MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat pada Senin malam, saat umat Islam memasuki malam ke-28 Ramadhan 1447 H. Di sela-sela kegiatan ibadah, Ustad Portito menyampaikan tausiah yang menggetarkan hati, mengajak jamaah untuk merenungi makna turunnya Al-Qur’an dan memaksimalkan sisa waktu Ramadhan yang hanya tinggal dua hari menjelang 1 Syawal.
Dengan suara lembut namun penuh penghayatan, Ustad Portito membacakan Surat Al-Qadr ayat 1–5, surat ke-97 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari lima ayat. “Innâ anzalnâhu fî lailatil-qadr,” lantunnya, diikuti terjemahan: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” Ayat ini, jelasnya, menjadi fondasi pemahaman tentang Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Ustad Portito kemudian mengupas satu per satu ayat tersebut. “Wa mâ adrâka mâ lailatul-qadr – Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” tanyanya retoris kepada jamaah. “Malam yang nilainya khairum min alfi syahr, lebih baik daripada seribu bulan. Bayangkan, ibadah satu malam melebihi 83 tahun lebih,” ujarnya, memukau hadirin.
Ia melanjutkan dengan ayat keempat: “Tanazzalul-malâ’ikatu war-rûhu fîhâ bi’idzni rabbihim, ming kulli amr – Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.” Menurutnya, turunnya malaikat membawa kedamaian dan keberkahan yang melimpah, hingga akhirnya malam itu disifati sebagai salâmun, sejahtera, sampai terbit fajar.
“Malam Lailatul Qadar adalah anugerah terbesar di bulan Ramadhan. Namun, kita sering lalai di hari-hari terakhir,” ungkap Ustad Portito dengan nada prihatin. Ia mengingatkan bahwa dua hari menjelang 1 Syawal bukanlah waktu untuk bersantai, melainkan momentum memperbanyak doa, dzikir, dan tadarus Al-Qur’an. “Jangan sampai kita seperti orang yang berlari kencang, tapi berhenti tepat di depan garis finis. Justru di ujung Ramadhan ini, pintu ampunan terbuka lebar.”
Jamaah yang hadir tampak terhanyut dalam pesan yang disampaikan. Beberapa di antaranya terlihat meneteskan air mata, merenungi betapa besar rahmat Allah di muka-muka terakhir Ramadhan. Tausiah ditutup dengan doa bersama agar diberi kekuatan untuk menemukan Lailatul Qadar dan meraih predikat takwa.
Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar, yang sejak awal Ramadhan rutin menggelar kajian malam, menjadi saksi bagaimana semangat jamaah tidak surut meski waktu bergulir menuju hari kemenangan. Dengan penuh harap, mereka bersiap menyambut malam yang lebih baik dari seribu bulan itu.






