Menghidupkan Kembali Seni Pertunjukan Ulu Ambek yang Terancam Punah

  • Whatsapp

Oleh: Raditya Partama Yunanda

Seni Pertunjukan Ulu Ambek saat ini berada di masa tersulit dan menuju masa kepunahan jika tidak ada yang memainkan lagi. Masyarakat maupun pemerintah daerah harus lebih memperhatikan kesenian ini ditegah merabaknya kebudayaan dan kesenian baru yang lebih menarik perhatian masyarakat. Jika tidak, besar kemungkinan seni pertunjukan Ulu Ambek akan tergerus kepunahan dan orang-orang akan melupakan kesenian ini.

Read More

Seni pertunjukan Ulu Ambek memiliki beberapa makna, yakni alo ambek (berasal dari kata alau (halau) dan ambek (hambat), luambek (berasal dari kata lalu (lewat) dan ambek (hambat), ulue ambek (berasal dari kata ulue (julur) dan ambek (hambat), ulu ambek (berasal dari ulu (hulu) dan ambek (hambat). Dari semua makna diatas, makna Ulu Umbek mempunyai makna serangan dan tangkisan.

Kesenian Ulu Ambek merupakan kesenian gerakan silat yang berasal dari Kabupaten Padang Pariaman. Seni pertunjukan ini termasuk seni beladiri silat, tapi berbeda dengan silat pada umumnya. Pertunjukan atau pertarungan Ulu ambek ini lebih menyerupai pantonim persilatan, karena gerakan Ulu Ambek seperti serangan atau tangkisan tanpa adanya kontak fisik antara pemain.

Pertarungan Ulu ambek bukanlah sebuah pertarungan yang sembarangan, melainkan sebuah pertarungan beradat yang diklaim sebagai suntiang niniak mamak dan penghulu. Pertarungan ini diawasi oleh niniak mamak atau penghulu nagari yang sedang mengadakan pertunjukan alek nagari. Biasanya acara alek nagari mengadakan pertunjukan Ulu Ambek dalam penobatan penghulu atau acara adat lainnya.

Pada masa lalu, pertarungan Ulu Ambek biasanya dipertemukan dua Nagari atau perguruan silat yang berbeda yang sedang berkonflik. Pertarungan Ulu Ambek dijadikan sebuah penyelesaian konflik yang dilakukan antar Nagari tersebut tanpa kontak fisik, melainkan pertarungan saling serang dari kejauhan. Bagi kelompok yang kalah memang tidak mengalami luka secara fisik, tapi mereka akan kena buluih. Buluih ini adalah rasa malu yang akan diterima petarung yang kalah, mereka akan trauma dan takut jika melihat laga-laga atau semua hal yang berkaitan dengan Ulu Ambek.

Namun saat ini Indonesia sedang mengalami pandemi yang melarang seluruh aktivitas yang mengundang keramaian, itu berarti acara Alek Nagari dilarang atau mengurangi pengunjung yang datang ke acara ini, bahkan menunda acara Alek Nagari yang berarti Pertunjukan Ulu Ambek tidak ditampilkan untuk sementara waktu, sehingga memiliki risiko hilang dan punahnya pertunjukan Ulu Ambek karena tidak ada orang yang mengadakan pertunjukan ini lagi.

Kita sebagai penerus tradisi dan kebudayaan Indonesia sepatutnya mencari cara mengenai permasalahan ini, jangan sampai seni pertunjukan ini putus dan punah di tangan kita, seharusnya kita bisa mempertahankan bahkan memajukan kesenian ini supaya bisa lebih berkembang lagi.

Tapi permasalahan tersebut mungkin sedang diupayakan untuk kesuksesan Pertunjukan Ulu Ambek hingga dikenal oleh masyarakat luas. Seperti yang kita ketahui, Pusat Kebudayaan Minangkabau ingin memperkuat literasi tentang kesenian langka ini, dengan menggelar Kesenian Ulu Ambek yang diselenggarakan pada hari Minggu, 17 Oktober 2021 di Ladang Tari Nan Jombang Padang. Disana akan menampilkan pembicara dari peneliti Budaya Minangkabau yang akan membahas tentang Ulu Ambek.

Tentu itu menjadi kabar baik bagi kita semua, dengan perlahan tapi pasti kesenian ini kembali diangkat dan diperkenalkan ke kalangan luas demi meningkatkan eksistensi seni pertunjukan Ulu Ambek yang mulai berkembang supaya bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas di Indonesia bahkan bisa go Internasional.

/*Penulis Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.

Related posts