Payakumbuh Urutan 3 Tertinggi Tingkat Penyalahgunaan Narkoba di Sumbar

  • Whatsapp
Kepala BNN Kota Payakumbuh, AKBP Sarminal memaparkan materi dalam kegiatan Workshop di Payakumbuh, Rabu (14/7) kemarin. (Foto: Aking Romi Yunanda)

MINANGKABAUNEWS.COM, PAYAKUMBUH – Angka peredaran gelap narkoba di Kota Payakumbuh terbilang masih tinggi di Sumatera Barat. Bahkan, Payakumbuh tercatat berada di peringkat 3 daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Barat tertinggi dalam hal angka penyalahgunaan narkoba berdasarkan data Mapolda Sumbar.

Kepastian tersebut disampaikan Kepala BNN Kota Payakumbuh, AKBP Sarminal, saat membuka acara workshop peningkatan Kapasitas Insan Media untuk Mendukung Kota Tanggap Ancaman Narkoba pada Sektor Kewilayahan yang digelar BNN Kota Payakumbuh di aula hotel Mangkuto kawasan Kaniang Bukit, Rabu (14/7) kemarin.

Ia juga menyampaikan bahwa tingginya jumlah pemakai dan penyalahgunaan narkoba di wilayah hukum Polres Payakumbuh, yang saat ini berada di bawah Kota Padang. Payakumbuh, menjadi sasaran para pengedar/bandar Narkoba yang berasal dari sejumlah Provinsi, baik dari Aceh, Sumatera Utara maupun Riau.

Perlu Kesadaran Masyarakat Kota Payakumbuh untuk melaporkan penyalahgunaan, peredaran gelap narkoba dan melaporkan anggota keluarga yang ingin di Rehabilitasi. “Data dari Polda Sumbar, Payakumbuh berada diperingkat tiga besar dalam kasus Penyalahgunaan Narkoba. Tingginya jumlah pemakai menjadikan daerah ini sasaran para pengedar dan bandar,” ucap Sarminal.

Mantan Kabagops Polres Payakumbuh itu menyebut, tingginya biaya atau upah yang diberikan pada bandar atau kurir dalam membawa Narkoba, membuat banyak pihak tergoda membawa/mengedarkan barang haram narkoba.

Menurut mantan personil Dirnarkoba Polda Sumbar itu, perlu Kesadaran Masyarakat Kota Payakumbuh untuk melaporkan Penyalahgunaan, Peredaran Gelap Narkoba dan Melaporkan Anggota Keluarga mereka yang ingin di rehabilitasi, sehingga upaya pencegahan bisa dilakukan sedari dini.

“Kita terus dorong masyarakat untuk melaporkan adanya penyalahgunaan narkoba, termasuk melaporkan anggota keluarga mereka pecandu narkoba yang ingin di rehabilitasi,” tambahnya.

Selama ini, dikatakan, keaktifan pihak keluarga korban penyalahgunaan Narkoba untuk melaporkan anggota keluarga mereka yang ingin direhabilitasi cukup tinggi dan aktif, termasuk dari lingkungan masyarakat.

“Kita dorong korban penyalahgunaan narkoba melapor ke BNNK Payakumbuh, nantinya dari hasil assesmen harus direhabilitasi, akan dilanjutkan untuk direhab 2 hingga 3 bulan di Batam secara gratis. Kita apresiasi Kelurahan Nunang Daya Bangun, salah satu kelurahan Bersih Narkoba (BERSINAR) yang mana lurah dan masyarakat aktif dalam membantu warganya yang melakukan rehab secara mandiri,” jelasnya.

Adapun, Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Payakumbuh, Ahmad Zulfikar yang ikut menjadi pembicara dalam workhop itu menyebut lebih 50 persen menyidangkan perkara terkait Narkoba. Ini menunjukkan bahwa Kota Payakumbuh sangat rentan terhadap transaksi dan peredaran gelap narkoba.

“Mengingat, letak Payakumbuh begitu strategis diperlintasan Sumbar-Riau. Lebih 50 persen perkara di PN Payakumbuh adalah perkara Narkoba,” kata Ahmad Zulfikar ketika menjadi pembicara dalam workshop tersebut.

Dalam rinciannya, tahun 2018 terdapat 63 perkara narkoba, dan naik jadi 78 perkara di tahun 2019, namun turun di masa pandemi Covid-19 menjadi 68 kasus. Sementara tahun 2021 ini dari Januari hingga Juli terdapat 30 perkara. “Sejak pendemi trend kasus Narkoba yang disidangkan memang turun,” sebutnya.

Dia mengaku cemas dan khawatir dengan banyaknya kasus narkoba yang mendominasi masuk dipersidangan. Untuk itu dirinya berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kota Payakumbuh khusus untuk menyediakan tempat rehabilitasi.

“Selama ini PN Payakumbuh belum pernah menjatuhkan Vonis rehabilitas dalam perkara narkoba,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Payakumbuh, Suwarsono yang diwakili Hadi Putra menyebut, pihaknya sepakat mengatakan tidak pada narkoba dan mendorong upaya pemberantasan dan pencegahan Narkoba di Payakumbuh.

Dia turut berharap dukungan dari masyarakat, terutama saat diminta hadir dalam persidangan kasus Narkoba. Sebab kendala selama ini adalah saksi penangkapan Narkoba jarang datang dengan sejumlah alasan/kendala.

“Selama ini kendala yang sering kita alami saat persidangan ada kehadiran saksi yang minim, untuk itu kita minta saat penangkapan saksi busa lebih dari dua orang,” jelas Hadi.

Terakhir, Kepala Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh, dr Bahkrizal menyampaikan rehabilitasi bagi pencandu narkotika dari sisi medis, bahwa akibat narkoba merusak kesehatan dan bisa menyebkan kecanduan. Untuk itu dirinya ini mengajak semua pihak untuk menjauhi narkoba. (akg)

Related posts