Moderasi Beragama dalam Menolak Paham Radikalisme

  • Whatsapp
Moderasi Beragama
Iluistrasai (Foto: Dok. NU Online)

Oleh: Dila Fadhilatun Nisa

Kita masyarakat Indonesia hidup di negara yang tidak menjadikan Islam saja sebagai agama resmi Negara, melainkan ada agama yang lain. Indonesia memiliki beraneka ragam suku, budaya, dan agama. Dengan keberagaman ini sering kali terjadi perpecahan di Indonesia terutama dalam persoalan agama.

Read More

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 272,23 juta jiwa pada Juni 2021. Sebanyak 236,53 juta jiwa (Islam), 20,4 juta jiwa (Kristen), 8,42 juta jiwa (Katolik), 4,67 juta jiwa (Hindu), 2,04 juta jiwa (Buddha). Sebanyak 73,02 ribu jiwa (Konghucu).

Perbedaan di Indonesia bukan hanya antara agama yang satu dengan yang lain, bahkan sesama agama masih ada perbedaan. Seharusnya kita menggunakan agama untuk mendamaikan dan mencerahkan manusia bukan kita jadikan sebagai alat untuk adu domba. Tetapi keberagaman agama di Indonesia ini malah menjadi salah satu pemicu yang kuat dalam munculnya radikalisme.

Paham radikalisme ini merupakan suatu bentuk dari ekspresi orang yang dilakukan secara berlebihan dalam merespon permasalahan sosial agama dan politik sehingga mengakibatkan muncul sikap yang di luar batas kewajaran manusia, atau sikap ekstrem. Radikalisme sering dikaitkan dengan terorisme.

Para penganut paham radikal ini cenderung memiliki pemahaman yang sempit dan keras. Setiap kelompok radikal ingin orang lain untuk mengikuti paham atau alirannya, mereka melakukan cara apapun agar keinginannya tercapai termasuk meneror pihak yang tidak sama dengannya, dan melakukan kekerasan agar tujuannya itu tercapai.

Orang dewasa, anak muda, dan perempuan cukup rentan terkena radikalisme, karena kelompok radikal memiliki banyak cara untuk mempengaruhi orang lain. Radikalisme bisa disebabkan oleh faktor ekonomi, karena manusia akan berusaha sekeras mungkin untuk memenuhi kebutuhannya, kurangnya uang membuat orang jadi mudah dihasut untuk masuk ke dalam kelompok radikal, kemudian nanti mendapat imbalan kehidupan yang layak.

Kita sebagai orang terdekat, teman, atau keluarga harus saling peduli terhadap satu sama lain. Sikap tidak acuh itu juga terkadang menjadi salah satu penyebab tumbuhnya tindakan kekerasan, karena merasa tidak ada orang yang peduli, kemudian timbul rasa benci serta dendam, dan menjadi mudah dipengaruhi oleh orang lain.

Kita tentu dalam hidup bermasyarakat harus saling menghargai. Ketika kita berkumpul dengan tetangga atau teman yang berbeda agama dengan kita, tidak boleh adanya diskriminasi, dengan kita membedakan dia dengan yang lain, dan menjelek-jelekan ajaran agamanya, Bahkan memaksanya agar memeluk agama yang sama dengan kita.

Haidar Alwi (pegiat antiradikalisme) menjelaskan bahwa :

”Indonesia memiliki tiga macam radikalisme yang saat ini masih terus tersebar. Haidar menjelaskan di antaranya yakni, radikalisme keyakinan. Dalam pemahaman radikalisme ini, orang lain yang memiliki pemahaman keyakinan yang berbeda, maka dianggap sebagai orang kafir. Radikalisme kedua adalah radikalisme tindakan. Kelompok yang selalu menghalalkan segala cara, termasuk melakukan pembunuhan atas nama agama. Yang ketiga radikal dalam bentuk politik adalah mereka yang menginginkan perubahan ideologi negara. Mereka yang termasuk radikalisme politik adalah yang memiliki tujuan untuk mengubah sistem pemerintahan menjadi khilafah.”

Sebuah bom bunuh diri di gereja katedral Makassar, yang baru terjadi beberapa waktu lalu, dilakukan oleh pasangan yang baru menikah. Kemudian adanya serangan terhadap mabes polri yang dilakukan oleh seorang perempuan. Menjadi bukti bahwa memang di Negara kita ini masih maraknya pengikut radikal, dan Indonesia dalam situasi darurat paham radikal.

Melihat maraknya radikal di Indonesia, Semua masyarakat baik itu pemerintah, pemuka agama, anak muda, orang dewasa harus berperan dalam menghentikan penyebaran dan menolak paham radikalisme. Salah satu caranya yaitu dengan Moderasi beragama, kita harus menerapkan prinsip beragama moderat. Lalu apa itu moderasi beragama?

Moderasi beragama yakni menanamkan di dalam diri sikap yang moderat tidak berpihak kepada salah satu nya, berlaku adil, lebih memilih berada di tengah-tengah, dan tidak ekstrem atau melebih-lebihkan dalam beragama. Sikap beragama yang seimbang antara pemahaman agama kita dengan penghormatan terhadap ajaran agama orang lain. Dengan ini tentu akan mencegah sikap yang fanatik dan ekstrem.

Moderat dalam beragama sering kali disalahartikan oleh orang banyak, mereka menganggap bahwa moderat itu tidak konsisten, tidak serius, dan sering dianggap orang yang tidak memberikan pembelaan ketika ajaran agamanya direndahkan. Tentu semua itu tidak benar, moderat itu lebih menekankan sikap saling menghargai. Karena keragaman masyarakat Indonesia tentu tidak semuanya satu pemikiran, satu pandangan, satu keyakinan.

Moderasi beragama sangat dibutuhkan agar Indonesia menjadi Negara yang rukun, harmonis, damai, dan lebih terciptanya rasa toleransi antar sesama. Kita harus saling mendengarkan satu sama lain dan mampu mengatasi persoalan keagamaan di kehidupan bermasyarakat. Dengan bersikap moderat juga bisa menyatukan perbedaan, menghargai pendapat orang lain, dan mencegah terjadinya radikalisme di masyarakat.

Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi dengan terciptanya kedamaian, keharmonisan dan tidak ada perselisihan yang berujung dengan perpecahan.

/* Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

Related posts