Pemuda Pembuat Peradaban

  • Whatsapp
Arven Marta (Foto. Dok. Istimewa)

Oleh: Arven Marta

28 Oktober 1928 merupakan titik balik kehidupan peradaban berbangsa dan bernegara. Tepat pada tanggal itu, pemuda dari seluruh Indonesia berikrar dan bersumpah untuk berbangsa satu, berbahasa satu dan bertanah air yang satu.

Read More

Setelah pengucapan ikrar atau pun sumpah (dari) pemuda, maka fase kehidupan berbangsa dan bernegara memasuki peradaban yang baru. Istilah nya bisa kita sebut sebagai ‘new era’.

New era yang akhirnya menimbulkan semangat juang baru bagi pemuda untuk ikut bahu membahu menghajar serangan penjajah yang terus menerus mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara.

Tidak berlebihan juga kiranya saya menyebut peristiwa pada tanggal 28 Oktober 1928 sebagai peradaban baru pemuda Indonesia. Setidaknya, setelah peristiwa yang kita kenal dengan nama Sumpah Pemuda ini, ada rasa optimisme yang tinggi agar seluruh elemen bangsa dapat mengusir penjajahan dari bumi pertiwi.

Kalau kita kilas balik kembali, momentum 28 Oktober 1928 menjadi kekuatan super bagi bangsa. Kekuatan persatuan, persamaan dan keutuhan bangsa serta negara menjadi awal mula peradaban bangsa dan negara kedepannya.

Tak butuh waktu lama, 17 tahun setelah itu atau pada tahun 1945, dengan desakan pemuda akhirnya bangsa ini bisa memproklamirkan kemerdekaan. Lagi-lagi, terjadi peradaban baru bagi bangsa yakni peradaban tanpa penjajahan. Pemuda pun memegang peranan penting dibalik peristiwa proklamasi kemerdekaan.

Seharusnya, dengan keberhasilan pemuda membuat peradaban baru dalam babakan sejarah Indonesia sebelum kemerdekaan, membuat pemuda harus tetap memiliki semangat untuk menciptakan kembali peradaban baru.

Tentu, proses penciptaan peradaban baru tidak lagi melawan penjajahan dengan senjata. Penciptaan peradaban baru cukup dilakukan dengan selalu mengambil peran dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Peran tersebut tentunya yang utama adalah tetap mempertahankan identitas pemuda Indonesia. Sebab, pada era sekarang ini pemuda banyak yang kehilangan identitas.

Identitas pemuda sebagai agen perubahan sudah menjadi kabur. Pemuda harus bisa meletakkan posisi agen perubahan ke posisi semula.

Pemuda yang diharapkan menjadi tulang punggung kemajuan bangsa merupakan aset paling penting yang harus terus dijaga. Menjaga pemuda berarti sama dengan menjaga bangsa dan negara.

Menjaga pemuda dapat dilakukan dengan cara tetap mempertahankan ciri khas dan identitas pemuda. Ingat, ciri khas dan identitas pemuda Indonesia adalah berbangsa satu, berbahasa satu, dan bertanah air satu.

Semua identitas dan ciri khas tersebut harus selalu melekat dalam tubuh setiap pemuda. Jika sudah melekat, sudah saatnya pula pemuda untuk membuat peradaban baru.

Sebuah keniscayaan juga bagi bangsa dan negara saat peradaban baru diciptakan kembali oleh pemuda, maka bangsa dan negara ini bisa menjadi Indonesia Maju.

Selamat hari Sumpah Pemuda. Hidup pemuda, jaya Indonesia. Yakin usaha sampai.

*// Penulis adalah Ketua Bidang Pertahanan dan Keamanan PB HMI

Related posts