Momen Khutbah Idul Fitri 1447 H, Buya Gusrizal Bacakan Ayat Pembakar Semangat Sebelum Gebrak Jemaah

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, BUKITTINGGI — Sebelum melontarkan kritik tajam yang menghentak ribuan jemaah, Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, mengawali khutbah Idul Fitri 1447 H dengan sesuatu yang fundamental. Jumat pagi (20/3/2026) di halaman masjid Buya Dr. Gusrizal, ia membacakan firman Allah dalam Surat Al-Anfal ayat 29 sebagai pondasi pesan utamanya.

Dengan suara lantang, Buya membacakan ayat tersebut:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (kemampuan membedakan antara hak dan batil), menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni dosa-dosamu. Allah memiliki karunia yang besar.”

Terjemahan ayat itulah yang kemudian menjadi kunci seluruh khotbah. Buya menjelaskan, furqan adalah kekuatan istimewa yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya yang bertakwa. Bukan sekadar kemampuan membedakan, tapi juga kekuatan untuk memilih kebenaran dan meninggalkan kebatilan.

Ribuan jemaah memadati halaman Masjid Buya Gusrizal (Foto: Dok. Istimewa)

“Setelah satu bulan kita ditempa dengan puasa dan qiyam, inilah yang harus kita tanyakan pada diri: sudahkah kita meraih predikat takwa? Dan jika sudah, apa tandanya?” ujar Buya di hadapan jemaah yang baru saja menunaikan salat sunnah Ied.

Ayat pembuka itulah yang menjadi landasan bagi seluruh rangkaian kritik sosial-politik yang kemudian disampaikan Buya. Karena hanya dengan furqan—ketajaman membedakan hak dan batil—sebuah bangsa bisa mengenali penyakit-penyakit yang menggerogotinya.

MBG Versi Buya: Bukan Menu Makan Siang

Dengan judul khutbah yang sengaja dibuat provokatif, “MBG Lenyap, Bangsa Sehat”, Buya Gusrizal langsung mengalihkan makna singkatan yang sedang hangat diperbincangkan.

“MBG yang sedang heboh itu perlu dipertimbangkan, didengar kritikannya. Jangan setiap yang tidak setuju serta-merta disebut musuh negara,” ujarnya membela hak kritik rakyat.

Namun, Buya punya definisi sendiri tentang MBG yang harus dilenyapkan agar bangsa ini sehat secara mental.

M adalah Mencari Muka, Pencitraan Palsu.

Ia menyoroti fenomena pencitraan di berbagai bidang, terutama politik. “Tidak sedikit orang, kalau mau jabatan, yang tidak biasa pakai peci, tiba-tiba mengangkat tasbih dan difoto khusus. Tak lebih dari mencari muka,” sindirnya. Momen keagamaan seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, hingga Nuzulul Quran, dinilainya kerap dihadiri hanya sebagai alat prestisius, sementara esensi ibadah seperti salat dan Al-Quran ditinggalkan.

“Inilah yang harus lenyap. Kita dilatih sebulan penuh mengikhlaskan puasa sebagai ibadah rahasia, lillahi ta’ala, jangan setelah Ramadan masih mengejar pujian dan like di media sosial,” tegas Buya.

B adalah Bohong dan Bodoh.

Menurut Buya, kebohongan yang dipoles indah (zur) sudah terlalu lumrah. Janji-janji politik diabaikan setelah kursi diduduki. “Bangsa ini senang pula dibohongi setiap saat. Kapan sehat kalau kebohongan dianggap lumrah?” tanyanya.

Sementara kebodohan merujuk pada tindakan tanpa ilmu, asal bicara, dan keputusan yang tidak berdasar pertimbangan matang. Kritik tajamnya mengarah pada syarat calon pemimpin. “Guru harus S1, tapi calon presiden cukup SMA? Apakah ini kebijakan cerdas, atau kebodohan yang kita tertawakan dan biarkan?” sindirnya pedas.

G adalah Gaduh.

Kebodohan melahirkan kegaduhan. Buya mencontohkan perdebatan sengit soal perbedaan penetapan 1 Syawal. “Ada yang tanya, haramkah berhari raya hari ini karena tidak ikut pemerintah? Siapa yang mengharamkan?” katanya.

Buya menegaskan Jika ada pemimpin MUI yang mengharamkan Hari Raya berbeda dengan pemerintah, itu hanya pendapat pribadi bukan MUI secara institusi.

Ia menyayangkan sebagian orang yang toleran melihat pemimpin mencium kening paus, namun tidak bisa toleran pada perbedaan ijtihad.

“Perbedaan qauliyah ini sudah ada ribuan tahun, jangan habiskan energi untuk hal yang tak selesai, sementara ancaman-ancaman besar sudah di depan mata,” ingatnya.

Seruan Akhir: Jadilah Pemilik Furqan

Mengakhiri khutbahnya, Buya Gusrizal mengajak jemaah menarik pelajaran dari Ramadan. Tiga penyakit—mencari muka, bohong/bodoh, dan gaduh—harus dilenyapkan. Dan kuncinya adalah kembali ke ayat pembuka tadi: ketakwaan yang melahirkan furqan.

“Orang yang memiliki furqan punya kemampuan memilah dan memilih, serta bersikap bijak. Bukan hanya cerdas, tapi bijak. Itulah yang kita minta dalam doa kita: ‘Allahumma habbib ilaina al-iman…’ jadikan kami orang-orang yang bijaksana,” pungkasnya.

Dengan mengawali khotbah dari landasan Al-Quran, pesan kritis Buya Gusrizal terasa lebih mengakar—bukan sekadar opini, melainkan seruan untuk kembali ke fitrah: menjadi hamba dan bangsa yang mampu membedakan mana hak yang harus diperjuangkan, mana batil yang harus dilenyapkan.

Related posts