Pemimpin “Rebahan” di Tengah Persaingan Global

  • Whatsapp
Aznil Mardin (Foto. Dok.Istimewa)

Oleh: Dr. H. Aznil Mardin, S.Kom., M.Pd.T

Istilah kaum rebahan awalnya muncul dalam beberapa tahun terakhir, istilah ini juga menjadi streotip negatif yang sering dialamatkan kepada generasi milenial yang mengisi hari-harinya  cenderung tidak produktif, tidak punya target, atau bahkan tidak menghasilkan apa-apa ditengah fasilitas yang ada.

Read More

Namun jika kita kaji dan narasikan pada objek lain, istilah “kaum rebahan” juga sangat ideal kita alamatnya kepada pemimpin yang tidak produktif, sibuk pada pencitraan semata, tidak memiliki target yang terukur serta realistis, dan bahkan tidak menghasilkan apa-apa ditengah fasilitas APBD triliyunan rupiah. Dan tipe pemimpin seperti ini sudah pantas kita sebut dengan “pemimpin rebahan”.

Tipe “pemimpin rebahan” sangat kontraproduktif dengan perkembangan demokrasi ditengah dominasi teknologi informasi disemua sektor kehidupan saat ini. Dimana teknologi menjadi eksekutor dalam setiap kebijakan pemerintahan dan ekonomi ditengah pandemi tak kunjung ada usainya. Narasi yang kosong dan dikelilingi oleh predator-predator seakan-akan memakan lawan-lawan politik ditengah kontestasi pilkada yang telah usai. hal ini terus menggurita ditengah-tengah masyarakat saat ini, seakan-akan pilkada masih berlangsung bagi mereka. Aneh memang, tapi itulah “pemimpin rebahan”.

Pemimpin rebahan seiring jalan dengan rendahnya kualitas kepemimpinan seseorang. Dimana mereka hadir disemua ruang-ruang masyarakat yang populis seperti; media sosial, baralek, kematian, pembukaan atau penutupan iven yang semula itu dikerjakan oleh wali nagari atau bahkan kerjaan ketua pemuda. dan bahkan sekelas ketua pemuda pun tidak mendapatkan panggung sosial mereka, karna sudah diambil oleh para “pemimpin rebahan” dan ini diamini dan dipuja-puja para pengikutnya.

Ditengah kompleksitas tantangan yang diakibatkan teknologi informasi hari ini para-para “Pemimpin rebahan” menjadi bom waktu bagi perkembangan nagari ribuan “ajo” dan tuangku ini kedepan. Dimana akibat buruknya akan terasa dikemudian hari tapi menyenangkan hari ini karna dianggap ada ditengah-tengah masyarakat, tapi membawa narasi kosong ditengah-tengah masyarakat dan merawat lawan-lawan politik mereka atau bahkan dihabiskan secara politik. Euforia pilkada seakan-akan masih kental terasa, namun narasi pembangunan dan bukti pemimpin visioner dalam mengaplikasikan program mereka masih sangat kosong melompong ditengah tingginya ekspektasi perubahan yang mereka narasikan ditengah pilkada.

Narasi yang dibawa ditengah-tengah masyarakat haruslah memberi air ditengah dahaga pilu yang dirasakan masyarakat saat ini. Angka kemiskinan yang sangat tinggi, kualitas pendidikan yang masih rendah, Pendapatan Daerah yang sangat kurang, perusahaan daerah yang terus berkepanjangan rugi, dan ketimpangan kesejahteraan ditengah masyarakat masih sangat terasa. Hal ini seharusnya mampu direspon dengan narasi program yang mereka bawa ditengah-tengah masyarakat. Namun hari ini pemimpin “rebahan” masih sibuk petantang-petenteng yang anehnya hanya sebatas menjadi tamu ditengah masyarakat yang berbahagia “baralek” atau kematian, tapi tidak ada membawa program yang menjadi dahaga bagi masyarakat.

Seorang pemimpin atau pemerintahan haruslah menjadikan ruang-ruang demokrasi seperti; media sosial, interaksi sosial masyarakat, dengan komunikasi efektif yang berperan sebagai orang yang menjalankan amanat UUD yang disuruh masyarakat melalui pemilu. Bukan malah orang yang berkomunikasi seperti kaum rebahan yang “lebay” selalu posting SEDANG APA, LAGI DIMANA, DENGAN SIAPA. Inilah dasar bagi generasi milenial yang awalnya dikatakan kaum rebahan menolak dan memilih ini dialamatkan kepada pemimpin yang terpilih ditengah kualitas kepemimpinan dan demokrasi yang rendah.

Nagari para ajo dan one ini merupakan daerah yang unik dengan budaya yang mereka miliki, kaya dengan sumber daya pertanian, kelautan, dan perternakan yang dianugerahi. Tapi miris ketika bibir pantai mereka dirampas dan dikuasai segelintir orang tapi masyarakat mereka masih dibelenggu tingginya angka kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan. Dan anehnya pemimpin rebahan kosong narasi yang dikomunikasi kepada masyarakat dan ruang-ruang publik. (**)

Related posts