Parenting adalah Solusi yang Tepat untuk Cegah Cyberbullying

  • Whatsapp
Ilustrasi bullying.

Oleh: Farhana Ainaya Qalbi

Kasus Cyberbullying merupakan kasus yang marak diperhatikan akhir-akhir ini. Karena perilaku ini telah banyak memakan sejumlah korban. Sebuah survey yang diadakan di Inggris mengatakan bahwa sekitar 89% pengguna media sosial pernah ditindas di situs web tertentu (Ditch the Label, 2013). Bahkan dampak ini telah menyebar ke kasus bunuh diri, seperti kasus kematian artis korea, Suli.

Studi menunjukkan bahwa cyberbullying lebih kuat dengan keinginan bunuh diri dibandingkan bullying secara tradisional (Van Geel, Vedder, & Tanilon, 2014). Jumlahnya juga dua kali lebih banyak dari pada penindasan tradisional serta pelaku yang terlibat dalam cyberbullying, berkemungkinan besar telah terlibat dalam bullying tradisional.

Terkait maraknya kasus cyberbullying ini, tentunya orang tua harus semakin waspada dan semakin memperhatikan perilaku anak. Terdapat banyak faktor sebagai pemicu adanya perilaku cyberbullying, seperti faktor lingkungan, peran guru, teman sebaya, dan lain sebagainya.. Namun, dari sekian faktor tersebut, adakah hubungan perilaku cyberbullying dengan pola asuh orang tua? Pola asuh apakah yang paling tepat?
Saat ini memang belum ada bukti yang jelas tentang gaya pengasuhan yang mana yang akan bertindak sebagai faktor pelindung dan mana yang akan bertindak sebagai faktor risiko cyberbullying.

Namun, terdapat beberapa kaitan pola asuh dengan perilaku cyberbullying yaitu dalam sebuah studi yang menunjukkan bahwa remaja yang diasuh melalui pola asuh otoritatif menunjukkan kemungkinan kecil tindak perilaku cyberbullying (Zurcher J.D et al, 2018; Martínez, I et al, 2019; Elsaesser, C et al, 2017).
Orang tua yang autoritatif memberikan dukungan dalam menanggapi perilaku konstruktif anak, sekaligus mengharapkan perilaku dewasa, mandiri dan sesuai dengan usianya. Mereka selalu menjadi pendengar yang baik dan penasehat yang baik. Hal ini berdampak pada pandangan anak yang sangat memelihara hubungan persahabatan dengan teman sebayanya dan pandai meregulasi emosi.

Sebaliknya, gaya asuhan otoriter dan lalai (authoritarian) berhubungan dengan tingkat penyesuaian anak yang rendah, seperti rendahnya harga diri, ketidakstabilan emosional dan tidak memiliki responsif emosi yang dapat memicu berbagai kejahatan remaja (Martínez, Fuentes, García, & Madrid, 2013).
Gaya asuh authotitarian dicirikan dengan sikap orang tua yang otoriter, seringkali terdapat kekerasan fisik, dan menegakkan aturan dengan kaku.. Gaya asuh ini akan memunculkan sikap agresif, lebih cenderung memiliki gejala depresi, serta memiliki konsep regulasi emosi yang rendah.

Jika melihat dari gaya asuhan yang memanjakan/indulgent terdapat viktimasi cyberbullying yang rendah karena adanya penerimaan dan keterlibatan orang tua..Sebuah studi mengatakan terdapat perbedaan yang signifikan antara gaya asuh indulgent dan authoritarian pada laki-laki yang mengatakan bahwa indulgent memiliki viktimasi cyberbullying yang rendah dan sama atau bahkan lebih baik hasilnya daripada autoritatif (Martínez, I ,2019). Namun, pada perempuan tidak ada prbedaan yang signifikan antara empat pola asuh ini.
Jika melihat dari gaya asuh neglectful, terdapat kemungkinan tindak perilaku cyberbullying karena peran orang tua yang lalai dan kurangnya pengawasan menyebabkan anak memiliki control diri yang buruk, tidak dewasa dan berkemungkinan besar kelak ketika remaja memiliki perilaku kenakalan remaja.
Pemikiran gaya asuh mana yang terbaik juga memiliki sejumlah peringatan. Pertama, perlu diperhatikan bahwa sosialisasi dan imitasi hubungan timbak-balikantar orang tua dan anak merupakan suatu hal yang sangat penting. Kedua, perlunya gabungan beberapa pola asuh anak, karena diberbagai situasi tentu perlu berbeda-beda cara penyampainnya.
Dari sekian banyak pendapat mungkin faktor yang paling rendah dalam pemicu tindak cyberbullying adalah pola asuh authoritative dan indulgent, sedangkan yang paling berisiko adalah authoritarian. Meskipun hal ini mungkin tidak berpengaruh pada anak yang dapat meregulasi emosi dengan baik, namun mari kita lihat sisi positif dari pola asuh ini.

Pola asuh indulgent memang memiliki tingkat yang rendah viktimasi cyberbullying namun jika dikaitkan dengan sikap yang lain, dapat berefek pada perilaku anak yang egois, suka menunut, memberontak, kurang menghormati orang lain dan cenderung sulit mengendalikan perilaku. Dari sini penulis lebih menekankan pada gaya asuh autoritatif sebagai gaya asuh yang terbaik bagi orang tua untuk menjauhkan anak dari perilaku cyberbullying. Anak akan dapat mengetahui mana batasan-batasan yang tidak boleh dilewati, namun dapat bekreatifitas dengan baik.

*/Penulis adalah Mahasiswi Universitas Gadjah Mada semester 3

Related posts