Panas Dunia! Presiden Biden Peringatkan Iran, Pentagon Temui Israel

  • Whatsapp
Presiden AS Joe Biden (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.COM, INTERNATIONAL — Amerika Serikat (AS) menunjukkan ketidaksenangannya ke Iran. Presiden Joe Biden bahkan memperingatkan negara itu.

Hal ini terkait kelanjutan perjanjian nuklir, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) 2015 di Wina, Austria. Perjanjian yang membatasi pengembangan nuklir Iran ini hendak dihidupkan kembali setelah mantan Presiden AS Donald Trump menarik negerinya tahun 2018 dan kembali memberlakukan sanksi ke Iran.

Read More

Namun, menurut AS, sikap Iran tidak progresif. Biden melalui staf Gedung Putih bahkan meyakini pembicaraan akan gagal.

“Presiden (Biden) telah meminta timnya untuk bersiap jika diplomasi gagal dan harus beralih ke opsi lain,”kata Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki, dikutip AFP, dalam konferensi pers, Kamis (9/12/2021) waktu setempat. “Kami tak punya pilihan, selain mengambil tindakan tambahan.”

Sebenarnya sejak Biden berkuasa, sudah ada tujuh putaran pertemuan dilakukan. Bukan hanya AS-Iran, pembahasan juga melibatkan Eropa.

Sebelumnya AS sudah mengatakan Iran tak serius dengan tak membawa “proposal yang konstruktif” terutama soal poin yang dipertentangkan terkait pemantauan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Iran sendiri sejak Juni berganti kepemimpinan presiden menjadi Ebrahim Raisi.

IAEA mengungkapkan pekan lalu bahwa Iran telah memulai proses pengayaan uranium hingga kemurnian 20% dengan satu kluster. Proses itu dilakukan dari 166 mesin IR-6 yang diletakan di dalam gunung.

JCPOA dibuat Iran dengan AS, Inggris, China, Prancis, Jerman, dan Rusia saat Paman Sam dipimpin Barrack Obama. Kesepakatan itu bertujuan untuk membatasi program nuklir Iran untuk memastikannya tidak dapat mengembangkan senjata atom, dengan imbalan keringanan sanksi bagi Teheran.

Namun di 2018, pemerintah AS yang dipegang Donald Trump menarik diri dan menerapkan kembali sanksi. Ini mendorong Iran untuk mulai melampaui batas program nuklirnya pada tahun berikutnya.

Akibat sanksi ekonomi Iran terpuruk. Iran sendiri menyebut program nuklirnya demi kepentingan damai.

Sementara itu, Pentagon juga dilaporkan bertemu dengan Israel membahas “ancaman” Iran kemarin. Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin “empat mata” dengan Menhan Israel Benny Gantz.

“Saya sangat prihatin dengan tindakan nuklir pemerintah Iran dalam beberapa bulan terakhir, baik provokasi yang terus berlanjut dan kurangnya keterlibatan diplomatik yang konstruktif,” kata Austin.

Mengutip Reuters sumber mengatakan AS dan Israel sedang membahas latihan militer terbaru yang diarahkan untuk skenario melawan Iran. Ini untuk memastikan Iran tak dapat memproduksi senjata nuklir.

Mantan pejabat senior AS dan pakar Timur Tengah, Dennis Ross, mengatakan tidak heran dengan aksi Washington dan Tel Aviv ini. Ia menekankan bahwa pemerintahan Biden memang betul-betul serius dalam menangkal ambisi Tehran ini.

“Ketika Presiden Biden mengatakan Iran tidak akan pernah mendapatkan senjata nuklir, maksud saya, dia bersungguh-sungguh,” tuturnya.

Israel sender merupakan rival Iran di kawasan Timur Tengah. Negeri Yahudi itu sempat melakukan aksi-aksi untuk menahan laju ekspansi nuklir Iran, salah satunya pembunuhan ahli nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh.

Related posts