Pengaruh Gaya Kepemimpinan Laissez Faire untuk Meningkatkan Mutu SDM

  • Whatsapp
Dr. Hj. Demina, M.Pd, Firman, M.Pd.I, Tasya Tsalsabillah, Teza Suspela
Dr. Hj. Demina, M.Pd, Firman, M.Pd.I, Tasya Tsalsabillah, Teza Suspela.

Oleh: Dr. Hj. Demina, M.Pd, Firman, M.Pd.I, Tasya Tsalsabillah, Teza Suspela
(Dosen dan Mahasiswa IAIN Batusangkar)

Dalam sebuah organasasi atau lembaga pendidikan pasti memiliki pemimpin. Pemimpin adalah seorang yang mengkepalai agar berjalannya suatu kegiatan organisasi, dalam melakukan kegiatan tersebut pemimpin menggunakan pola tingkah laku atau gaya yang dilakukannya dalam memimpin suatu organisasi tersebut. Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang dilakukan oleh pemimpin dalam memimpin atau memanajerkan suatu organisasi atau kegiatan agar terjalannya kegiatan tersebut dan hasil akhirnya adalah mencapai tujuan yang diharapkan bersama oleh organisasi tersebut. Menurut James, bahwa gaya kepemimpinan adalah berbagai pola tingkah laku yang disukai oleh pemimpin dalam proses mengarahkan dan mempengaruhi pekerja. Sedangkan menurut Tompubolon, gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba untuk mempengaruhi kinerja bawahannya. Dapat diartikan bahwa gaya kepmimpinan adalah strategi yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam rangka mengarahkan, mempengaruhi, mendorong dan mengendalikan orang lain atau bawahan untuk bisa melakukan suatu pekerjaan atas kesadarannya dan sukarela dalam mencapai suatu tujuan tertentu yang diharapkan bersama dalam organiasi.

Read More

Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Setiap pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya mempunyai cara dan gaya. Pemimpin itu mempunyai sifat, kebiasaan, temperamen, watak dan kepribadian sendiri yang khas, sehingga tingkah laku dan gayanya yang membedakan seorang pemimpin dari pemimpin yang lainnya.Suatu kegiatan berhasil atau gagalnya tergantung pemimpin yang memanejerkan kegiatan tersebut.Jadi berhasil atau tidaknya tergantung pemimpin yang menjalankan tugasnya. Raph White dan Ronald Lippitt menyatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu gaya yang digunakan oleh seorang pemimpin untuk mempengaruhi bawahan.

Adapun gaya kepemimpinan tersebut adalah gaya kepemimpinan otokratis yang didasarkan atas kendali dari atasannya, gaya kepemimpinan demokratis memberikan perintah setelah mengadakan konsultasi, gaya kepemimpinan laissez faire tidak pernah mengendalikan bawahannya sepenuhnya atau semua kendali diserahkan sepenuhnya kepada bawahannya. Istilah gaya bisa juga diartikan cara yang dipergunakan pemimpin didalam mempengaruhi para bawahannya. Kepemimpinan suatu organisasi perlu mengembangkan staf dan membangun iklim motivasi yang menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi.

Kepemimpinan laissez faire hanya terlihat dalam kualitas yang kecil dimana para bawahannya secara efektif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi, sehingga model ini hanya bisa berjalan apabila bawahan memperlihatkan tingkat kompetensi dan keyakinan akan mengejar tujuan dan sasaran cukup tinggi. Dalam model kepemimpinan ini, pemimpin sedikit sekali menggunakan kekuasaannya atau sama sekali membiarkan bawahannya untuk berbuat sesuka hatinya.

Seorang pemimpin menggunakan tipe kepemimpinan ini menginginkan seluruh anggota kelompoknya berpartisipasi tanpa memaksakan atau menuntut kewenangan yang dimilikinya, Tindakan komunikasi dari pemimpin ini cendrung berlaku sebagai seorang penghubung yang menghubungkan konstribusi atau sumbangan pemikiran dari anggota kelompoknya.Sedangkan menurut Soekarto kepemimpinan laisses faire adalah membiarkan sifatnya untuk berbuat berdasarkan kehendak sendiri dan pemimpin tidak berpatisipasi aktif dalam kegiatan kelompoknya.Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya.Adapun menurut Syahrizal Abbas dalam Safrudin Aziz kepemimpian laissez faire adalah membiarkan stafnya untuk berbuat berdasarkan kehendak sendiri dan pemimpin tidak berpatisipasi aktif dalam kegiatan kelompoknya.Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya.

