Nilai Kearifan Lokal dan Budi Pekerti untuk Pendidikan Sebegai Peneguh Jati Diri

  • Whatsapp
local wisdom
Local wisdom (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Anysa Remona Agustta, Diva Septiheni, DR. Hj Demina, M.Pd

Kearifan lokal merupakan istilah yang berasal dari bahasa Inggris, local wisdom. Secara harfiah, istilah itu berarti ‘kearifan atau kebijaksanaan (wisdom) setempat (local)’. Dengan demikian, kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai gagasan-gagasan setempat yang bijaksana, arif, dan baik, yang tertanam di dalam diri dan diikuti oleh anggota masyarakat (lihat juga Sartini, 2004:111) sehingga digunakan sebagai pedoman nilai oleh masyarakat tempatan.

Read More

Selain local wisdom, dikenal pula istilah local genius. Istilah ini kali pertama diperkenalkan oleh Quaritch Wales. Menurut Haryati Soebadio, local genius adalah juga cultural identity, identitas kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa itu mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai dengan watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi, 1986:18—19).

Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang eksplisit yang muncuk dari periode panjang, yang berevolusi bersama-sama masyarakat dan lingkungannya dalam sistem lokal yang sudah dialami bersam-sama. Proses evaluasi yang begitu panjang dam melekat dalam masyarakat, dapat menjadi kearifan lokal sebagai sumber energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat, untuk hidup bersama secara dinamis dan damai.

Macam-macam kearifan lokal dalam masyarakat dapat berupa: nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus. Secara substansi kearifan lokal dapat berupa aturan mengenai; kelembagaan dan sanksi sosial, ketentuan tentang pemanfaatan ruang dan perkiraan musim untuk bercocok tanam, pelestarian dan perlindungan terhadap kawasan sensitif, bentuk adaptasi tempat tinggal terhadap iklim, bencana atau ancaman lainnya

Kearifan lokal dengan kebudayaan merupakan alat untuk memenuhi kebutuhan dasar yaitu kelangsungan hidup organisasi, penyesuaian kepada lingkungan dan kelestarian sesama makhluk hidup. Kerber dan Smith dalam Imran Manan mengemukakan fungsi utama kebudayaan dalam hidup manusia, yaitu:

  1. pelanjut keturunan dan pengasuh anak, penjamin kelangsungan hidup biologis dari kelompok sosial.
  2. Pengembangan kehidupan ekonomi, menghasilkan dan memakai benda-benda ekonomi.
  3. Transmisi budaya, cara-cara mendidik dan membentuk generasi baru menjadi orang-orang dewasa yang berbudaya.
  4. Keagamaan, menanggulangi hal-hal yang berhubungan dengan kekuatan yang bersifat gaib.
  5. Pengendalian sosial, cara-cara yang dilembagakan untuk melindungi kesejahteraan individu dan kelompok.
  6. Rekreasi, aktifitas-aktifitas yang memberi kesempatan kepada orang untuk memuaskan kebutuhannya akan permainan-permainan.

Dalam kehidupan nyata fungsi di atas dikembangkan oleh berbagai institusi budaya atau institusi sosial dan institusi pendidikan yang terdiri dari unsur-unsur charter, personal, norma, material aparatur, aktifitas dan fungsi. Menurut Koentjaraningrat menyebutkan unsur-unsur institusi sosial terdiri dari sistem norma, personal, dan peralatan pisik. Integrasi ketiganya dalam bentuk aktivitas berpola memenuhi suatu kebutuhan manusia yang dinamakan dengan institusi sosial. Lembaga pendidikan atau  institusi pendidikan merupakan aktivitas berpola dari staf, normanorma, fasilitas fisik untuk mencapai tujuan pendidikan.

Budi pekerti merupakan ungkapan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Sansekerta. Kata budi berasal dari budh yang berarti ‘kesadaran, pengertian, pikiran, dan kecerdasan’. Selanjutnya, kata pekerti berarti ‘penampilan, pelaksanaan, aktualisasi, tabiat, dan atau perilaku’. Dengan demikian, secara etimologis budi pekerti berarti ‘perilaku atau penampilan diri yang berbudi’. Dengan pendidikan budi pekerti, peserta didik tak hanya diharapkan memiliki pengetahuan dan kemahiran dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; tetapi juga mengamalkan perilaku yang muliadalam kehidupan sehari-hari. Perilaku yang berbudi itu terwujud di dalam pikiran, perasaan, keinginan, sikap, perkataan, perbuatan, dan hasil karya (Malik, 2011).

Pendidikan budi pekerti sering disamakan dengan pendidikan karakter. Seseorang disebut berkarakter atau berwatak jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan baik di dalam masyarakat dan digunakannya sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Dengan kata lain, nilai dan keyakinan itulah yang dijadikan pedoman hidup untuk membedakan yang benar dan yang salah serta yang baik dan yang buruk.

Pendidikan budi pekerti merupakan upaya terencana dan terarah untuk membentuk dan mengembangkan watak dan perilaku berbudi pada peserta didik yang terwujud di dalam pikiran, perasaan, keinginan, sikap, perkataan, perbuatan, dan hasil karya mereka berdasarkan nilai, norma, dan moral luhur bangsa Indonesia melalui kegiatan pendidikan (Malik, 2011). (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan IAIN Batusangkar

Related posts