MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Ulama kharismatik Minangkabau, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, mengingatkan bahwa pola pendidikan anak selama ini lebih banyak diisi dengan cerita-cerita hantu dan orientasi duniawi, sehingga melahirkan generasi yang mudah patah. Dalam kajian tafsirnya di Masjid Surau Buya, Ketua Bidang Fatwa MUI Pusat itu mengupas tuntas kurikulum pendidikan versi Al-Quran yang diajarkan Luqman dan Rasulullah SAW. Beliau menegaskan bahwa membangun karakter tangguh tidak cukup dengan latihan fisik, melainkan harus dimulai dari tiga pondasi utama: menjaga Allah dengan zikir, menanamkan tauhid dalam setiap permintaan, serta menggabungkan keteguhan salat, amar ma’ruf, dan kesabaran—yang disebut sebagai kunci “Azmil Umur” agar anak muda tidak mudah goyah oleh tantangan zaman.
Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat itu mengupas tuntas sebuah hadis dahsyat yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Abbas, serta surat Luqman yang penuh hikmah.
Menurut Buya, ada sebuah “kurikulum langit” yang jika diterapkan, akan melahirkan generasi tangguh yang tak mudah galau dan punya prinsip baja. Sayangnya, pola pendidikan kita sering kali hanya berputar pada hal-hal yang sifatnya fisik dan seremonial, melupakan penanaman keyakinan yang menjadi akar dari segalanya.
1. “Jagalah Allah, Niscaya Allah Menjagamu”
Pesan pertama Nabi kepada Ibn Abbas adalah “Ihfazillah” alias jagalah Allah. Apa maknanya?
· Makna Pertama: Jagalah zikir. Biasakan lisan anak-anak berzikir dalam setiap kondisi, bukan hanya bernyanyi. Ini adalah langkah awal agar hati mereka selalu terhubung.
· Makna Kedua: Jagalah perintah dan larangan-Nya. Ajarkan mereka mana yang diridai dan mana yang dimurkai Allah.
· Makna Ketiga: Jagalah keagungan-Nya dalam hati. Jika ini hilang, hati akan dipenuhi syahwat dan dikuasai setan.
Ini adalah fondasi awal. Bukan sekadar teori, tapi pembiasaan sejak dini.
2. “Kalau Kamu Minta, Minta Sama Allah”
Lanjutan nasihat Nabi yang begitu fundamental: “Iza sa’alta fas’alillah” (Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah). Ini adalah landasan Tauhid. Anak-anak diajarkan bahwa sumber segala kekuatan dan pertolongan hanyalah Allah.
Buya menyayangkan, pendidikan kita sering kali justru mengisi anak dengan dongeng dan cerita-cerita hantu yang menakut-nakuti, bukan dengan keyakinan tauhid yang kokoh.
“Dulu kita dilarang duduk di bantal katanya nanti jadi bisul. Tapi kalau sudah dewasa, mana mungkin logika itu diterima? Akhirnya ajaran jadi mentah. Berbeda dengan Nabi yang langsung menanamkan keyakinan: ‘Jika kamu minta pertolongan, mintalah kepada Allah’,” tegas Buya.
Akibat pola dongeng seperti Malin Kundang atau cerita angker kubur, kita tumbuh dengan pola pikir yang takut dan suka bergantung pada hal-hal mistis. Sementara anak-anak sahabat sejak kecil sudah dilatih berlogika dan bertawakal.
3. Kunci “Azmil Umur”: 3 Hal Ini yang Membuat Tekad Baja
Setelah fondasi tauhid dan keyakinan akan takdir (qada dan qadar) tertanam, langkah selanjutnya adalah pembentukan kepribadian yang tak tergoyahkan. Buya mengutip ayat Al-Quran tentang nasihat Luqman kepada anaknya, yang menjadi blueprint pembentukan karakter:
· Pertama, Aqimus Shalah (Dirikanlah Salat). Ini adalah cara untuk memperkuat hubungan dengan Allah. Ibarat charger baterai, salat adalah penguat jiwa.
· Kedua, Wa’mur bil Ma’ruf wan ‘Anil Munkar (Perintahkan yang Baik dan Cegah yang Mungkar). Ini mengajarkan anak untuk tahu mana yang benar dan salah, serta berani memposisikan diri di jalan yang benar. Karakter terbentuk bukan dari latihan fisik semata, tapi dari kepribadian yang berdiri di atas prinsip.
· Ketiga, Wasbir ‘ala Ma Ashabak (Bersabarlah atas Apa yang Menimpamu). Sabar bukan hanya saat terkena musibah, tapi juga saat mendapat nikmat! Banyak orang kuat saat susah, tapi hancur saat kaya karena tak bisa bersabar menjaga diri dari pemborosan dan kesombongan.
Inilah yang disebut Azmil Umur, tekad yang kuat dan tak mudah patah.
Buya mengajak kita muhasabah. Selama ini, ukuran keberhasilan pendidikan adalah materi: menjadi PNS, pejabat, punya jabatan. Padahal, Rasulullah mengajarkan bahwa orang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
“Sekarang, anak-anak muda berebut jadi pegawai negeri. Kalau semua jadi pegawai, siapa yang jadi rakyat? Ini karena pola pikir kita sejak kecil hanya diorientasikan pada jabatan, bukan pada manfaat,” ujar Buya.
Kita lebih sibuk menempa fisik anak dengan latihan dan outbound, tapi lupa membangun pondasi keyakinan di dalam dada. Akibatnya, saat dewasa, mereka mudah goyah oleh uang, mudah berkhianat demi pangkat, dan mudah galau.
Buya menegaskan, semua solusi pendidikan sudah ada di Al-Quran. Pola yang diajarkan Luqman dan Nabi ini tidak usang dan sangat sistematis. Sudah saatnya kita kembali ke kurikulum langit ini. Bangunlah tauhid yang kuat, tanamkan keyakinan pada takdir, dan formasi tiga kunci (salat, amar ma’ruf, dan sabar) untuk menciptakan generasi baja yang tidak akan tergoyahkan oleh tantangan zaman.
Mari kita didik anak-anak kita dengan nilai-nilai ini, bukan dengan dongeng dan ketakutan. Karena pada akhirnya, hanya keimanan kepada Allah yang akan menjadi benteng terkuat dalam hidup mereka. Wallahu a’lam bish-shawab.






