Menilik Pelayanan di RSUD Bukittinggi bersama dr. Vera Maya Sari di Masa PPKM

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.COM, BUKITTINGGI – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bukittinggi mulai beroperasional pada Februari 2021 sesuai dengan izin operasional 2 Februari sudah keluar.

“Pada 5 Februari 2021, kita sudah mulai melakukan kegiatan awal adalah Vaksinasi untuk pimpinan daerah, itu moment pertama kita membuka layanan di RSUD,” ujar Plt. Dirut RSUD Kota Bukittinggi, dr. Vera Maya Sari saat ditemui Minangkabaunewscom diruang kerjanya.

Read More

Kasus mulai naik kembali, ketika waktu itu sampai pertengahan Maret 2021 lalu, kasus kita state, angka kematian kita masih 19, namun pertengahan Maret sampai saat ini, kita dikejutkan bertubi -tubi bahwa kematian kita juga cukup tinggi, dan angka pasien dirawat juga cukup tinggi.

“Pada bulan Maret itu kami memutuskan membuka ruang pelayanan Covid-19 di lt. III, untuk ruangan isolasi khusus Covid, tapi kami tidak mengira bahwa kondisi saat ini sangat berat sekali,” jelas ASN lulusan Universitas Padjajaran ini. Jum’at (30/7/2021).

” Jadi dari rencana kita hanya 12 Bad=bed dari Maret – April itu didalam ruangan Covid tersebut, ada empat bed ruangan isolasi dan delapan bed di ruangan lain (ruangan biasa). Namun pada saat ini kami, seminggu yang lalu terpaksa buka satu lt.lagi, karena kondisi sekarang di lt.1 yang tadi baru diprediksi baru 12, kemarin sekitar empat hari yang lalu itu sempat penuh 29 bed, sehingga pasien masih menumpuk dibawah,” terang ibu tiga orang anak ini.

“Dimana kita ketahui saat ini, memang semua kesulitan karena tempat tidur ditambah, tenaga kita memang sangat sulit sekali,” tutur dokter muda yang dikenal ramah ini.

Vera lebih lanjut mengatakan, jadi ada beberapa keputusan dari beberapa rumah sakit yang ada di sekitar Kota Bukittinggi antara lain; rumah sakit Yarsi, rumah sakit Tentara, rumah sakit Stroke/RSOMH, dan RSAM Bukittinggi.

Dimana kita sama-sama tau, RSAM Bukittinggi dulu sempat mengalokasikan bed yang banyak, namun karena tenaga mereka tidak mencukupi sehingga mereka tidak bisa menambah kapasitas tempat tidur.

“Kami memberanikan diri membuka setelah berkonsultasi dengan pimpinan, karena banyaknya warga kita yang ditolak oleh rumah sakit lain dengan kondisi memang saat itu saturasinya juga tidak bagus, bahkan yang cukup mengejutkan dalam dua minggu terakhir ini, pasien kita yang isolasi mandiri pada hari ke-5 terjadi pemburukan,” ucap perempuan kelahiran Kota Padang ini.

“Memang strend ini sangat berbeda dengan strend kita tahun lalu, dimana biasanya pasien kita dengan kondisi aman kita isomankan sampai sembuh memang masih di rumah dan beberapa pasien saja yang kami antarkan kekarantina Baso dan sedikit sekali yang kami antar ke RSAM dan meninggal di RSAM,” imbuh dr. Vera dengan wajah yang penuh semangat.

“Namun untuk saat ini, tiap hari kami mendapatkan pasien yang Isoman baik sekarang, dimulai tidak lagi di usia tua, mungkin 2 atau 3 bulan yang lalu, kita masih mengatakan yang kena diatas usia 60 tahun, bulan kemarin turun di posisi 50 tahun, dan 2 minggu ini di usia diatas 40 tahun sudah banyak yang meninggal,” sambung Wanita lulus Magister Manajemen STIE Agus Salim ini.

