Pemuda dan Moderasi Beragama

toleransi
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh : Suci Wulandari

Pemuda memiliki peran penting dalam menjaga dan merawat keberlangsungan negara dan bangsa. Terlebih juga pemuda memiliki penting dalam merawat moderasi dalam agama, kedamaian dan persatuan bangsa.

Read More

Pepatah Arab mengatakan “Syubbanu al-yaum rijal al-ghad”. Dengan demikian, pemuda memikliki posisi dan peran yang sangat penting bagi agama dan negara. Masa depan sebuah bangsa akan ditentukan oleh pemudanya masa kini. Maka apa yang tertanam dalam jiwa pemuda saat ini akan mempengaruhi keberlangsungan dan ketertiban di masa depan.

Pemuda dan moderasi beragama adalah bagaiman sifat dan sikap para pemuda, serta seberapa besar pemuda dalam menjaga dan meneruskan perjuangan hidup dalam beraga dan bernegara.

Ya, tentu hal ini sangat penting sekali, mengingat bahwa pemuda adalah manusia yang memiliki jiwa semangat dan penuh motifasi dalam hidupnya. Maka pembekalan dan penanaman sifat serta sikap dalam moderasi beragama ini sangat penting bagi para pemuda. Jangan sampai para pemuda kita yang seharusnya menjadi penerus dan penopang kedamain dalam agama dan negara justru palah menjadi beban dan perusak ketentraman di kemudian harinya.

Lalau bagaimana cara mnciptakan pemuda yang bermoderasi dalam agama? Sekurang- kurangnya ada 3 sikap yang harus ada dalam pemuda.

  1. Tasamuh, yaitu bagaimana kita sebagai pemuda harus menanamkan sifat murah hati dan lapang

Tasamuh adalah sikap akhlak terpuji dalam pergaulan, di mana terdapat rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan oleh agama Islam. Secara etimologis, tasamuh adalah menoleransi atau menerima perkara secara ringan. Sedangkan menurut terminologis, tasamuh diartikan sebagai sikap menerima perbedaan dengan ringan hati.

Untuk mempunyai akhlakul karimah dalam bentuk tasamuh, maka perlu melakukan hal-hal seperti di bawah ini:

  1. Memahami jalan pikiran orang lain atas perbuatan yang dilakukan. Dengan demikian kita dapat lebih mengetahui hakikat dari perbuatan tersebut. Dengan kata lain, tidak hanya menilai fakta, namun perlu memahami proses.
  2. Menghargai dan menghormati hak-hak orang lain. Sebagaimana kita juga merasa senang jika keadaan kita dihargai dan dihormati oleh orang
  3. Mencoba mengetahui lebih mendalam atas perbuatan orang lain terhadap kita. Sehingga mengetahui sejauh manakah hubungan perbuatan dengan motivasi, keyakinan dan
  4. Berusaha lebih teliti melihat perbuatan sendiri. Kemungkinan, orang lain lebih benar daripada apa yang kita
  5. Senantiasa mengevaluasi diri. Sehingga tahu akan kekurangan diri sendiri untuk diperbaiki dan mau menghargai orang

Menurut Hamka seperti ditulis dalam Akhlaqu Karimah, tasamuh yang diperbolehkan itu selama tidak menimbulkan mudharat pada agama, seperti mencela agama sendiri. Menurutnya, tasamuh juga diartikan sebagai sikap untuk berlapang dada kepada orang lain.

  1. Tawasut atau I’tidal, yaitu adalah sikap netral yang berintikan pada prinsip hidup menjunjung tinggi nilai keadilan di tengah-tengah kehidupan bersama, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Sikap ini dikenal juga dengan sebutan moderat (al- wasathiyyah).

ada lima alasan mengapa sikap tawassuth dianjurkan ada pada diri seorang Muslim, yaitu:

  1. Sikap tawassuth dianggap sebagai jalan tengah dalam memecahkan masalah, maka seorang Muslim senantiasa memandang tawassuth sebagai sikap yang paling adil dalam memahami
  2. Hakikat ajaran Islam adalah kasih sayang, maka seorang Muslim yang bersikap tawassuth senantiasa mendahulukan perdamaian dan menghindari
  3. Pemeluk agama lain juga mahluk ciptaan Allah yang harus dihargai dan dihormati, maka seorang Muslim yang bersikap tawassuth senantiasa memandang dan memperlakukan mereka secara adil dan setara
  4. Ajaran Islam mendorong agar demokrasi dijadikan alternatif dalam mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan, maka Muslim yang bersikap tawassuth senantiasa mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan dan
  5. Islam melarang tindakan diskriminasi terhadap individu atau kelompok. Maka sudah sepatutnya seorang Muslim yang bersikap tawassuth senantiasa menjunjung tinggi
  1. Tawazun, sikap seimbang dalam segala aspek dan berbagai hal. Yaitu, suatu sikap seseorang untuk memilih titik yang seimbang atau adil dalam menghadapi suatu persoalan.

Oleh karena itu sikap tawazun ini harus diterapkan dan dilaksanakan dalam diri para pemuda; agar mereka dapat melakukan segala sesuatu dengan seimbang dalam kehidupannya. Karena jika mengabaikan sikap tawazun dalam kehidupan ini, maka akan lahir berbagai masalah.

Meskipun tawazun memiliki arti sebagai suatu keseimbangan atau adil, hal itu bukan berarti harus menempatkan posisi di tengah-tengah atau jalan tengah. Karena realitanya suatu pertengahan belum tentu menunjukkan suatu keseimbangan, karena tergantung bobotnya.

Contoh mudahnya dapat dalam lingkup keluarga, seorang ibu mempunyai dua orang anak, yang satu sedang duduk di bangku SD, sedangkan yang lain duduk di bangku perguruan tinggi. Tentunya si Ibu tersebut tidak akan memberikan uang saku dengan jumlah yang sama kepada masing-masing anaknya tersebut. Jika Ibu tersebut berpegang pada prinsip keadilan dan seimbang tentu ia akan memberikan uang dengan dengan jumlah yang lebih kepada anaknya tertua; karena anak ini mempunyai kebutuhan yang lebih daripada adiknya yang masih SD.

Sebagai insan yang muslim dan beriman penting menerapkan sikap tawazun. Tujuannya adalah agar kita tidak melakukan sesuatu hal yang berlebihan dan mengesampingkan hal-hal yang lain atau bahkan melupakannya, karena kita memiliki dan menunaikan hak untuk diri kita.

Dengan demikian maka, kita sangat berharap bahwa para pemuda menanamkan sikap-sikap bijak tersebut demi terciptanya agama dan negara yang damai dan Makmur. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Related posts