Mengenal Wisata Batu Basurek di Pariangan Sumatra Barat

  • Whatsapp

Oleh: Tazsya Putri Selindra

Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, yaitu keberagaman suku, agama, adat budaya, dan kondisi sosial di masing-masing daerah tentunya banyak menyimpan potensi yang unik untuk lebih meningkatkan pariwisata di daerahnya masing-masing. Khususnya di Propinsi Sumatra Barat, banyak sekali wisata yang belum terjamah pengembangnya.

Read More

Dengan memiliki wisata alam seperti danau, lembah, gunung, pantai, dan laut juga beragam budaya yang diiringi berbagai atraksi dan kearifan lokal yang spesifik. Salah satunya yaitu di Daerah Pariangan, Kabupaten Tanah Datar.

Di Pariangan terdapat wisata bersejarah yaitu Batu Basurek. Warga setempat menggunakan tempat wisata ini sebagai sumber penghasilan mereka yaitu membuka pemandian air panas disekitar lokasi batu.

Hingga saat ini, banyak warga setempat maupun dari luar kabupaten yang berkunjung ke daerah Pariangan tersebut. Nagari Tuo Pariangan juga dinobatkan sebagai desa terindah di dunia oleh Travel Budget sehingga menjadi bukti eksistensi wisata sejarah di Indonesia.

Terdapat 4 obyek lainnya yang juga populer diantaranya kuburan panjang, Masjid Ishlah, Batu Basurek dan Balai Saruang dimana sangat mempengaruhi exsistensi perkembangan wisata di Nagari Pariangan. Dengan kehadiran Pariwisata Kebudayaan ini menjadi keinginan untuk mengenal dan mempelajari adat istiadat, kelembagaan, dan tata cara hidup rakyat suatu daerah.

Batu basurek menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sangsekerta. Prasasti Pariangan ini ditemukan di tepi Sungai Mengkaweh yang mengalir dari kaki Gunung Marapi. Lokasi ini ada di sebelah Barat Kota Batu Sangkar.

Prasasti Pariangan ini ditemukan di tepi Sungai Mengkaweh yang mengalir dari kaki Gunung Marapi. Bahan batunya dari jenis trachyt, dengan ukuran tinggi 1,6m, lebar 2,6m, dan tebal 1,6 m.
Prasasti ini dipahatkan pada batu monolit non-artifisial berbentuk setengah lingkaran dengan tulisan berjumlah 6 baris. Aksara yang dipakai sama dengan aksara prasasti Adityawarman lainnya. Terdapat angka tahun yang sudah hangus, tetapi dapat terbaca dua angka yang di depan, yaitu 12. Kondisi prasasti ini sudah terlalu hangus, sehingga tidak memadai untuk dibahas lebih lanjut.

Pada masyarakat berikutnya Prasasti ini ada hubungan dengan Batu Lantak tiga (Batu ditancapkan berjumlah 3 buah). Batu Lantak 3 juga memilik hubungan dengan keberadaan 3 luak pada kajian budaya Minangkabau. Sedangkan referensi lain menyebutkan bahwa batu tersebut adalah salah satu bagian dari batu Prasasti Saruaso I, yang dikenal orang sebagai Batu Basurek atau batu yang bertulis. Nama Batu Basurek mempunyai tulisan-tulisan Jawa Kuno. Arti dari tulisan itu tidak jelas artinya, namun masyarakat meyakininya sebagai bukti sejarah Nagari Saruaso. Mitos Batu Basurek ini berfungsi sebagai alat pendidikan bagi masyarakat Nagari Saruaso. Melalui mitos ini berfungsi pula sebuah isyarat penting bahwa dalam masyarakat Nagari Saruaso ini membutuhkan adanya kontrol sejarah dan kontrol budaya terhadap tingkah laku mereka, agar terciptanya rasa solidaritas sosial yang baik.

/*Penulis: Mahasiswi Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.

Related posts