Mulyadi Ungkap Limbah B3 di Pabrik Sawit Sumbar, Janji Turun Tangan

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, BUKITTINGGI – Anggota DPR RI Mulyadi membuka fakta mengejutkan. Pabrik kelapa sawit di Sumatera Barat buang limbah berbahaya.

“Ada limbah padat kategori B3, beracun dan berbahaya,” ungkap legislator Fraksi Demokrat itu di Universitas Muhammadiyah Sumbar, Rabu (8/10/2025).

Temuan itu hasil inspeksi mendadak Komisi XII DPR RI ke perusahaan pengelola CPO. Selain limbah padat B3, ada pula limbah cair yang mencemari lingkungan.

Mulyadi, yang kini periode ketiga di parlemen, menegaskan pelaku pencemaran berat biasanya perusahaan besar. Bukan rakyat kecil atau industri rumahan.

“Pelanggaran serius pasti dilakukan perusahaan besar. Jarang masyarakat,” katanya tegas.

Di hadapan ratusan mahasiswa dan warga, Mulyadi menekankan urgensi penegakan hukum lingkungan. Alasannya sederhana: pemulihan lingkungan tercemar sangat sulit dan mahal.

“Kalau lingkungan menurun fungsinya, semakin berat kita memulihkannya. Ini tanggung jawab ke anak cucu,” ujarnya dalam sosialisasi bertema Pembangunan Infrastruktur Hijau.

Mulyadi duduk di Komisi XII yang membidangi energi, sumber daya mineral, dan lingkungan hidup. Salah satu mitra kerjanya: Kementerian Lingkungan Hidup.

Ia jelaskan KLH punya deputi penindakan hukum khusus. Tugasnya: beri sanksi dan tindak tegas pelanggar.

“Kalau upaya menjaga lingkungan tidak ditaati, yang turun penegak hukum,” katanya.

Mulyadi akui persoalan lingkungan Indonesia kompleks dan butuh dana besar. Anggaran kementerian kini terbatas karena efisiensi.

Namun ia berjanji turun langsung jika ada pencemaran krusial. “Pada titik tertentu yang serius, saya akan turun,” tegasnya.

Soal pembangunan ekonomi, Mulyadi tidak anti-investasi. Tapi harus seimbang.

“Ekonomi perlu, masyarakat butuh pendapatan. Tapi lingkungan juga perlu diperhatikan,” ujarnya.

Tak sekadar bicara, Mulyadi beri bukti. Ia serahkan dana bantuan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah ke kampus tersebut.

“IPAL ini agar limbah padat, cair, atau yang menimbulkan bau tidak berdampak ke lingkungan,” jelasnya.

Rektor Universitas Muhammadiyah Sumbar Riki Saputra mengucap syukur. IPAL dari dana aspirasi Mulyadi sudah selesai dibangun.

“Kami berharap sosialisasi seperti ini terus berlanjut. Pemahaman masyarakat tentang lingkungan harus terus ditingkatkan,” kata Riki.

Ia menambahkan kerusakan lingkungan pada akhirnya menghambat ekonomi rakyat. “Kami harap Pak Mulyadi terus berbuat bermanfaat,” tutupnya.

Related posts