Merdeka Belajar, Guru Tangguh, Siswa Tumbuh

  • Whatsapp
Veldry Phito
Veldry Phito, S.Pd

Oleh: Veldry Phito, S.Pd

Momen Dirgahayu Republik Indonesia yang dirayakan setiap tanggal 17 Agustus merupakan momen untuk mengingat keberhasilan para pejuang dalam meraih kemerdekaan. Momen ini juga seharusnya yang menjadi refleksi dari diri kita masing-masing, sejauh mana kita telah berbuat untuk negeri tercinta ini. Tidak memandang siapakah diri kita, dari mana kita berasal, apa suku kita, terpenting saat ini apa yang sudah kita lakukan untuk tetap menjaga nilai-nilai kemerdekaan yang telah diwariskan.

Read More

Memasuki tahun 2021 ini, artinya Indonesia telah memasuki usia yang ke-76. Sekitar 24 tahun lagi, Indonesia akan memasuki usia emas, yaitu 100 tahun Indonesia merdeka tepatnya tahun 2045. Indonesia emas harus diikuti dengan generasi emas. Generasi emas yang akan menjadi pemimpin di negeri ini adalah mereka yang saat ini menuntut ilmu pada jenjang sekolah dasar sampai pada perguruan tinggi negeri. Untuk menghadirkan hal tersebut, pertanyaannya Apakah Calon Pemimpin Bangsa, baik itu siswa maupun siswa sudah merasakan merdeka dalam belajar. Jawaban ini harus dihadirkan, mengingat mereka yang akan merayakan generasi emas Indonesia, tapi dari sejak kecil mereka tidak mengenal arti merdeka.

Permasalahan ini memang ada pada sektor pendidikan. Tetapi jangan setiap kita yang berada pada bidang yang lain lepas tangan tak karuan. Mari kita sama-sama memajukan pendidikan. Partisipasi yang kita berikan akan sangat berguna dalam  mewujudkan pendidikan yang merdeka, merata dan berkeadilan.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Teknogi dan Perguruan Tinggi Negeri dalam hal ini telah jauh hari mencanangkan merdeka belajar. Program yang dihadirkan pun telah banyak yang dilaksanakan. Sebagai contoh, melahirkan Guru Penggerak, Sekolah Penggerak dan Pengawas penggerak. Program yang lain seperti membuat program guru belajar yang dilaksanakan dalam jaringan yang berupa sinkron dan asinkron. Banyak program lain yang telah dilaksanakan oleh pembuat kebijakan, tapi yang perlu di ingat yang menjadi pejuang di garis depan dalam melaksanakan kebijakan tersebut adalah Bapak/Ibu Guru.

Guru merupakan seseorang yang akan menjadi pendorong, motivasi, mengantarkan siswa pada tujuan hidup mereka yang diselaraskan dengan tujuan pendidikan Indonesia. Selama pandemi virus COVID-19, ada sebuah sistem yang berjalan kurang sempurna. Kejadian Ini terjadi mutlak tidak direncanakan tapi pendidikan harus tetap dijalankan. Sehingga sistem yang berubah salah satu diantaranya adalah peran guru. Guru yang selama ini tidak mengenal pembelajaran jarak jauh, sekarang mau tidak mau harus menjalankan. Guru yang selama ini tidak mengenal belajar dalam jaringan, suka atau tidak suka harus menerapkan. Guru yang selama ini terfokus menggunakan Android untuk media sosial akan mengurangi hal tersebut dan akan mengelola pembelajaran. Beberapa contoh di atas mungkin bisa mewakili kondisi di lapangan yang saat ini terjadi.

Kondisi pendidikan memang adaptif dengan perkembangan zaman. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mempengaruhi dunia pendidikan. Artinya seorang guru wajib dalam mengikuti setiap perkembangan zaman dan IPTEK. Tidak ada alasan untuk seorang guru tidak bisa, kenapa demikian guru adalah seseorang pribadi pembelajar sejati. Guru akan terus belajar mengevaluasi diri dalam mengikuti perkembangan zaman.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, seseorang guru harus bisa mengendalikan kecerdasan emosinya. Maka sebaiknya seseorang guru memiliki sifat Resilience. Ilmuan psikologi biasanya menggunakan istilah lenting untuk menyepadankan kata Resilience, yaitu kemampuan seseorang untuk bangkit setiap kali mengalami desak mundur atau bahkan kegagalan. Pengertian tersebut mengisyaratkan bahwa seorang guru harus Tangguh dalam menghadapi segala tantangan Pendidikan yang menghadang. Kemampuan seorang guru dalam bangkit dalam menghadapi rintangan itulah yang sangat dibutuhkan. Sebagai contoh, peran guru yang berubah dalam melaksanakan proses pembelajaran merupakan tantangan tersendiri bagi Guru. Guru yang biasanya dihadapkan dengan pembelajaran tatap muka, secara tiba-tiba langsung dihadapkan pada pembelajaran jarak jauh. Guru yang Tangguh akan melihat itu sebagai peluang, peluang untuk bisa belajar mengelola sebuah aplikasi sebagai ruang untuk manambah wawasan dan pengetahuan. Contoh yang lainnya, Guru pasti memiliki rasa bosan dan jenuh dalam melaksanakan aktivitas mengajar. Guru yang tangguh akan melawan rasa jenuh dan bosan tersebut dengan sebuah pembelajaran yang menyenangkan. Intinya, segala hal yang negatif yang timbul, maka dibutuhkanlah kemampuan untuk mengubahnya menjadi hal yang positif.

Kemampuan guru yang tangguh ini sangat dibutuhkan untuk siswa yang sedang tumbuh. Kehadiran guru yang tangguh akan menghadirkan siswa yang tumbuh dan berkembang dalam mendalami bakat dan minat yang mereka miliki. Guru yang tangguh akan menyesuaikan diri terhadap siswa yang tumbuh, bukan menghambat siswa yang tumbuh. Siswa akan tumbuh dan berkembang dengan bakat dan minat yang mereka miliki. Mengasah kemampuan untuk meraih cita-cita yang mulia. Demi Indonesia emas di tahun 2045. Merdeka belajar akan hadir apabila guru tangguh dapat menghadirkan siswa yang tumbuh.

/* Penulis adalah Guru SMAN 1 Siberut Tengah, Kab. Kep Mentawai.

Related posts