Mimpi Anak Jalanan

  • Whatsapp

Oleh: Ami Guru SDN 21 Teluk Nibung Padang

MINANGKABAUNEWS.COM, CERPEN – Seorang anak berjalan melewati jalan-jalan hendak mendekati mobil yang berhenti dipagi hari saat matahari pun masih enggan memancarkan sinarnya. Saat semua anak seusiannya bangun lebih awal untuk melaksanakan upacara bendera senin pagi.

Read More

Ia pun bangun tak kalah lebih awal dari mereka. tepat pukul 5 pagi saat saya pulang sholat subuh dari mesjid.

ia sendiri berjalan menyusuri rumah rumah penduduk, mencari tong tong sampah, dia mencari dan terus mencari sesuap nasi dari sampah penduduk. sesaat ia terkejut melihat seragam sekolah yang menurutnya masih bagus diantara tumpukkan sampah. sesaat air matanya jatuh, dia menangis sudah lama ia memimpikan akan mengenakan seragam putih merah lengkap. Berdiri diantara barisan upacara bendera senin pagi, mengenang jasa pahlawan yang berjuangan demi mencerdaskan bangsa.

Sesaat mimpi itu menghilang, dia menyadari bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi. Ia hanyalah anak jalanan yang dituntut orang tua sebagai tulang punggung keluarga yang tidak bisa apa-apa.

Dia hidup bukan untuk menggapai cita cita apalagi mengharumkan nama negara, ia hidup hanyalah untuk mempertahankan diri untuk tetap bisa hidup, untuk bisa melihat matahari terbit esok hari, dan hanya bisa menuruti kehendak orang tuanya.

”Berhentilah bermimpi Fadil, kau tak mungkin mengenakan seragam ini, hapus semua mimpimu Fadil “,lirihnya.

Bergegas ia berlari sembari menghapus tetesan air mata yang telah membasahi pipi. Sejenak ia terhenti, ia teringat seragam tadi. “mungkin aku memang takkan pernah memakainya, tapi apa salah bila aku memilikkinya”,pikirnya.

Segera ia berlari mengambil seragam dan beberapa sampah yang dapat ia tukarkan untuk makan hari ini.

Segera ia pulang kerumah kardus, tepat dikolong jembatan, ia mengumpulkan beberapa sampah yang telah dikumpulkan kemarin untuk ditukarkan ketengkulak. Ia kadang mendapatkan hasil cukup untuk membeli sebungkus nasi dan air minum.

Dilihatnya jam, pukul 06.30 setengah jam lagi upacara akan dimulai, bergegas ia pulang dilihatnya seragam tadi, sedikit ragu untuk memakainya.”apa kata orang nanti bila melihatku memakai seragam ini”lirihnya.”tapi, apa mereka peduli” ucapnya lagi.

Diliriknya lagi jam, ya 10 menit lagi upacara akan dimulai. Apakah masih ada teman yang mau menerimaku, apakah aku masih pantas untuk kesekolah?

Setengah berlari ia keluar rumah, tetapi langkahnya terhenti “mau kemana kau Fadil dengan seragam itu? kau bukan anak sekolah, kita ini hanya anak jalanan dan sampai mati pun kita akan tetap di jalan, lebih baik uang mu itu kau simpan untuk membeli makan dari pada kau buat beli seragam yang tak berguna itu”, ucap orang tuanya.

“Apa salah bila aku mewujudkan mimpiku, untuk mengenakan seragam ini dan ikut upacara Bendera, mungkin benar sampai mati pun aku akan tetap di jalan, tetapi aku ini mengisi hidupku dengan mimpi yang telah kucapai”, jawabnya tegas.

Tepat 5 menit lagi, upacara dimulai, langkahnya terhenti hanya sampai gerbang sekolah. Disaat semua mata tertuju padanya, menatapnya aneh, dengan wajah yang memerah ia hanya bisa menundukkan kepala.”aku tahu aku hanya anak jalanan, dan aku cukup sadar bahwa aku takkan masuk sekolah, aku hanya memakai seragam ini, dengan alas hanya sendal jepit yang hampir putus, tapi tolong berhentilah menatapku seperti itu”,lirihnya.

Aku malu sungguh ada rasa malu didiri ini…
sesaat ia terkejut, seorang ibu yang sudah cukup tua menepuk pundaknya sembari berkata,”teruslah bermimpi anakku, karena mimpi itulah yang akan membuat kita hidup”.

Upacara dimulai Fadil mengikuti upacara itu hingga selesai dari balik pagar. Sepanjan perjalanan pulang ia teringat semua perkataan ibu tua tadi,di bulatkannya tekad, mungkin hari ini aku memang anak jalanan tapi esok hari aku akan menjadi anak kebanggaan semua orang” gumamnya.

Sepanjang jalan diucapkannya dengan senyum penuh semangat dan keyakinan dalam diri.

Related posts