Muktamar XIX Pemuda Muhammadiyah: Jangan Cuma Datang, Duduk dan Pulang!

Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sumbar, Ki Jal Atri Tanjung (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Buya Ki Jal Atri Tanjung Rajo Amat Mudo, Ketua PWPM Sumatera Barat Tahun 1998-2002

Ada pertanyaan yang selalu menggantung di langit-langit setiap menjelang Muktamar. Sebuah pertanyaan yang sederhana, namun menusuk ke jantung eksistensi: Masih relevankah gerakan pemuda Islam di tengah dunia yang berputar begitu cepat?

Muktamar Ke-XIX Pemuda Muhammadiyah yang kian dekat bukanlah sekadar pesta demokrasi lima tahunan. Ia adalah cermin untuk berkaca. Ia adalah ruang untuk bertanya dengan jujur—sudah sejauh mana kita melangkah, dan seberapa dalam kita telah tertinggal?

Maka izinkan saya menjawab dengan tegas: Pemuda Muhammadiyah masih relevan. Bahkan sangat dibutuhkan. Tetapi ada satu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar—revitalisasi.

Mari kita menoleh ke belakang. Pemuda Muhammadiyah tidak lahir dari rahim yang steril. Ia lahir dari gelombang dakwah tajdid, dari semangat pembaharuan yang membara. Dulu, pemuda-pemuda ini adalah garda terdepan yang memberantas TBC—Takhayul, Bid’ah, Churafat—bukan dengan pedang, melainkan dengan ilmu dan keberanian.

Hari ini, TBC itu masih ada. Hanya saja wajahnya telah berubah. Ia kini menjelma menjadi kemiskinan yang mencekik, kebodohan yang membelenggu, pengangguran yang menganga, narkoba yang merusak, judi online yang menggoda dari balik layar ponsel, dan krisis moral yang menggerogoti generasi muda dari dalam.

Inilah TBC zaman now. Dan siapa lagi yang akan menghadapinya jika bukan Pemuda Muhammadiyah?

Revitalisasi eksistensi bukanlah jargon kosong. Ia adalah panggilan untuk kembali ke khittah perjuangan. Pemuda Muhammadiyah harus kembali turun ke nagari-nagari, ke masjid-masjid, ke kampus-kampus. Bukan hanya sibuk di ruang rapat ber-AC di pusat, sementara denyut nadi rakyat kecil semakin melemah.

Dalam falsafah Minang, kita diajarkan sebuah pesan yang dalam:

Karatau madang di hulu, babuah babungo balun,
Marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun.

Pemuda harus merantau. Melihat dunia. Menguasai ilmu dan teknologi. Merangkul era digital dan kecerdasan buatan. Tetapi tujuan akhirnya harus jelas—pulang dan berguna untuk umat dan nagari.

Pemuda Muhammadiyah tidak boleh terjebak menjadi organisasi elitis yang jauh dari denyut nadi rakyat kecil. Kadernya harus menguasai digital, harus melek AI, harus paham ekonomi kreatif. Tetapi hatinya tetap terpaut di masjid dan di sawah. Di situlah letak kekuatan sejati.

Tema besar Muhammadiyah adalah mewujudkan Indonesia Berkemajuan. Kata “Berkemajuan” ini bukanlah mantra kosong. Ia adalah cita-cita Islam yang mencerahkan, memajukan, dan menyejahterakan.

Lalu, apa peran Pemuda Muhammadiyah ke depan? Ada tiga hal yang tidak bisa ditawar.

Pertama, menjadi pelopor ekonomi keummatan. Pemuda tidak boleh hanya menjadi pencari kerja, tetapi harus menjadi pencipta kerja. Muktamar XIX harus melahirkan gerakan nyata: Satu Cabang Satu Sentra UMKM, Satu Masjid Satu Koperasi. Bayangkan jika seluruh potensi Pemuda Muhammadiyah di seluruh Indonesia dikonsolidasikan untuk membangun kemandirian ekonomi umat, dari hulu ke hilir. Itu baru dahsyat. Itu baru berkemajuan.

Kedua, menjadi benteng moral dan intelektual bangsa. Di tengah banjirnya judi online, pinjaman online, narkoba, dan konten-konten yang merusak, siapa lagi yang diharapkan menjadi benteng? Pemuda Muhammadiyah harus hadir dengan dakwah digital yang cerdas. Dakwah yang tidak menghakimi tetapi merangkul. Dakwah bil hikmah, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah.

Ketiga, menjadi mitra kritis pemerintah. Pemuda Muhammadiyah bukan organisasi politik, tetapi ia harus menjadi mitra kritis. Ketika APBN bocor Rp 671 triliun, ketika sumber daya alam kita dikeruk tetapi rakyat tetap miskin, ketika keadilan sosial belum merata—maka Pemuda Muhammadiyah harus berani bersuara lantang. Dengan data. Dengan adab. Inilah jiwa Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang sesungguhnya.

Muktamar XIX nanti jangan hanya menghasilkan ketua baru. Lebih dari itu, ia harus menghasilkan gagasan baru dan gerakan baru. Jangan sampai Muktamar hanya menjadi ajang kontestasi, tetapi lupa substansi. Jangan sampai kita sibuk berebut kursi, sementara rakyat kecil menunggu uluran tangan.

Harapan ambo sebagai warga Muhammadiyah dari ranah Minang, Muktamar XIX ini akan melahirkan Pemuda Muhammadiyah yang lebih membumi, lebih berani, lebih berilmu, dan lebih menyejahterakan.

Karena Indonesia yang berkemajuan tidak akan pernah lahir dari pemuda yang hanya pandai bertepuk tangan. Ia akan lahir dari pemuda yang mau memikul beban perjuangan. Pemuda yang berani kotor tangannya, bekerja di ladang-ladang pengabdian, dan mengubah mimpi menjadi kenyataan.

Selamat bermuktamar. Selamat bergerak. Selamat memikul beban perjuangan. Wallahu A’lam Bishawab.
Fastabiqul Khairat.

Pos terkait