Paradigma Islam Membangun Negara Ditinjau dari Aspek Ekonomi dan Budaya

  • Whatsapp
Hayatul Nisa (Foto. Dok. Istimewa)

Oleh: Hayatul Nisa

Kontradiktif dalam konteks hubungan politik antara Islam dan negara di negara-negara Muslim atau negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia. Kedua hal tersebut yakni Pertama, posisi Islam yang menonjol karena kedududukannya sebagai agama yang dianut sebagian besar penduduk negara setempat. Kedua, sekalipun dominan Islam hanya berperan marjinal dalam wilayah kehidupan politik negara bersangkutan, Manusia adalah unsur pelaku dalam proses pembanguna ekonomi. Oleh karena itu nilai-nilai keagamaan yang menggerakkan setiap individu mejadi utama dalam mendukung keberhasilan proses ini.

Read More

Dalam pemikiran politik Islam terdapat paling tidak tiga paradigma tentang hubungan agama dan negara. Nuansa di antara ketiga paradigma ini terletak pada konseptualisasi yang diberikan kepada kedua istilah tersebut (Agama dan Negara). Dalam persoalan Islam dan Negara, al-Qur`an tidak memuat secara eksplisit untuk mendirikan negara. Seperti di-kemukakan oleh Munawir Sjadzali yang dikutip oleh Abdul Azis Thaba, bahwa Islam tidak memiliki preferensi terhadap sistem politik yang mapan tetapi hanya memiliki seperangkat tata nilai etis yang dapat dijadikan pedoman penyelenggaraan Negara.

Menurut Sutan Emir, ZISWAF menawarkan instrumen keuangan sosial bagi masyarakat miskin dan kelompok yang membutuhkan. ZISWAF memiliki potensi yang besar dalam mengurangi beban fiskal pemerintah dalam menghadapi pandemi covid-19 terutama untuk memenuhi kebutuhan pokok. ZISWAF memberikan sumbangsih terhadap pembangunan infrastruktur nasional. “Bahkan menurut laporan UNDP 2017 dana zakat 500 miliar dolar pertahun dan ini 20 kali lebih besar dari dana kemanusiaan Agar pengumpulan dana keuangan sosial syariah ini lebih efektif, diperlukan satu program yang terintegrasi dalam sebuah sistem.“Tren pembayaran ZISWAF dari tahun 2002 sampai 2019, muzaki membayar langsung ke mustahik. Saat ini pemerintah mem-bangun ekonomi negara dengan badan amil zakat membuat sebuah program yaitu zakat berbasis wilayah, agar pengumpulan dan penyaluran dana ZISWAF efektif dan tepat sasaran.

Ekonomi merupakan bagian integral dari ajaran Islam, dan karenanya ekonomi Islam akan terwujud hanya jika ajaran Islam diyakini dan dilaksanakan secara menyeluruh. Ekonomi islam mempelajari perilaku ekonomi individu-individu yang secara sadar dituntun oleh ajaran Islam, al-Quran dan Sunnah dalam memecahkan masalah ekonomi yang dihadapinya.

Tidaklah aneh jika dikatakan bahwa tujuan Islam pada dasarnya sederhana, yaitu membawa kebahagiaan hidup bagi manusia. Kebahagiaan tersebut bisa didapatkan manakala manusia dapat membedakan antara kebutuhan mereka dan tujuan hakiki yang hendak mereka tuju melalui proses pemenuhan atas kebutuhan yang beragam tersebut. Karenanya, ketika seseorang mengalami kebingungan men-genai tujuan hidupnya, maka orang tersebut pada dasarnya belumlah mencapai derajat kesejahteraan yang optimal meskipun orang tersebut telah melampaui ukuran sejahtera.

Mendefinisikan istilah social berkai-tan erat dengan konteks kebudayaan dari orang-orang yang dibincang kesejahteraan-nya tersebut. Lekatnya kesejahteraan sosial dengan konteks budaya mengandung arti bahwa kesejahteraan sosial bermakna sangat luas, bahkan hampir-hampir tidak dapat didefinisikan dengan rinci. Apa yang dianggap sebagai sejahtera dalam sebuah sistem kebudayaan yang satu bisa jadi berbeda dengan apa yang dimaksud sejahtera dalam sistem kebudayaan lainnya. Oleh sebab luasnya cakupan dari kesejahteraan sosial,  maka mendefinisi-kannya secara rinci tanpa mereduksi batas-batas konteksnya menjadi suatu hal yang hampir mustahil.

*/ Penulis adalah Peserta Advance Training Badko Riau-Kepri.

Related posts