MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Masih banyak orang tua yang berpikir urusan pendidikan anak selesai begitu putra-putrinya digantungkan tas di pundak seragam baru. Anggapan keliru ini coba diluruskan oleh Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, dalam sebuah tausyiah yang digelar di Surau Dinas Pertanian Kota Padang, Jumat (27/2/2026) pagi.
Di hadapan para pegawai yang hadir, Maigus dengan tegas menyebut bahwa pendidikan bukanlah kontrak bisnis yang berakhir setelah uang gedung dilunasi. Sekolah, semewah apa pun fasilitasnya dan setinggi apa pun biayanya, hanyaalah mitra. Rumah adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah guru utamanya.
“Banyak di antara kita yang lega begitu anak diterima di sekolah favorit. Padahal, di situlah sebenarnya tantangan baru dimulai,” ujarnya membuka sesi tausyiah yang bertajuk “Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak”.
Menurut Maigus, mendidik adalah proses panjang yang membutuhkan kesadaran penuh. Bukan sekadar rutinitas menanyai PR atau menandatangani rapor. Lebih dari itu, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk membentuk karakter, iman, dan akhlak.
Ia mengingatkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci, laksana kertas putih. Orang tualah yang akan mencoraknya, apakah menjadi seorang yang kuat imannya atau justru lemah karakternya.
“Anak itu titipan Yang Maha Kuasa. Jika ia tumbuh rusak karena kita abaikan, maka kita yang akan dimintai pertanggungjawaban,” pesannya dengan nada menggugah.
Lebih jauh, Maigas mengajak para orang tua untuk merenung. Jangan sampai generasi penerus tumbuh dalam kondisi lemah—baik secara spiritual, moral, maupun kepribadian. Karena itulah, perhatian besar di rumah jauh lebih berarti daripada sekadar memilih sekolah dengan pagar megah.
Di penghujung tausyiah, pria nomor dua di Kota Padang itu menyelipkan semangat program unggulan Pemko, yakni Smart Surau. Menurutnya, program ini bukan sekadar wacana seremonial. Substansinya adalah mengajak keluarga kembali ke pangkuan nilai-nilai religius, membangun rumah tangga yang harmonis, dan melahirkan generasi yang berakhlak mulia.
“Intinya sederhana. Semua ini kita lakukan demi mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Karena dari keluarga yang kuat, lahirlah peradaban yang bermartabat,” tutupnya.





