Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H.
Pernahkah kita berhenti sejenak di tengah hiruk-pikuk gemerlap dunia, lalu bertanya pada diri sendiri: Untuk apa sebenarnya kita diciptakan?
Di atas mimbar-mimbar megah, para pemuka bangsa kerap melontarkan kalimat-kalimat indah tentang peradaban. Saya teringat refleksi mendalam dari Prof. Dr. Haidar Nasir yang menyatakan bahwa tugas kekhalifahan adalah memakmurkan bumi dan tidak merusaknya. Menurut beliau, peradaban adalah anak kandung dari kemakmuran. Namun, Haidar mengingatkan kita dengan tegas: kemakmuran itu tak boleh lahir dari rahim keserakahan. Ia harus diwujudkan dengan prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab moral. Artinya, kita boleh menikmati hasil bumi, tapi tak boleh sampai generasi cucu kita hanya mewarisi cerita tentang hutan yang dulu hijau dan laut yang dulu biru.
Selaras dengan itu, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa tugas manusia sebagai khalifah adalah menciptakan kemakmuran, kesejahteraan, dan kedamaian. Ia menyebut manusia punya otoritas yang kuat, peran yang sangat besar sebagai Khalifatullah fil ardh—wakil Allah di muka bumi.
Namun, inilah ironi terbesar kita. Di atas kertas, kita semua setuju. Di dalam hati, kita semua mengamininya. Tapi, lihatlah apa yang terjadi di lapangan!
Saat Langit dan Ayat Berbicara, Tangan Manusia Justru Merusak
Dalam QS. Hud ayat 61, Allah dengan jelas berfirman, “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmur (khalifah) di bumi itu.”
Perhatikan kata kuncinya: pemakmur. Bukan penggerogot. Bukan penjarah. Ayat ini menegaskan bahwa menjadi khalifah berarti merawat, mengolah, dan membangun. Bukan mengeksploitasi hingga ke akar-akarnya. Tugas kita adalah mengelola sumber daya alam dengan bijak, menjaga keseimbangan alam, memelihara keanekaragaman hayati, dan membangun masyarakat yang sejahtera dan adil.
Lalu, QS. Al-Mulk ayat 15 menegaskan lagi, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian rezeki-Nya.”
Ayat ini adalah izin sekaligus peringatan. Izin untuk memanfaatkan, peringatan untuk ingat bahwa semua akan kembali kepada-Nya. Ini adalah kontrak spiritual antara manusia dan Penciptanya. Bumi ini dimudahkan bukan untuk dirusak, tetapi untuk dikelola dengan amanah.
Tapi Realitasnya? Tragedi Ekologis di Bumi yang Katanya “Dimakmurkan”
Sayangnya, konsep luhur ini seringkali hanya menjadi tempelan di dinding masjid atau kutipan di artikel opini. Implementasinya? Masih jauh panggang dari api.
Coba kita buka mata. Jangan hanya terpaku pada gemerlap gedung pencakar langit yang kita banggakan sebagai simbol kemajuan. Lihatlah ke luar jendela:
Pertama, soal pengelolaan sumber daya alam. Hutan-hutan kita digunduli atas nama investasi. Lahan gambut dikeringkan atas nama ketahanan pangan. Tambang emas menganga lebar di lereng-lereng gunung, menyisakan lubang raksasa dan air sungai yang berubah warna menjadi coklat pekat. Ini bukan memakmurkan bumi, ini adalah merampas hak hidup flora, fauna, dan generasi mendatang. Eksploitasi berlebihan ini adalah wajah asli dari kerusakan yang diperintahkan untuk kita jauhi.
Kedua, soal keseimbangan ekosistem. Aktivitas industrialisasi yang tak terkendali, emisi karbon yang membubung tinggi, dan limbah pabrik yang dibuang sembarangan telah mengganggu keseimbangan alam yang telah Allah ciptakan dengan begitu sempurna. Hasilnya? Cuaca ekstrem, banjir bandang di mana-mana, musim kemarau yang berkepanjangan. Ini bukan lagi sekadar bencana alam, ini adalah “bencana karena ulah alam” yang dipicu oleh tangan-tangan yang lalai akan amanah kekhalifahan.
Ketiga, soal keadilan sosial. Seringkali, hasil dari eksploitasi sumber daya alam ini hanya dinikmati oleh segelintir korporasi dan pemilik modal. Sementara masyarakat adat yang tinggal di sekitar hutan kehilangan tanah leluhurnya, nelayan kesulitan mencari ikan karena laut tercemar, dan petani gagal panen karena perubahan iklim. Inikah kemakmuran dan kesejahteraan yang dijanjikan? Inikah keadilan yang diperintahkan?
Sudah Saatnya Turun Tangan, Bukan Hanya Berdebat
Kita tidak bisa terus-menerus menjadi generasi yang pandai berkhotbah tetapi buta aksi. Menjadi khalifah adalah tanggung jawab personal dan kolektif.
Untuk itu, implementasi tugas kekhalifahan harus kita mulai sekarang. Jangan tunda lagi. Pertama, pendidikan lingkungan. Tanamkan sejak dini kepada anak-anak kita bahwa membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon, dan mencintai alam adalah bagian dari ibadah. Bangun kesadaran massa bahwa menjaga bumi sama pentingnya dengan menjaga salat lima waktu.
Kedua, dorong teknologi hijau. Kita harus berani beralih dari teknologi eksploitatif ke teknologi yang restoratif. Gunakan energi terbarukan, ciptakan industri ramah lingkungan, dan hentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang merusak. Inovasi adalah senjata kita untuk memakmurkan bumi tanpa merusaknya.
Ketiga, perkuat kerjasama. Masalah lingkungan dan kesenjangan sosial bukanlah tembok yang bisa dipanjat sendirian. Butuh kolaborasi sinergis antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil, baik di tingkat nasional maupun internasional. Perubahan iklim tidak mengenal batas negara, maka solusinya pun harus bersifat global.
Kembali ke Fitrah, Sebelum Terlambat
Kita adalah khalifah. Bukan tuan tanah yang semena-mena. Bumi ini adalah titipan. Suatu saat, kita akan dimintai pertanggungjawaban. Bukan hanya tentang berapa rakaat salat kita, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan hutan, laut, dan udara yang telah Allah pinjamkan kepada kita.
Jangan sampai gelar “Khalifah di Bumi” yang mulia itu, di mata sejarah dan di hadapan Tuhan, berubah menjadi “Perusak Bumi” yang terkutuk. Mari makmurkan bumi dengan tindakan nyata, bukan hanya dengan retorika manis di atas podium.
Salam.
Advokat Ki Jal Atri Tanjung.





