Minangkabau dan Beban Sejarah Masa Lalu

  • Whatsapp
Amir Sjarifuddin, Hatta, Sjahrir dan Agus Salim
Amir Sjarifuddin, Hatta, Sjahrir, & H. Agus Salim di lapangan terbang Kemayoran, akhir Januari 1948. (Foto: Potret Lawas)

Oleh: Irfan Rusli

Jika bercerita mengenai kejayaan Minangkabau pada masa lalu maka seolah tidak akan ada habisnya baik dari segi sejarah masyarakatnya, sistem pemerintahanannya maupun hasil hasil dari pemikiran tokoh Minangkabau yang sangat berpengaruh pada masa lalu hingga saat ini.

Read More

Namun tak dapat di pungkiri hal tersebut seolah menjadi tameng pelindung bagi beberapa orang yang seakan berlindung di balik kemalasannya untuk berkembang bahkan tak sedikit yang pada akhirnya menimbulkan rasa primodialisme terhadap golongannya sendiri.

Bagaimana tidak jika sedikit saja ada ucapan tokoh x atau pun golongan tentang masyarakat Minangkabau barang tentu beberapa orang Minang akan melakukan pembelaan terhadap statement tersebut dengan menceritakan ini itu dan segala macamnya mengenai kehebatan dan kejayaan para pendahulunya.

Hal ini sebenarnya tidaklah salah namun terkadang dalam beberapa hal ada sebagian orang yang melebih-lebihkan hanya untuk pembelaannya.

Tetapi tidak bisa juga dikatakan orang-orang yang melakukan pembelaan ini bisa dibenarkan sepenuhnya sebab di lain sisi ia hanya melakukan pembelaan terhadap kezoliman yang dilakukan beberapa orang namun di lain sisi hal ini seolah mengibaratkan bahwa orang orang ini berlindung di balik sejarah masa lalu para leluhurnya.

Hal ini tentunya juga tidak dapat dibiarkan sebab akan menjadikan orang-orang Minang ini sebagai orang orang yang hanya akan tenggelam dengan masa lalu nya.

Kita ambil contoh dari peristiwa beberapa waktu lalu ketika orang Minang dicap tidak pancasilais oleh seorang ketua partai dan menyulut amarah masyarakat Minang kala itu. Tentunya hal ini juga tidak dapat disalahkan, namun banyak dari masyarakat Minangkabau yang seolah seakan-akan melalukan pembelaan berlebihan dengan membanggakan sejarah dan pencapaian masa lalu para pendahulunya.

Kemudian muncul pertanyaan, lantas saat ini sudahkah demikian adanya, sudah semakin berkembangkah kejayaan yang dibawa para pendahulu tersebut?

Jika dilihat fakta yang ada di lapangan dan keadaan masyarakat Minangkabau saat ini mungkin sedikit banyaknya bisa menjadi jawaban.

Bagaimana tidak dapat kita lihat bersama di era kemajuan zaman ini banyak dari anak muda Minangkabau yang bahkan lupa dengan adat dan budayanya sendiri dan tidak mau tau dengan apa yang dibawa oleh para pendahulunya. Namun ketika ada permasalahan hanya selalu mengedepankan persoalan masa lalu.

Sebut saja salah satu hal yang membuat kegemilangan masyarakat Minangkabau ini yaitu mengenai agama Islam yang merupakan salah satu faktor utama yang menjadikan etnis Minangkabau menjadi hebat dan para tokoh Minangkabau rata-rata memiliki dasar keislaman yang kuat.

Minangkabau sendiri bisa dikatakan memiliki gejolak dan sejarah panjang keislamannya sendiri yang mana peran ulama memilki peran yang sangat sentral.

Dimulai sejak kedatangan Islam di Minangkabau sendiri dan jasa-jasa para tokoh besar hingga adanya gerakan pembaharuan yang menimbulkan berbagai macam konflik di masyarakat.

Bertolakbelakang dari bahasan ini hendaknya kita sebagai masyarakat Minangkabau terutamanya harus memiliki niat yang kuat, tekad yang tinggi agar bagaimana caranya hasil-hasil dari para pemikir, tokoh politik dan alim ulama tersebut tidak hanya terhenti pada pendahulu tersebut .

Hal penting seperti menjadi versi terbaik, progres diri untuk kemajuan dan nilai-nilai kebermanfaatan sudah tentu harus menjadi dasar acuan utama seorang mahasiswa atau pelajar dalam rangka meneruskan dan mengembangkan kemajuan dirinya dan bangsa.

Supaya beban sejarah Minangkabau yang tak tertanggungkan itu menjadi bahan pelecut dan motivasi untuk para anak muda Minangkabau agar Minangkabau tak hanya sekedar sejarah masa lalu yang dibanggakan. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

Related posts