi yang terbuat dari tanah liat) guna untuk membawa padi ke rumah si anak dan sebagai alat untuk memandikan si anak di tempat pemandian.

Tradisi ini tidak dilakukan oleh sembarang orang, hanya orang pandai di daerah tersebut yang dipercayai untuk melakukan pengasapan anak ini. Pengasapan menggunakan kulit buah kelapa dan kemenyan. Setelah melakukan acara ini, anak diberi tanda dengan mengikatkan benang 7 macam yang telah dijalin atau masyarakat di sini menyebutnya dengan benang pinyano yang di dalamnya di kaitkan kunyit. Masyarakat mempercayai jika tradisi ini tidak dilakukan akan berdampak kepada si anak, anak akan sakit dan diganggu oleh roh-roh jahat.

Sebelum si bayi melakukan Tradisi tersebut,  ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dan diperhitungkan, yaitu untuk hari pelaksanaan turun mandi. Apabila bayi berjenis kelamin laki-laki, maka acara turun mandinya dilaksanakan pada hari ganjil, Namun apabila bayinya perempuan maka hari turun mandinya adalah hari genap yang dihitung dari hari kelahiran Si Bayi.

Selain itu, tradisi Maasok Anak juga memiliki beberapa syarat dan bahan. Meski beberapa Nagari di Minangkabau memiliki syarat yang berbeda-beda dalam menggelar Tradisi Maasok Anak ini, namun pada dasarnya tata cara, syarat-syarat dan bahan turun mandi secara umum tetaplah sama akan tetapi ada sedikit yang berbeda yaitu, upacara turun mandi harus dilaksanakan di sungai atau mata air, atau orang Minang menyebutnya dengan batang aia (batang air). Pada pelaksanaan ini si bayi diarak beramai-ramai dari rumahnya ke mata air.

Untuk prosesinya menyediakan batiah bareh badulang, yaitu beras yang digoreng. Batiah ini nantinya dibagikan kepada anak-anak kecil yang mengikuti upacara turun mandi. Tujuannya adalah sebagai ucapan terima kasih sekaligus memperkenalkan diri si bayi sebagai bagian dari anak-anak tersebut.

Selanjutnya menyediakan sigi kain buruak, yaitu kain yang terbuat dari kain-kain yang telah robek. Sigi ini nantinya akan dibakar dari rumah, kemudian dibawa ke sungai tempat si bayi akan dimandikan. Sigi kain buruak ini memiliki makna tidak ada satu pun yang bisa menghambat si bayi untuk menuntut dan mendapatkan ilmu di masa depannya. Dalam upacara turun mandi juga harus menyediakan tampang karambia tumbuah atau bibit kelapa siap tanam. Bibit kelapa ini akan dihanyutkan di sungai dari atas, lalu ditangkap oleh ibunya setelah bibit kelapa tersebut mendekati anak, kemudian saat pulang, bibit kelapa ini akan ditanam yang nantinya akan menjadi bekal hidup bagi si anak.

Menyediakan tangguak (tangguk), yaitu alat yang digunakan untuk menangkap ikan. Tangguak ini melambangkan bekal ekonomi si bayi di masa yang akan datang. Selain itu, juga untuk meletakkan batu yang diambil dari sungai sebanyak tujuh buah. Kemudian ketujuh batu tersebut bersama tampang karambia (bibit kelapa) akan dibawa pulang. Nah, batu-batu inilah yang nantinya akan dimasukkan ke dalam lubang tempat karambia (kelapa) itu ditanam.

Menyediakan palo nasi, yaitu nasi yang terletak paling atas dan dilumuri dengan arang serta darah ayam. Tujuannya adalah untuk mengusir roh jahat atau makluk halus yang ingin mengganggu upacara turun mandi ini. Palo nasi disiapkan sebanyak tiga cawan, yang nanti dua cawan diletakkan di jalan menuju sungai tempat mandi dan yang lainnya ikut dibawa ke sungai tempat upacara turun mandi berlangsung.

Menyediakan beras dan balango (kendi yang terbuat dari tanah liat) guna untuk membawa padi ke rumah si anak dan sebagainya alat untuk memandikan si anak di tempat pemandian. Yang membawa beras dan balango ini yaitu bako dari si bayi tersebut.

Selanjutnya serabut atau kulit buah kelapa dan kemenyan. Bahan ini adalah bahan utama untuk melakukan prosesi Maasok Anak. Ketika serabut dan kemenyan ini telah dibakar akan keluarlah asap asap, dan asap inilah yang diberikan kepada si anak. Yang melakukan pengasapan terhadap anak ini bukanlah sembarang orang ataupun orang tuanya, tetapi orang pandai yang dipercayai di kampung itulah yang melakukannya.

Terakhir benang pinyano atau benang tujuh macam. Setelah melakukan proses pengasapan si anak diberi tanda dengan mengikatkan benang 7 macam yang telah dijalin yang di dalamnya di kaitkan kunyit. Benang yang dikaitkan dengan kunyit tadi diikatkan ketubuh si bayi, yaitu ke pergelangan kedua tangan, pergelangan kedua kaki dan leher. Dan itu menandakan bahwa si anak telah melakukan prosesi turun mandi.

Setelah syarat dan proses turun mandi bayi selesai, si bayi dan ibunya akan diarak pulang diikuti oleh orang-orang yang  terlibat dalam proses acara turun mandi. Sesampainya di rumah, mereka akan mendapat jamuan yang berupa makanan dan minuman yang sudah disediakan oleh keluarga si bayi.

Penulis: Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Andalas.

 

Related posts