Pantangan Manikah Sasuku di Adat Minang

  • Whatsapp

Oleh: Jefri Wahyudi

Dalam adat Minang memegang teguh falsafah “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Syarak mangato, adat mamakai” dimana orang minang, adat di Minang sesuai peraturan yang ada dan peraturan itu berpedoman dari Kitabullah (Alqur’an dan Hadist), dalam adat Minang banyak yang mengatakan adat mengharamkan nikah sasuku padahal adat tidak pernah mengharamkan tetapi adat melarang.

Read More

Kawin sasuku (kawin satu suku) hukumnya halal tetapi urang Minangkabau (orang Minangkabau) indak mangarajokan (tidak melakukan), karena ada mudoratnya bagi orang minang, ibarat seseorang yang sedang sakit darah tinggi dan dokter melarangnya untuk makan garam apakah itu berdosa tentu tidak karena ada sebab dan akibat padahal garam itu halal, begitupun dengan kawin sasuku.

Kawin sasuku bukanlah perintah yang di wajibkan tapi hanya sekedar jaiz dikerjakan tidak berpahala dan tidak dikerjakan tidak berdosa. Kalau di bebaskan kawin sasuku di adat Minangkabau akan terjadi kekacauan dan merusak kerukunan, padahal kalau berbicara halal dalam syarak memperbolehkan menikah dengan saudara sepupu anak dari bibi (adik atau kakak kandung dari ibu).

Di dalam Alqur’an ada empat barang yang di haramkan untuk di makan seperti Babi, bangkai, darah, dan binatang yang di sembelih tanpa bismilah, dan seperti cacing, cicak dan kadal itu boleh di makan tetapi kenapa orang tidak memakannya jawabannya hanya satu, jijik karena tidak lazim dilakukan orang, begitupun dengan sasuku halal oleh agama tapi tidak di kerjakan oleh orang Minang.

Tetapi orang minang berpikir bukan hanya sekedar halal tetapi hallalan taiyyibah (Halal lagi baik) untuk kita. Seperti talak dan sumpah di halalkan untuk kerjakan tapi Allah sangat membenci hal tersebut. Dan bagi pelanggar hukum adat ialah dikucilkan dari masyarakat. Dan bagi mereka yang bersikeras untuk menikah satu suku maka akan dikeluarkan dari adat dan dikucilkan dari masyarakat.

5 tipe larangan” Cinto Sasuku” serta sangsinya

Menikah satu suku bagi ketentuan hukum adat Minangkabau mempunyai sanksi tertentu dan bila dilanggar merupakan sanksi moral, dikucilkan dari pergaulan. Bukan saja individu orang yang mengerjakannya, tetapi keluarga besarnya pula hendak menemukan sanksi. Terdapat 5 tipe keadaan? Cinto Sasuku? dengan tingkatan serta hukuman yang berbeda-beda.

Sasuku Sapariuk

Keadaan Sasuku- Saparuik merupakan ikatan satu suku yang bertalian darah langsung. Keduanya berasal dari satu nenek, buyut serta seterusnya. Bila terdapat yang menjalakan ikatan dengan keadaan sasuku- saparuik ini hingga hukumannya sangatlah berat, sebab ikatan tersebut terjalin masih dalam satu keluarga besar.

Bila keduanya dibiarkan menikah hingga dapat mengganggu lapisan ikatan kekeluargaan dalam suku tersebut. Bila memiliki anak, hingga anaknya sendiri merupakan kemenakannnya, mamak rumahnya merupakan dunsanaknya sendiri serta bila terjalin perselisihan antara keduanya dikhawatirkan dapat mengganggu ikatan satu suku ataupun keluarga besar.

Umumnya buat permasalahan ini keduanya hendak sangat dilarang buat menikah. Bila mereka mau senantiasa menikah hingga hendak terusir dari kampung serta tidak memiliki hak atas kalangan serta nagarinya.

Sasuku Sapayuang

Keadaan Sasuku Sapayuang ini merupakan keduanya mempunyai suku yang sama tetapi berasal dari nenek yang berbeda tetapi masih satu Datuk( Penghulu kalangan). Keadaan ini dapat dibilang masih berat serta hukumannya masih sama dengan keadaan sasuku- saparuik. Tetapi di sebagian nagari terdapat pula yang membagikan toleransi tetapi dengan ganjaran denda adat yang lumayan berat.

Sasuku Sakampuang

Cinta terlarang ini diberlakukan sebab keadaan merupakan mempunyai suku yang sama tetapi tidak satu nenek serta tidak satu Datuk cuma satu kampung. Hukuman buat ikatan cinto sasuku pada keadaan ini sama halnya dengan keadaan awal serta kedua. Di sebagian nagari diberi hukuman tidak boleh kembali ke nagari, sebaliknya di sebagian nagari yang lain terdapat pula yang menjatuhkan sanksi berbentuk denda.

Sasuku Sanagari

Mempunyai suku yang sama, tetapi tidak satu nenek, tidak satu Datuk, tidak satu kampung cuma satu nagari. Biasanya hukuman yang diterapkan buat keadaan ini sama dengan hukum yang diterapkan dalam ketentuan cinta terlarang Sasuku Sakampuang.

Cuma nama suku yang sama

Keadaan larangan nikah satu suku ini merupakan yang sangat ringan dimana cuma nama suku saja yang sama, sedangkan nagari, kampung serta yang lain telah berbeda. Biasanya kedua Pendamping yang terjebak dalam keadaan ini diperbolehkan buat menikah, walaupun hendak pernah menemukan pertentangan dari bermacam pihak ataupun tetua adat.

/*Penulis :Mahasiswa Jurusan, Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuludhin Adab dan Dakwah, IAIN Bukittinggi.

Related posts