MINANGKABAUNEWS.com, PADANG – Dalam sebuah pertemuan penuh makna di kantor lamanya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat mengambil langkah bersejarah yang menyentuh hati. Mereka memutuskan untuk mengabadikan nama-nama para ketua terdahulu sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan perjuangan mereka.
Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Sumbar, Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa ini dihadiri oleh jajaran lengkap dewan pimpinan. Hadir di antaranya Ketua Bidang Fatwa, Hukum dan HAM Buya Dr. Zulkarnaini, Ketua Bidang Dakwah dan Komunikasi Dr. Ahmad Kosasi, Sekretaris Samsul Akmal, Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Solsafad, Ketua Bidang Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga Dr. Rosniati Hakim, Direktur LPPOM MUI Sumbar Syaifullah, dan Bendahara Dr. Desi Asmaret, M.Ag.
Mendampingi Buya Gusrizal adalah Sekretaris Umum Prof. Dr. Zulfan dan Bendahara Umum Dr. Yufni Faisol. Turut hadir pula Pimpinan Diniyyah Puteri, Fauziah Fauzan El Muhammady yang juga menjabat sebagai Sekretaris MUI Sumbar.
Rapat koordinasi ini bukan sekadar pertemuan rutin. Agenda utamanya adalah membahas langkah-langkah strategis pasca peresmian kantor baru MUI Sumbar, termasuk persiapan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) menjelang Musyawarah Daerah (Musda) MUI Sumbar, serta berbagai isu keumatan yang sedang berkembang.
Mengabadikan Jejak Para Pendahulu
Yang membuat pertemuan ini istimewa adalah keputusan untuk mengabadikan jejak para pendahulu. Buya Gusrizal, yang kini juga diamanahkan sebagai Ketua Komisi Fatwa Metodologi MUI Pusat, menjelaskan bahwa setiap lantai di gedung baru yang megah ini akan dinamai sesuai dengan nama Ketua Umum MUI Sumbar dari masa ke masa.
“Ini adalah upaya kami untuk mempopulerkan dan memberikan apresiasi kepada para Ketua Umum MUI Sumbar yang telah membawa izzah dan menyandang khidmah,” ujar Buya Dr. Gusrizal dengan penuh khidmat.
Gedung baru MUI Sumbar yang menjulang dengan lima lantai dan dua aula ini bukan sekadar bangunan fisik. Setiap sudutnya menyimpan memori dan penghormatan kepada para ulama besar yang telah mengabdikan hidup mereka untuk umat.
Lantai pertama gedung ini dinamai untuk mengenang Buya Prof. Dr. Amir Syarifuddin, sosok yang memimpin dengan kebijaksanaan. Naik ke lantai dua, pengunjung akan menemukan nama Buya Dr. Gusrizal Gazahar Lc., M.Ag Dt. Palimo Basa, pemimpin masa kini yang terus membawa MUI Sumbar ke level yang lebih tinggi.
Di lantai tiga, terukir nama Buya Prof. Dr. Nasrun Haroen, M.A., ulama yang dikenal luas atas keilmuannya. Sementara Aula Dewan Pimpinan diberi kehormatan dengan nama Buya Prof. Dr. Syamsul Bahri Khatib, M.A. Khatib Bangso Rajo, sosok yang penuh dedikasi dalam memimpin organisasi.
Lantai empat menyimpan kenangan akan Buya Prof. Dr. Mansoer Malik Dt. Sigoto, pemimpin yang perjalanannya terhenti di tengah pengabdian. Lantai lima diabadikan untuk Buya Djalaluddin, yang memimpin dengan penuh kesabaran selama satu dekade.
Yang paling istimewa, Aula Utama di lantai lima diberi nama Buya HMD. Dt. Palimo Kayo, pendiri dan ketua pertama yang meletakkan fondasi kokoh bagi MUI Sumbar.
Kisah Para Pemimpin yang Menginspirasi
Perjalanan kepemimpinan MUI Sumbar sendiri menyimpan kisah-kisah yang menyentuh dan menginspirasi. Buya Haji Mansoer Datuk Palimo Kayo, ketua pertama yang menjadi perintis, memimpin dengan dedikasi penuh hingga mengembuskan napas terakhirnya pada tahun 1985. Beliaulah yang membuka jalan, meletakkan batu pertama dalam membangun MUI Sumbar yang kita kenal sekarang.
Tongkat estafet kepemimpinan kemudian dipegang oleh Buya Djalaluddin yang menjabat selama satu dekade, dari 1985 hingga 1995. Masa kepemimpinannya ditandai dengan konsolidasi dan penguatan struktur organisasi. Dilanjutkan oleh Buya Amir Syarifuddin dari 1995 hingga 2000, yang membawa MUI Sumbar memasuki era reformasi dengan berbagai tantangan baru.
Memasuki milenium baru, Buya Mansoer Malik Datuak Sigoto terpilih sebagai ketua pada tahun 2000. Dengan semangat tinggi, beliau memimpin organisasi menghadapi dinamika zaman yang terus berubah. Namun takdir berkata lain. Pada Juni 2003, beliau dipanggil Yang Maha Kuasa di tengah masa tugasnya, meninggalkan duka mendalam bagi seluruh keluarga besar MUI Sumbar dan umat Islam Sumatera Barat.
Kepemimpinannya yang terputus itu dilanjutkan oleh Buya Nasrun Haroen, ulama yang dikenal luas dengan kedalaman ilmunya. Beliau menjabat hingga 2010, membawa stabilitas dan kebijaksanaan dalam setiap keputusan.
Periode 2010-2015 dipimpin oleh Buya Prof. Dr. Syamsul Bahri Khatib, yang dengan kapasitas akademis dan kepemimpinannya yang kuat, membawa MUI Sumbar semakin diperhitungkan di tingkat nasional.
Sejak 2015 hingga sekarang, Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa memegang kendali kepemimpinan. Di bawah kepemimpinannya, MUI Sumbar memasuki babak baru dengan pembangunan gedung megah yang kini menjadi saksi bisu pengabdian para pendahulunya. Gedung yang bukan hanya simbol kemajuan, tetapi juga penghormatan tertinggi kepada mereka yang telah berjuang sebelumnya.
Amanah Tingkat Nasional
Kepercayaan yang diberikan kepada Buya Gusrizal untuk memimpin Komisi Fatwa Metodologi di tingkat nasional semakin menegaskan kapasitas dan kredibilitas ulama asal Sumbar ini dalam kancah keislaman Indonesia. Posisi strategis ini menunjukkan bahwa MUI Sumbar tidak hanya kuat di tingkat daerah, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan dalam perumusan kebijakan keagamaan di tingkat nasional.
Langkah MUI Sumbar mengabadikan nama-nama para pemimpin terdahulu ini bukan sekadar pemberian nama pada ruangan atau lantai gedung. Ini adalah sebuah pesan kuat kepada generasi penerus tentang pentingnya menghargai perjuangan dan pengorbanan para ulama terdahulu yang telah meletakkan fondasi kokoh bagi pelayanan umat.
Setiap kali seseorang melangkahkan kaki di gedung ini, mereka akan teringat akan dedikasi, pengorbanan, dan khidmah para ulama yang namanya diabadikan. Mereka akan terinspirasi untuk melanjutkan estafet perjuangan dengan semangat yang sama, bahkan lebih baik lagi.
Gedung baru MUI Sumbar bukan hanya tentang bangunan fisik yang megah, tetapi tentang memori kolektif, penghargaan yang tulus, dan harapan akan masa depan yang lebih gemilang untuk Islam dan umat di Ranah Minang.
