Menilik Konflik Manusia dengan Satwa Liar di Sumatera Barat

  • Whatsapp
Harimau Sumatera
Harimau Sumatera (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Nurmia Sari

Akhir akhir ini ada beberapa kasus konflik manusia dengan hewan liar. Seperti contoh kasus yang dipublikasikan oleh REPUBLIKA.co.id mengenai konflik manusia dengan satwa liar. Pada artikel tersebut tercatat terdapat 6 kasus mengenai konflik satwa liar dengan manusia di Sumatera barat. Hewan-hewan yang mengalami konflik tersebut antara lain Harimau, Buaya Muara dan Beruang. Berdasarkan penuturan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat Resor Agam Ade Putra mengatakan selama Januari 2021 lalu, tercatat 6 kasus konflik satwa liar yang dilindungi dengan manusia. Satwa yang terlibat seperti Harimau, Buaya Muara, dan BeruangMadu.

Read More

Dari enam kasus tersebut, diberitakan terdapat satu orang meninggal, dan beberapa hewan ternak warga mati dan terluka, yang diduga akibat serangan dari satwa liar tersebut.  Beberapa contoh dari 6 kasus tersebut seperti baru-baru ini terdapat  sebanyak 3 ekor kerbau milik warga di Sawah Liek Aia Rangek, Jorong Cubadak Lilin, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur, diduga dimangsa Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatera). Sebelumnya seorang warga Jorong Muaro Putuih, Nagari Tiku V Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara meninggal dunia karena diterkam buaya muara. Selain itu juga pada pertengahan Februari 2021 lalu, hewan ternak sapi milik warga, juga diduga dimangsa oleh buaya di Sungai Batang Antokan, Nagari Manggopoh. Selain itu, pada awal Maret lalu, di beberapa lokasi yang berbeda, buaya muara juga terlihat oleh warga, di sekitar wilayah Pantai Tiku, Nagari Tiku Selatan, Kecamatan Tanjung Mutiara. Jadi dari kasus tersebut siapa yang bisa kita salahkan? Manusia sendiri atau satwa liar tersebut?

Sebenarnya kasus-kasus tersebut bisa diminimalisir jika para petani, peternak maupun masyarakat sekitar berhati-hati dengan satwa-satwa liar yang ada di sekitar pemukiman atau perkebunan penduduk. Seperti adanya masyarakat yang diterkam buaya sebenarnya bisa dikembalikan pada diri kita sendiri, di mana seharusnya kita berhati-hati dalam berkegiatan disungai yang ada buaya-nya. Karena berhadapan dengan binatang buas tidak lah mudah, untuk itu kita harus berupaya melindungi diri. Selain itu untuk satwa liar yang menerkam bahkan memakan hewan ternak warga mungkin saja dikarenakan hewan tersebut kekurangan sumber daya alam yang dapat dimakan didalam hutan. Atau mungkin saja hewan tersebut tersesat sehingga memungkinkan dia memakan hewan ternak masyarakat.

Terdapat beberapa metode yang bisa dilakukan untuk mengusir hewan liar tersebut dari pemukiman dan ternak masyarakat seperti contohnya pada konflik manusia dengan harimau, tekniknya seperti membuat petasan yang terbuat dari tembakau dan belerang dan ditambahkan air sebagai bahan pembuat petasan tersebut yang berfungsi mengusir harimau apabila ada tanda-tanda mendekati pemukiman atau perkebunan warga. Selanjutnya misalkan contoh konflik gajah dan masyarakat. Teknik yang digunakan yaitu dengan penggunaan teknik gajah captive, dimana dalam hal ini digunakan gajah jinak untuk menggiring gajah yang terlibat konflik di pemukiman masyarakat untuk di tempatkan ke habitatnya. Selain itu pada konflik petani di sawah dengan burung dapat digunakan metode mitigasi satwa liar dengan pembuatan bunyi-bunyian untuk mengusir burung dari kaleng yang di isi batu, yang mana dapat berbunyi jika tertiup angin. biasanya juga tedapat tali dari jendela pondok atau rumah petani, dan saat burung mendekat, petani menarik tali tersebut dan akan muncul bunyi-bunyian dari kaleng tadi.

Selain itu satwa yang menyerang masyarakat dan hewan ternak beberapa merupakan satwa-satwa yang dilindungi. Bisa kita simpulkan bahwa ada yang salah dari cara konservasi dari hewan-hewan tersebut. Mungkin saja satwa tersebut mendekat ke pemukiman bahkan memangsa hewan ternak dikarenakan kekurangan sumber makanan didalam hutan, bahkan bisa saja sumber makanan nya habis akibat ulah manusia sendiri, atau bisa saja jarak habitat dan pemukiman warga yang terlalu dekat sehingga mereka bisa sampai ke pemukiman warga. Untuk itu sebelum melakukan konservasi ada beberapa metode yang harus dilakukan agar tujuan dari konservasi berjalan lancar dan satwa-satwa tersebut tetap survive dialam.

Berikut ini beberapa metode dan teknik yang digunakan dalam konservasi satwa liar pertama metode pengelolaan habitat, dilakukan dengan sensus satwa yang ingin dikonservasi, pelestarian dan perbaikan habitat. Kedua dengan metode pendidikan masyarakat, dilakukan dengan sosialisasi satwa dilindungi, mendirikan komunitas konservasi satwa. Ketiga perlindungan melalu legislasi, dengan membuat perundang-undangan pengelolaan satwa liar, membuat hukum untuk oknum penangkap satwa liar yang dilindungi. Terakhir, metode pembangunan kawasan konservasi, dilakukan membangun cagar alam, membangun suaka margasatwa, agar satwa tidak menggang masyarakat sekitarnya

Dengan beberapa metode tersebut kita berharap tidak ada lagi terjadi kasus konflik antara satwa liar dengan masyarakat, dan satwa-satwa tersebut dapat hidup dengan baik dan tetap survive dialam tanpa menggangu kehidupan masyarakat disekitar nya. Jadi kita tidak bisa menyalahkan manusia yang ceroboh dalam beraktivitas sehari-hari dan lalai dalam mengelola konservasi, ataupun hewan yang telah meresahkan masyarakat, hanya saja mungkin terdapat beberapa pengetahuan serta cara-cara yang perlu kita tingkatkan lagi untuk mengelola konservasi satwa liar agar tidak berdampak pada masyarakat. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Program Studi S-1 Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.

Related posts