“Juga kemarin kami merujuk salah satu nakes kita, dokter di praktek swasta masuk dengan hamil delapan bulan, waktu itu sesak sudah mulai ada perbaikan, namun tiba-tiba memburuk lagi, dan kita sudah rujuk ke Rs. M.Jamil kemarin, mudah-mudahan aman,” ungkap wanita yang bersuamikan dokter spesialis kandungan ini.

Dirinya menyimpulkan, Sumatera Barat sedang dalam kondisi darurat menurut saya sebenarnya , darurat bahwa angka kematian kita tidak bisa kita prediksi, jadi transmisinya sudah kemana- mana, angka kematian melonjak secara drastis.

“Mungkin dipelayanan kami di rumah sakit saat ini, karena kita dari awal tidak mempersiapkan rumah sakit kita untuk rujukan Covid, karena kita tahu, rujuk covid-19 awalnya sudah ditunjuk oleh Pemerintah,” kata wanita lulus kedokteran Unand Padang ini.

Untuk daerah Bukittinggi itu sudah ada RSAM Bukittinggi, sehingga dari awal perencanaan rumah sakit tahun lalu kita tidak membelikan alat- alat yang berurusan dengan Covid, mungkin kita kenal dengan Haighflow oksigen (Hfnc) , itu kita tidak ada, ventilator kita beli cuma satu, karena rumah sakit kita baru tipe- C, ventilator yang satu itu untuk pasien umum bukan pasien Covid-19.

“Pada kenyataan dengan kondisi sangat berat saat ini, kita harus menyediakan alat alat yang bisa mensupport oksigenasi dari pasien, mungkin mudah- mudahan dalam Agustus ini, RSUD memang kami tidak sanggup beli ventilator banyak, kenapa? karena tenaga kami tidak ada yang ahli disana, karena kita tidak dipersiapkan untuk seperti itu, dan dokter Anestesi kami hanya satu, tidak mungkin beliau operasi juga, kemudian di ICU untuk menangani hal itu, harus membagikan diri tidak kuatlah menurut kita,” terang dr. Vera dan juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi ini.

Pihak rumah sakit akan membeli, mudah-mudahan akan datang enam buah Hfnc , alat ini memang kontra versi, dia merupakan alat yang bisa membantu memperbaiki saturasinya dari oksigen dari pasien, namun dia sangat boros oksigen.

“Ketika pasien kita memburuk, karena kami tidak memiliki alat yang canggih, itu sangat susah sekali mendapatkan penanganan lebih lanjut, sesuai dengan rujukan tersier kerumah sakit tipe B atau rumah sakit tipe A seperti rumah sakit M. Jamil, rumah sakit tipe B seperti RSAM. Untuk yang banyak Ventilator di Padang itu seperti M.Jamil, Rs.Unand dan Rs. Rasyidin karena memang dia ditunjuk waktu itu, tahun lalu, namun semua itu full, betapa sulitnya sehingga kami hanya bisa memberikan, berikhtiar bersama pasien dengan memberikan Obat-obatan dan oksigen MRM sebanyak 15 liter/menit,” papar dr. Vera dengan nada optimis.

Dirinya mengatakan, kita belum telat meskipun angka kematian kita saat ini tinggi, kemudian angka positif kita juga tinggi, tapi jangan kendorlah, mungkin ada juga yang sudah merasa letih, lemah dan bosan dengan kondisi saat ini, tapi sampai kapan ya? kita tidak bicara takdir, tidak bicara kematian itu sudah ada di dalam lokus masing-masing.

“Ketika kami melihat warga kita yang dirawat dengan kondisi sesak yang berat, sementara alat bantu nafas seperti Hfnc dan ventilator penuh bagaimana kita bisa menyelamatkan warga kita ini..Sedih sekali menyaksikan keadaan ini,” tutup dr. Vera dengan sedikit berlinang air mata.

Related posts