Jadi untuk menerapkan gaya kepemimpinan laissez faire ini adalah dengan meningkatkan mutu sumber daya manusia, walaupun pemimpin menyerahkan semua kendali terhadap bawahannya. Organisasi atau kegiatan akan tetap terlaksana dengan semestinya karena adanya sumber daya manusia yang bermutu.

Secara bahasa, peningkatan mutu terdiri dari dua kata yaitu peningkatan dan mutu. Kata peningkatan memiliki arti proses, cara, atau perbuatan meningkatkan (usaha, kegiatan, dan lain-lain). Sedangkan kata mutu artinya kualitas atau (ukuran) baik buruk suatu benda, kadar, taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dan sebagainya). Menurut Departemen Tenaga Kerja Indonesia, yang lebih penting dalam upaya peningkatan mutu adalah perilaku manusia (Make People Before Make Product) karena pada intinya, meningkatkan mutu sama artinya dengan membangun manusia seutuhnya.

Peningkatan mutu pada semua jenis dan jenjang pendidikan (dasar, menengah, dan tinggi), pada dasarnya dipusatkan pada tiga faktor utama, yaitu: a. Kecukupan sumber-sumber pendidikan untuk menunjang proses pendidikan dalam arti kecukupan adalah penyediaan jumlah dan mutu guru serta tenaga kependidikan lainnya, buku teks bagi murid dan perpustakaan, dan sarana serta prasarana belajar. b. Mutu proses pendidikan itu sendiri, maksudnya adalah kurikulum dan pelaksanaan pengajaran untuk mendorong para siswa belajar lebih efektif. c. Mutu output dari proses pendidikan, dalam arti keterampilan dan pengetahuan yang telah diperoleh para siswa.

Peningkatan mutu pendidikan sangat ditentukan oleh pimpinan lembaga pendidikan dalam mengelola sumber daya manusianya.Pendidikan dapat dikatakan bermutu dan berkualitas jika semua aspeknya sudah memenuhi standar.Dengan demikian, dalam peningkatan mutu, sumber daya manusia menjadi sangat berpengaruh dikarenakan sumber daya manusia mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan mutu dan kualitas dalam pendidikan.Pada dasarnya suatu lembaga pendidikan bisa berkembang dan maju jika seorang pemimpin dalam lembaga pendidikan tersebut mampu mengelola sumber daya manusia dengan baik dan adanya dukungan sumber daya manusia didalammya.Sehingga setiap lembaga pendidikan yang ingin maju dan berkembang harus memperhatikan sumber daya manusianya agar terwujudnya tujuan pendidikan yang bermutu dan berkualitas.

Sumber daya manusia merupakan satusatunya sumber daya yang memiliki akal perasaan, keinginan, keterampilan, pengetahuan, dorongan, daya, dan karya (rasio, rasa, dan karsa).Semua potensi sumber daya manusia tersebut berpengaruh terhadap upaya organisasi dalam mencapai tujuan.Betapapun majunya teknologi, perkembangan informasi, tersedianya modal dan memadainya bahan, jika tanpa sumber daya manusia sulit bagi organisasi itu untuk mencapai tujuannya.

Menurut Werther dan Davis (1996) dalam Sutrisno (2009:4) menyatakan bahwa sumber daya manusia adalah pegawai yang sipa, mampu, dan siaga dalam mencapai tujuantujuan organisasi. Sebagaimana dikemukakan bahwa dimensi pokok sisi sumber daya adalah kontribusinya terhadap organisasi, sedangakan dimensi pokok manusia adalah perlakuan kontribusi terhadapnya yang pada gilirannya akan menentukan kualitas dan kapabilitas hidupnya. Sumber daya manusia adalah kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu, perilaku dan sifatnya ditentukan oleh keturunan dan lingkungannya, sedangkan prestasi kerja dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasannya. (Widodo, 2015:32). Sutrisno (2009:3), Sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan organisasi tidak dapat dilihat sebagai bagian yang berdiri sendiri, tetapi harus dilihat sebagai satu kesatuan yang tangguh membentuk suatu sinergi.Dalam hal ini peran sumber daya manusia sangat menentukan.

