Menilik Makna Puisi Anti Perang berjudul “Homecoming” Karya Bruce Dawe

Donald Bruce Dawe, penyair berpengaruh asal Australia

SASTRA – Donald Bruce Dawe, biasa dikenal dengan nama Bruce Dawe, adalah seorang penyair berpengaruh yang berasal dari Australia. Ia lahir di kota Fitzroypada 15 Februari 1930 dan meninggal pada usia 90 tahun pada 1 April 2020. Bruce Dawe dibesarkan di Victoria dan bekerja di Sydney sebelum mengajar di beberapa universitas di Queensland. Ia menulis fiksi, mengedit antologi puisi Dimension, dan menulis Speak in Parables selain menerbitkan banyak koleksi puisi.

Selain dikenal sebagai penyair terkemuka di Australian, Dawe juga dikenang sebagai pendidik yang luar biasa. Selama hidupnya, ia menerima banyak penghargaan sastra. Hingga kini, karya-karyanya banyak dipelajari di sekolah menengah, khususnya di Australia.

Penghargaan-penghargaan yang telah diterima oleh Bruce Dawe yaitu : Office ofthe Order of Australia (1992), Patrick White Literary Award (1980), Christopher Brennan Award (1984), dan Dame Mary Gilmore Medal (1973).

Dawe adalah penulis banyak jilid puisi, beberapa diantaranya adalah Mortal Instruments Poems 1990-1995, yang merupakan jilid terakhirnya, dan Sometimes Gladness Collected Poems 1954-1997, yang diterbitkan oleh Addison Wesley Longman.

“Penguasaannya dalam bahasa Australia tak tertandingi, dan popularitasnya di kalangan masyarakat membaca tiada taranya,” kata Geordie Williamson, seorang kritikus sastra Australia.

“Ini adalah akhir dari sebuah era dalam penulisan Australia,” kata penyair Australia Barat John Kinsella saat diwawancarai pasca kematian Bruce Dawe. Kinsella menambahkan, “Dia mengajari banyak dari kita bahwa puisi memiliki peran dalam masyarakat, bahwa itu bukan hiburan atau dekorasi tetapi bagian dari percakapan kehidupan,”tambahnya.

Karya-karya Dawe dikenal karena cara-caranya mengekspresikan drama dan keindahan kehidupan sehari-hari. Sebagian besar karyanya didasarkan pada pengalamannya sebagai warga negara Australia biasa dari waktu ke waktu dan peristiwa sejarah yang ia lalui seperti perubahan masa kerusuhan sosial, konsumerisme, dan feminisme.

“Puisi-puisi Dawe cukup nyata untuk berbicara denganmu dengan satu tangan di atas bahumu, atau duduk di sampingmu, mengundangmu untuk melihat bersama mereka apa yang sedang dilakukan seluruh ciptaan terkutuk ini sekarang”, kata Kevin John Brophy seorang pemerhati seni. Dalam salah satu artikelnya, dia mengungkapkan bahwa karya-karya Dawe terasa seolah-olah berinteraksi dengan pembaca.

Salah satu puisi anti-perang Dawe yang terkenal yaitu “Homecoming” adalah puisi dramatis sebagai bentuk penolakan terhadap Perang Vietnam yang berlangsung pada 1955-1975. Puisi ini ditulis dengan nada negatif dan konfrontatif. Seluruh puisi menyampaikan bahwa perang ini tidak ada gunanya dan menyia-nyiakan banyak nyawa manusia. Dia menulis puisi ini pada tahun 1968 melihat bahwa banyak orang Australia tewas pada waktu itu.

Dalam Homecoming, Dawe mengungkapkan rasa hormatnya atas kembalinya jenazah tentara-tentara muda Australia yang tewas dalam perang. Selain itu, Ia juga mengungkapkan rasa kasihannya atas kurangnya rasa hormat terhadap tentara-tentara tersebut karena sebagian besar dari mereka tidak diketahui identitasnya.

Bruce Dawe menggunakan teknik ironi dalam Homecoming. Hal-hal yang biasanya terlintas dalam pikiran terkait kata Homecoming adalah pulang ke kampung halaman dengan kemenangan, adanya perayaan, dan kejayaan.

