MUI Bukittinggi Bersikap, Buya Gusrizal Menguatkan; Pelabelan Itu Melanggar Hukum dan Adab Syari’at

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Beras bantuan Baznas berstiker wajah Wali Kota Bukitinggi Erman Safar mendapat respon keras dari banyak kalangan salahsatunya datang dari Ketum MUI Sumbar, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa yang merespon pertanyaan ummat adanya peredaran Beras Bantuan Baznas berstiker dan berwajah Wali Kota bertuliskan Bang Wako Peduli tersebut.

Ketum MUI Sumbar, Buya Dr. Gusrizal Dt. Palimo Basa mengatakan Pendistribusian zakat dengan sengaja menunjukkan kepedulian pihak pengelola yang bukan muzakki merupakan “istiglal” atau eksploitasi peran zakat untuk kepentingan yang tidak dibenarkan dalam pelaksanaan zakat. Bahkan orang yang menunaikan langsung zakatnya pun dituntun untuk menjaga diri dari riya.

Read More

Secara struktural, kata Buya Gusrizal, Wali Kota bukanlah pembina walaupun meng-SKkan komisioner.
Kepembinaan yang dimaksud tentu karena lembaga berada dalam wilayah kota. Karena itu, perlu dipahami oleh setiap kepala daerah tentang independensi dari lembaga zakat tersebut.

Secara syar’i, lanjut Buya, harta zakat yang dikumpulkan dari muzakki manapun, bukanlah milik lembaga pengelola zakat apalagi pemda.
Jadi, tidak ada yang patut merasa punya kewenangan untuk melabel harta zakat tersebut seperti menjadi kepeduliannya.

“Kalau apa yang dilakukan oleh Wali Kota Bukittinggi itu dibiarkan, maka bisa menjadi preseden buruk dan diikuti oleh yang lain. Dan ini juga akan memiliki daya rusak yang sangat besar terhadap ketentuan syari’at zakat itu sendiri,” tegas Buya Dr. Gusrizal

Jadi, jelas sekali bahwa dari sisi kajian dalil-dalil zakat dan tujuan pengsyari’atan zakat, apa yang dilakukan oleh Wali Kota Bukittinggi itu melanggar ketentuan syari’at baik dari sisi hukum karena melabel zakat orang lain sebagai kepeduliannya dan dari sisi adab juga keliru karena masuk dalam kategori “al-mann” di dalam Al-Qur’an.

BAZNAS tidak bisa berkilah dengan mayoritas sumber zakat dari PNS karena Wali Kota melakukan itu berdasarkan kepada tugas yang diamanahkan kepadanya.
Di samping itu, dasar pengambilan itu juga merujuk kepada fatwa MUI.

MUI Bukittinggi dan Sumbar tetap akan melihat aspek pemenuhan tuntunan syari’at terlepas dari maksud politik dan nuansa politik yang dikembangkan oleh sebagian kalangan.
Artinya, ketentuan syari’at yang dilanggar !!! Tegas buya Gusrizal.

Buya Gusrizal menambahkan Taushiyah MUI Bukittinggi ini direncanakan juga akan dikaji MUI Sumbar dengan BAZNAS Provinsi Sumbar yang merupakan Koordinator BAZNAS Kab/Kota se-Sumatera Barat.

MUI Kota Bukitinnggi keluarkan Tausiyah soal beras bantuan Baznas berstiker wajah Wako Erman Safar

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bukitinggi mengeluarkan tausiyah Nomor 04/MUI-BK T/3/2024 tentang
Pengelolaan Zakat di Kota Bukittinggi.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bukittinggi, dalam mudzakarahnya pada tanggal 5 Ramadhan 1445 H, bertepatan dengan tanggal 16 Maret 2024 M, yang membahas tentang Pendistribusian Zakat Pada BAZNAS Kota Bukittinggi.

Ketua Fatwa, Hukum dan Perundang-Undangan,Prof Busyro mengatakan, peluncuran tausiyah itu merespon pertanyaan ummat soal viralnya beras bantuan berstiker

Dalam tausiyah MUI Kota Bukitttinggi empat poin penekanan diantaranya

1. a. Untuk selalu memperhatikan dan mempedomani dua hal pokok dalam hal pendistribusian zakat. Pertama, agar mempedomani ketentuan yang berhubungan dengan hukum Islam dan hokum positif, karena dana zakat bukan dana yang biasa, tetapi dana yang berhubungan dengan pelaksanaan ibadah para muzakki. Pendistribusian zakat yang sesuai dengan ketentuan syariat Islam menentukan diterima dan tidaknya ibadah para muzakki. Kedua, mengutamakan adab dalam mendistribusikan zakat tersebut agar Lembaga BAZNAS Kota Bukittinggi tetap mendapat kepercayaan dari masyarakat dalam mengelola zakat umat Islam.

b. Pendistribusian zakat dengan sengaja menunjukkan kepedulian pihak pengelola yang bukan muzakki merupakan “istiglal” atau eksploitasi peran zakat untuk kepentingan yang tidak dibenarkan dalam pelaksanaan zakat. Bahkan orang yang menunaikan langsung zakatnya pun dituntun untuk menjaga diri dari riya.

c. Bahwa apapun bentuk intervensi dari pihak manapun yang berakibat menyimpangnya pengelolaan zakat dari ketentuan syari’ah adalah perbuatan yang haram dilakukan dan bisa jatuh kepada pengkhianatan terhadap amanah. Apabila hal ini dilakukan, MUI mengkhawatirkan akan
membuat hilangnya legitimasi atau kepercayaan umat terhadap Lembaga pengelola Zakat

2. Kepada Kepala Daerah (Walikota Bukittinggi) sebagai pembina BAZNAS Kota Bukittinggi, diharapkan untuk dapat mengawasi kinerja pengelolaan zakat pada BAZNAS Kota Bukittinggi, khususnya dalam hal pendistribusian zakat, dan memastikan kepada pengurus BAZNAS Kota Bukittinggi untuk mendistribusikan zakat sesuai dengan prinsip aman syar’i, aman regulasi dan aman NKRI.

3. Kepada masyarakat Kota Bukittinggi secara umum, khususnya kepada para muzakki, agar turut serta dalam melakukan pengawasan terhadap pengelolaan zakat pada BAZNAS Kota Bukittinggi, karena BAZNAS merupakan lembaga yang didirikan untuk mengelola ibadah zakat umat Islam yang mengacu kepada ketentuan al-Ouran dan Hadis. Pada dasarnya BAZNAS bukan hanya Lembaga yang bersifat duniawi semata, tetapi lebih jauh pengelolaan zakat yang sesuai syariat Islam akan menentukan kebahagiaan para pengelola zakat dan muzakki di akhirat kelak.

4. Berdasarkan hal itu, kami menghimbau agar semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan zakat pada BAZNAS Kota Bukittinggi menjaga ketakwaannya kepada Allah SWT yang telah mensyariatkan zakat ini dan telah memberikan pedoman dalam menjalankan ibadah zakat ini. Ketidak sesuaian dalam menyalurkan zakat, infak, dan, sedekah dapat membatalkan pahala yang diharapkan dari sedekah itu, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS AlBaqarah ayat 264 yang berbunyi:

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Aliah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir.


Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Minangkabaunews.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Related posts