Dalam sebuah organisasi di lembaga pendidikan, peranan sumber daya manusia sangat penting. Peran sumber daya manusia ini akan maksimal jika dikelola dengan baik. Pimpinan lembaga pendidikan sebagai top leader dalam lembaga sekolah mempunyai peran sentral dalam pengelolaan personalia sehingga sangat penting bagi pimpinan lembaga pendidikan untuk memahami dan menerapkan pengelolaan personalia dengan baik dan benar.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia merupakan orang-orang yang melaksanakan tugas dalam lembaga pendidikan yang dikelola dengan baik oleh pemimpin yang berada didalammya untuk mencapai tujuan pendidikan yang efektif dan efisien.Dengan pemanfaatan sumber daya manusia yang dimulai dengan perencanaan yang tepat, pengorganisasian yang mantap, penyusunan staf yang professional, serta melakukan pengarahan dan pengawasan yang terkendali dengan baik dan benar.Maka sumber daya manusia dapat dikatakan sudah terkelola dengan baik melalui manajemen sumber daya manusia.

Kepemimpinan laissez faire untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dengan cara memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada bawahan atas segala keputusan yang dikehendaki oleh bawahan tersebut sehingga bawahan memiliki tingkat intelektual dalam pengambilan keputusan dan pengontrolan dalam setiap organisasi. Kebebasan yang diberikan kepada bawahan adalah upaya untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab kepada masing- masing individu.Untuk itu sebagai bentuk tanggung jawab bawahan terhadap pimpinan maka terdapat rambu- rambu yang tetap harus dipatuhi, yaitu tidak melanggar aturan dan tidak melakukan overloping tugas.Hal ini dimaksudkan agar bawahan tetap dapat melakukan dan melaksanakan tugas serta pengambilan keputusan berdasarkan tugas yang dia peroleh pada bagian maupun unit masing- masing.

Keuntungan dalam menerapkan gaya kepemimpinan laissez faire untuk meningkatkan mutu sumber daya menusia adalah kecepatan dalam pengambilan keputusan sekaligus pemberdayaan bawahan. Hal ini disebabkan dalam pengambilan keputusan adalah orang yang mengetahui masalahnya secara mendalam, sehingga masalah cepat teratasi serta bawahan mampu meningkatkan kompetensinya dalam bidang tersebut. Hal ini akan sangat membantu dalam menjalankan dan mengefektifkan organisasi yang sedang berjalan, Ketika organisasi memiliki bawahan yang kompeten, berpengetahuaan, memiiliki keterampilan, dan pengalaman dalam menjalankan tugas mereka masing- masing.

Mutu sumber daya manusia merupakan kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk dan jasa serta lingkungan yang memenuhi harapan. Dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia diperlukan suatu tatanan pendidikan yang akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkompeten dalam meningkatkan pengalaman, pengetahuannya dalam menjalankan sebuah organisasi atau kegiatan yang dilakukan dalam sebuah organisasi dalam lembaga pendidikan. Hal ini akan membuat suatu gaya kepemimpinan laissez faire dapat mengefektifkan proses kegiatannya. Jika rendahnya mutu sumber daya mansua tentu gaya kepemimpinan laissez faire ini tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan, tanpa bawahan yang berkompeten dalam bidangnya serta berilmu pengetahuan dan memeiliki pengalaman, gaya kepemimpinan laissez faire tidak akan berjalan, karena pada dasarnya gaya kepemimpinan laissez faire ini adalah menyerahkan semua keputusan kepada bawahannya.

Jadi seorang pemimpin dalam sebuah organiasi mempunyai tanggung jawab atas keberhasilan organisasi yang dipimpinnya. Dalam hal ini untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia merupakan hal yang penting karena dari sikap dan gaya kepemimpinan yang dia terapkan akan juga mempengaruhi keberhasilan suatu organisasi, serta dapat meningkatkan mutu sumber daya manusia.

Demikianlah gambaran umum dari pengaruhgaya kepemimpinan laissez faire untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia. Penulis mengangkat judul ini bertujuan agar gaya kepemimpinan laissez faire yang diterapkan dalam lembaga pendidikan dapat berjalan dengan baik tentunya dengan pengelolaan sumber daya manusia yang mantap. Karena sumber daya manusia sangat berpengaruh untuk meningkatkan mutu pendidikan dan sumber daya manusia merupakan faktor penting bagi keberhasilan suatu lembaga pendidikan. (*)

Related posts