Namun Homecoming yang di maksud pada puisi ini adalah tindakan memulangkan jenazah tanpa identitas. Bertentangan dengan apa yang seharusnya, suasana yang ditampilkan adalah kematian, kehilangan, dan kesedihan.

Meskipun tidak dibagi menjadi beberapa bait, kita dapat dengan jelas membagi puisi ini menjadi tiga bagian utama. Bagian-bagian tersebut yaitu; pengumpulan mayat di hutan Saigon, penerbangan kembali ke Australia untuk tentara yang tewas, dan mayat-mayat yang dikembalikan ke rumah.

Bagian pembuka puisi menggambarkan bagaimana mayat para prajurit dibawa pulang dari medan perang. Dalam dua baris pertama, Dawe menggunakan pengulangan untuk menekankan bahwa mayat yang ditemukan dibawa kembali ke tempat asalnya.

Dawe menerapkan pengulangan untuk “they” dan “they’re”. Hal ini menyiratkan bahwa ada hubungan impersonal antara mayat-mayat dan pengurus mereka. Dawe menunjukkan kenyataan pahit perang di bagian ini.

Penyair sastra Australia ini bahkan menunjukkan betapa tidak berharganya perjuangan dan bahkan nyawa para prajurit. Mereka tidak memiliki identitas. Mereka hanya dimasukkan ke dalam kantong plastik hijau, melambangkan bahwa tidak ada perbedaan di antara mereka, hanya orang-orang tak bernyawa yang siapdipulangkanke kampung mereka.

Pada baris berikutnya, ia menggambarkan mayat-mayat tersebut sebagai “curlyheads, kinky-hairs, crew-cuts, balding non-coms”. Ungkapan ini menekankan bagaimana para pejuang tidak lagi memiliki identitas, hanya kategori-kategori yang tidak berarti.

Dawe pada baris berikutnya menggambarkan mayat-mayat yang dibawa ke tempat yang tinggi yang berarti berpulang ke surga. Kita dapat menemukan ini pada bagian “they” rehigh, now, highandhigher, over theland, the steaming chowmein, theirshadows are tracing the blue curve of the Pacific”.

Menjelang akhir Homecoming, penyair menggambarkan bagaimana kembalinya para prajurit yang gugur tidak dihormati. Pada tahun 1960-an dan 70-an, ketika para prajurit yang gugur tersebut kembali dari perang, mereka tidak diterima dengan baik. Jangankan dengan parade, mereka bahkan tidak disambut dengan hangat, tetapi dengan protes. Mereka baru dihormati ketika sebagian besar orang yang bergabung dengan komunitas anti-perang. Hal ini ditunjukkan pada baris “on to small towns where dogs in the frozen sunset raise muzzles in mute salute,”

Ardhika Nurhandi, salah satu mahasiswa Sastra Inggris Universitas Andalas memiliki pandangan terhadap baris “telegramstremblelikeleavesfrom a winteringtree”. Ia berpendapat bahwa baris tersebut adalah sebuah bentuk personifikasi yang menggambarkan banyaknya telegram yang dikirim pada keluarga pasukan untuk mengambarkan kematian mereka.

“Pohon di musim dingin di sini melambangkan banyaknya prajurit yang gugur saat perang,” terang Andhika.

Sementara itu untuk ungkapan terakhir dari puisi, “toolate, tooearly”, adalah pernyataan yang kontradiktif. Penafsiran kata-kata ini diserahkan kepada pembaca, tergantung bagaimana memaknainya.

Menurut Alifia Ikhvan, salah satu mahasiswi Sastra Inggris Universitas Andalas, ungkapan toolate, tooearly berarti ”Para prajurit akhirnya tiba di rumah tetapi sudah terlambat karena mereka sudah tewas dan terlalu dini karena mereka tidak menyelesaikan tugas mereka dan hidup mereka benar-benar tidak terpenuhi.

Bruce Dawe dalam puisinya Homecoming adalah salah satu contoh bahwa kita dapat mengekspresikan situasi atau peristiwa apa pun ke dalam sebuah karya sastra dengan menggunakan unsur-unsur sastra untuk membentuk sebuah karya yang bermakna.

Oleh : Nadiyah Shabrina Subhan dan Ferdinal
Penulis adalah Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Andalas

Related posts