Pandemi dan Dampaknya bagi Kebudayaan

  • Whatsapp

Oleh :Raditya Partama Yunanda

Sampai saat ini, pemerintah masih berusaha menekan angka pertumbuhan Covid-19 yang masih mengalami peningkatan dari hari ke hari. Hingga tulisan ini dibuat, lebih dari 1,7 juta orang terkonfirmasi virus ini berdasarkan data dari kemkes.go.id. Telah berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi bertambahnya kasus, tapi itu semua seakan sia – sia. Banyak orang yang melanggar protokol kesehatan (Prokes) yang bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Jika masalah ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin makin banyaknya warga yang terinfeksi.

Read More

Virus ini tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tapi masih banyak hal yang sangat terdampak dengan munculnya virus ini. Salah satunya berubahnya pola konsumsi masyarakat yang mulai menggunakan sesuatu hal yang dianggap baru, masyarakat saat ini beralih dari kegiatan yang biasanya dilakukan secara tatap muka menjadi kegiatan yang dilakukan secara online atau daring.

Selain itu, banyak sektor pemerintahan yang mengalami banyak perubahan di kala pandemi, mulai dari sektor pendidikan yang memberhentikan sementara pembelajaran tatap muka yang digantikan pembelajaran berbasis online, sampai kegiatan keagamaan yang sangat dibatasi jumlah jamaah yang harus dikurangi lebih dari separuh.

Tidak hanya itu, sektor ekonomi menjadi salah satu sektor yang terdampak dengan adanya virus ini. Perekonomian seakan kembali seperti Orde Baru yang mengakibatkan banyak pedagang yang terpaksa gulung tikar karena sedikitnya pembeli yang datang karena diterapkannya pembatasan yang melarang warga berkumpul di suatu tempat dengan jumlah yang besar.

Namun pemerintah terus berupaya untuk mengembalikan keterpurukan yang terjadi akibat wabah COVID-19 ini. Pemerintah akan memberikan bantuan-bantuan kepada masyarakat yang terdampak virus ini, mulai dari pemberian bantuan kepada warga miskin dalam bentuk bahan pangan sampai bantuan uang tunai untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari hari.

Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan kuota internet bagi pelajar dan guru di seluruh Indonesia, guna tercapainya pembelajaran yang dilakukan secara online yang menggunakan kuota internet. Pemerintah juga melakukan rencana jangka panjang untuk menvaksinasi seluruh warga Indonesia supaya angka pertumbuhan covid-19 bisa terputus dan perekonomian Indonesia kembali stabil dan kehidupan masyarakat kembali norma.

Namun ada hal yang mungkin dilupakan pemerintah yang akan menjadi persoalan di waktu yang akan datang, yaitu persoalan budaya, tata krama dan sopan santun yang mulai ditinggalkan dikarenakan pandemi ini. Masyarakat dianjurkan untuk menjaga jarak dan dilarang untuk bersalaman dengan orang lain, yang bertujuan untuk mengurangi penambahan kasus covid-19.

Kita semua mungkin menganggap hal tersebut suatu hal yang sepele, itu hanya sebuah kebiasaan yang terjadi secara turun temurun dan tidak akan mempengaruhi kehidupan jika kebiasaan tersebut ditinggalkan. Namun itulah yang menjadi permasalahan bangsa ini, kebudayaan dan tata krama yang telah ada dari zaman dulu dan menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa dengan kebudayaan yang beragam dan keramah tamahan penduduknya seakan akan hilang.

Masyarakat akan terbiasa untuk hidup secara sendiri dan menjaga jarak antara satu sama lain. Anak – anak akan menghabiskan waktu untuk bermain game online daripada harus bermain permainan tradisional dengan teman sebayanya. Itu semua pasti akan mempengaruhi jiwa sosial masyarakat yang sudah terbiasa hidup sendiri tanpa bergaul dengan orang lain secara langsung.

Kebudayaan akan semakin ditinggalkan, karena prioritas utama saat ini hanyalah sebatas persoalan ekonomi. Masyarakat lebih memilih untuk meningkatkan perekonomian keluarga daripada harus memikirkan kebudayaan yang telah melekat pada diri mereka. Mereka akan berfikir untuk melakukan sesuatu hal yang berdampak baik bagi perekonomian, meskipun meninggalkan budaya yang telah mereka jalani.

Selain itu, masyarakat telah terbiasa melakukan kegiatan baru di kala pendemi ini, sebut saja cara seseorang bersalaman jika bertemu dengan sanak saudara ataupun temannya. Dahulunya seseorang akan mencium tangan orang yang lebih besar darinya, yang menandakan jika kita menghormati orang yang lebih tua. Tapi mirisnya di saat pandemi, orang – orang bersalaman menggunakan siku demi menghindari sentuhan tangan yang ditakutkan bisa menyebarkan virus melewati sentuhan tangan. Tapi yang harus diwaspadai, jangan sampai kebiasaan baru ini terus dilakukan yang akan mengakibatkan kebiasaan cium tangan menjadi hilang.

Ditambah lagi dukungan orangtua yang tidak memberikan pendidikan dasar tentang kebudayaan kepada anak – anaknya, yang mengakibatkan semakin terlupakannya sebuah kebudayaan di kalangan anak-anak.

Pemerintah saat ini lebih mengutamakan kesehatan, ekonomi, pendidikan dan kesejahteraan penduduk, mestinya melakukan kajian terhadap dampak yang ditimbulkan karena adanya pandemi ini. Pemerintah perlu mengambil tindakan untuk memperbaiki kebudayaan yang mulai ditinggalkan karena pembatasan sosial yang melarang perkumpulan dalam jumlah yang banyak.

Pemerintah harus bisa menghidupkan kembali tradisi – tradisi yang telah ditinggalkan selama masa pandemi. Karena budaya merupakan suatu identitas bangsa yang tidak akan bisa dikembalikan jika sebuah kebudayaan telah hilang. Kalau bisa pemerintah harus turun tangan dan menjadi wadah yang akan memulai sebuah kebudayaan yang telah lama ditinggalkan. Salah satunya memberikan perhatian khusus dalam bentuk bantuan untuk mengadakan sebuah pertunjukan – pertunjukan kebudayaan.

/* Penulis: Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas

Related posts