MINANGKABAUNEWS, SOLOK KOTA – Bencana Hidrometeorologi yang melanda wilayah Kota Solok beberapa waktu lalu, menyisakan berbagai kerusakan dan kerugian yang perlu segera dibenahi, direhabilitasi, dan direkonstruksi.
Kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan pasca bencana hidrometeorologi ini bukan hanya kerusakan benda ataupun fisik semata. Tapi terjangan banjir yang berasal dari aliran Sungai Batang Gawan, Batang Lembang, dan Batang Binguang, juga merusak sentra ekonomi masyarakat di Kota Solok.
Ribuan hektar sawah terendam air bah akibat hujan terus menerus tanpa henti selama beberapa hari, akibatnya banyak lahan pertanian padi yang gagal panen bahkan terendam lumpur sehingga memerlukan biaya ekstra untuk bisa kembali dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Sementara Kota Solok merupakan salah satu lumbung pangan di Provinsi Sumatera Barat.
Pada November 2025 lalu, Pemerintah Kota Solok melalui Dinas Pertanian dan Pangan telah mempercepat proses rehabilitasi lahan pertanian yang terdampak banjir bandang tersebut.
Data Dinas Pertanian dan Pangan Kota Solok, total lahan pertanian terdampak mencapai sekitar 68 hektare dengan estimasi kebutuhan anggaran rehabilitasi lebih dari Rp900 juta.
Kerusakan terparah terjadi pada lahan yang tertimbun material banjir berupa pasir dan lumpur dengan ketebalan mencapai 30 hingga 50 sentimeter, terutama di kawasan sekitar Batang Gawan. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian lahan tidak dapat langsung digunakan untuk bercocok tanam dan membutuhkan penanganan khusus.
Selain itu, terdapat sekitar 10 hektare sawah dengan kategori rusak ringan yang telah ditangani melalui program optimalisasi lahan (oplah).
Data BPBD Kota Solok, Banjir akibat bencana Hidrometeorologi tersebut merendam 224 bangunan berupa rumah, 598 KK, dengan 3.362 warga terdampak.
Banjir tersebut melanda dua kecamatan, Kecamatan Tanjung Harapan (Kelurahan Koto Panjang dan Nan Balimo) serta Kecamatan Lubuk Sikarah (Kelurahan Kampai Tabu Karambia, IX Korong, Aro IV Korong, Sinapa Piliang, VI Suku, dan Tanah Garam).
Untuk kondisi ini, Walikota Solok telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir melalui Keputusan Nomor 100.3.3.3-2212-2025.
Agar Rekon bisa berjalan maksimal, saat ini BPBD Kota Solok mendapat dukungan dana TKD sebesar Rp1,5 miliar. Dari anggaran itu, dialokasikan untuk pembangunan gudang logistik dan garasi kendaraan operasional senilai Rp900 juta. Rp500 juta dialokasikan untuk pengadaan peralatan kebencanaan.
Selain itu, Rp132 juta untuk penyusunan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) yang akan menjadi dasar dalam perencanaan pembangunan daerah berbasis mitigasi dan pengurangan risiko bencana.
Terpisah, Walikota Solok DR. Ramadhani Kirana Putra dihadapan Minangkabaunews.com, Senin (14/7/2026), menuturkan, Pemerintah Kota Solok akan terus berupaya memulihkan lahan pertanian, fasilitas umum, rumah warga, serta warga yang terdampak bencana hidrometeorologi beberapa waktu lalu tersebut.
“Beberapa lahan pertanian sudah kita rehabilitasi dan sudah bisa kembali digunakan untuk bercocok tanam. Begitu juga dengan fasilitas umum juga sudah bisa digunakan warga, warga juga sudah dibantu semaksimal mungkin kolaborasi Pemerintah Kota Solok, TNI, Polri, BPBD, BNPB, dan instansi terkait lainya” ujarnya.
“Atas nama Pemerintah Kota Solok, Saya Ramadhani Kirana Putra, Walikota Solok menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap warga Kota Solok, relawan, Pemerintah Daerah, TNI, Polri, dan instansi vertikal lainnya, atas bantuan yang diberikan pada Pemerintah Kota Solok” pesan Dhani menambahkan.***
