Momen Haru Wako Padang di Salat Id: Mohon Maaf di Tengah Ribuan Jamaah, Program Ramadhan Sentuh 87.000 Siswa

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Di balik takbir yang menggema di Masjid Agung Nurul Iman, ada senyum teduh sekaligus isak haru yang tersirat dari Wali Kota Padang, Fadly Amran. Duduk bersimpuh di antara ribuan jamaah yang memadati masjid kebanggaan kota itu, Sabtu pagi (21/3), ia larut dalam sujud syukur usai menunaikan Salat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Namun, momen khusyuk itu seolah menjadi panggung paling personal baginya untuk menyampaikan sesuatu yang jarang diucapkan di atas mimbi: permintaan maaf.

Setelah salat usai, Fadly berdiri di hadapan warganya. Suaranya lirih, namun penuh makna saat menyampaikan bahwa Idul Fitri kali ini bukan sekadar perayaan, melainkan ruang untuk merekat kembali ukhuwah Islamiyah yang sempat terkoyak oleh dinamika kehidupan.

“Mari kita jadikan momen ini untuk saling memaafkan dan membangun kehidupan yang rukun,” ujarnya, seraya mengajak seluruh warga mempertahankan nilai-nilai kebaikan yang telah dibangun selama Ramadhan.

Namun, yang membuat suasana semakin haru adalah ketika pria yang akrab disapa Fadly itu secara khusus menunduk dan memohon maaf kepada seluruh masyarakat Kota Padang. Baginya, kepemimpinan adalah amanah yang tidak luput dari kekurangan.

“Kami memohon maaf apabila dalam pelaksanaan tugas masih terdapat kekurangan dan kekhilafan,” ucapnya, disambut gumaman “aamiin” dari ribuan jamaah yang memenuhi lantai utama hingga serambi masjid.

Di balik permohonan maaf itu, Fadly menyampaikan laporan kecil yang justru menunjukkan kerja nyata di balik kesunyian Ramadhan tahun ini. Pemerintah Kota Padang, melalui program Smart Surau, telah menggerakkan lebih dari 1.100 masjid dan mushalla. Angka mengejutkan datang dari program Pesantren Ramadhan yang berhasil menjangkau sekitar 87.000 siswa.

“Seluruh program ini diarahkan untuk mewujudkan Kota Padang sebagai kota yang religius, maju, dan berlandaskan nilai-nilai agama serta budaya,” tambahnya.

Tak hanya urusan ibadah di dalam kota, dari mimbar yang sama, Fadly mengajak seluruh jamaah untuk menengok jauh ke Palestina. Dengan suara berat, ia meminta agar doa-doa warga Padang menyertai saudara-saudara di sana untuk diberikan kekuatan, keselamatan, dan segera meraih kemerdekaan.

Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Kota Padang, Edy Oktaviandy, yang turut hadir memberikan penegasan bahwa pelaksanaan Idul Fitri tahun ini telah melalui proses sidang isbat pemerintah. Ia menekankan bahwa meski kadang muncul perbedaan dalam penetapan 1 Syawal, hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dipersoalkan dan tidak merusak keharmonisan di tengah masyarakat.

Khutbah yang disampaikan oleh khatib Muflis Bahar turut menguatkan pesan spiritual hari itu. Dengan tema “Memelihara Hubungan Baik dengan Allah dan Sesama Manusia”, ia mengingatkan bahwa kedekatan dengan Tuhan tak cukup hanya dengan ibadah wajib. Salat tahajud, menyantuni anak yatim, hingga kebiasaan berjamaah yang selama Ramadhan terasa istimewa, harus terus hidup meski bulan suci telah berlalu.

Di penghujung acara, suasana syahdu masih terasa. Jamaah perlahan bubar dengan tangan saling menjulur, memaafkan satu sama lain. Di tengah hiruk-pikuk halalbihalal itu, ada satu pesan yang menggantung: bahwa kepemimpinan Fadly Amran kali ini terasa lebih personal—bukan hanya tentang pembangunan fisik, tapi juga tentang bagaimana seorang pemimpin merendahkan hati di hadapan rakyatnya.

Related posts