Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Anak-Anak Pasca Bencana

Bupati Solok Selatan, Khairunas menyerahkan paket sembako kepada warga terdampak Covid-19
Bupati Solok Selatan, Khairunas menyerahkan paket sembako kepada warga terdampak Covid-19

Oleh: Taufik Hidayat Almedy

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Korban dari bencana alam tidaklah sedikit, dimulai dari anak-anak, dewasa, hingga lansia. Bencana-bencana tersebut, selain menelan korban jiwa, juga menghancurkan sebagian besar infrastruktur, pemukiman, bangunan-bangunan pendidikan, kesehatan, keamanan, sosial, dan ekonomi, serta mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, termasuk kondisi psikologis dan tingkat kesejahteraan (Absor, 2011)

Read More

Salah satu kelompok yang paling rentan terdampak bencana alam adalah anak-anak karena secara fisik dan mental masih dalam pertumbuhan dan masih tergantung dengan orang dewasa. Mengalami kejadian yang sangat traumatis dan mengerikan akibat bencana seperti gempa bumi dan letusan gunung merapi dapat mengakibatkan stress dan trauma mendalam bagi anak bahkan orang dewasa sekalipun. Pengalaman trauma yang dialami anak tersebut kalau tidak diatasi segera akan berdampak buruk bagi perkembangan mental dan sosial anak sampai dewasa (Absor, 2011).

Anak tidak saja terdampak dari bencana alam yang terjadi, tetapi juga mengalami kerentanan dalam tiap tahapan respon bencana, mulai dari pra bencana, tanggap darurat, hingga pasca bencana. Anak memiliki kerentanan yang sangat tinggi untuk mengalami gangguan di dalam berbagai aspek kehidupannya akibat dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam. World Risk Report (2018) menyatakan bahwa anak-anak merupakan populasi yang mengalami dampak terburuk dari terjadinya bencana, terutama di negara-negara berkembang (Kementerian PPPA, 2020).

Seperti halnya orang dewasa, anak-anak yang terdampak oleh bencana pun bisa mengalami dampak psikologis seperti stres. Anak yang kehilangan orangtuanya mengalami rasa tidak aman karena kehilangan figur yang melindungi; anak tidak bisa melanjutkan sekolah karena rusaknya bangunan sekolah, tidak terpenuhi haknya untuk mendapatkan akses pendidikan dan pengetahuan; berada pada situasi yang tidak menentu juga menimbulkan perasaan tidak nyaman yang berdampak kurang baik pada perkembangan emosinya. Selain itu, anak yang terpisah dari keluarganya rentan untuk mendapatkan perlakuan eksploitatif dari orang dewasa. Sebagai contoh, anak dipaksa untuk membantu orang dewasa meminta bantuan (uang, makanan) di pinggir jalan hingga rentan menjadi korban perdagangan manusia (Kementerian PPPA, 2020)

Kemampuan berfikir anak dengan dewasa memiliki perbedaan dimana orang dewasa cara berfikirnya sudah mencapai kematangan sedangkan anak masih dalam proses perkembangan. Anak-anak dengan faktor usia yang masih belum matang secara langsung mengalami, merasakan, dan menyaksikan dampak yang ditimbulkan akibat bencana tersebut, secara pertumbuhan psikologis apabila penanganannya kurang tepat berdampak pada tumbuh kembang anak di masa depan (Hadi dkk, 2019).

Pemerintah baik pusat maupun daerah adalah penanggung jawab utama dalam perlindungan dan penanggulangan bencana berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, termasuk memberikan perlindungan kepada kelompok rentan, seperti anak, ibu hamil dan menyusui, serta lansia. Hal ini diperkuat lagi dengan pasal 59 dan 59A Undang-Undang No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, pemerintah memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan khusus anak, termasuk anak korban bencana. Perlindungan yang dimaksud salah satunya termasuk melalui upaya pendampingan psikososial, dari pengobatan sampai pemulihan untuk mencegah anak mengalami dampak yang lebih buruk dan terhindar dari perlakukan kekerasan (Kementerian PPPA, 2020)

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana alam cukup tinggi. Berdasarkan data World Risk Report 2018, Indonesia menduduki urutan ke-36 dengan indeks risiko 10,36 dari 172 negara paling rawan bencana alam di dunia. Kondisi tersebut disebabkan oleh keberadaan Indonesia secara tektonis yang menjadi tempat bertemunya tiga lempeng tektonik dunia (Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik), secara vulkanis sebagai jalur gunung api aktif yang dikenal dengan cincin api pasifik atau Pacific ring of fire. Kondisi ini kemudian menjadi penyebab terjadinya bencana gempa bumi, tsunami dan gunung meletus. Selain itu, secara hidroklimatologis Indonesia juga terdampak dengan adanya fenomena ENSO (El-Nino Southern Oscillation) dan La Nina sehingga berimbas pada terjadinya bencana banjir, tanah longsor, kekeringan, dan angin puting beliung (Hadi dkk, 2019).

Menurut WHO (dalam Fakhriyani, 2019) individu yang sehat mental yaitu individu yang memiliki kesejahteraan yang menyadari potensi dirinya, mampu mengatasi tekanan dalam kehidupan normalnya, mampu bekerja secara produktif, serta mampu berkontribusi terhadap lingkungannya. Selanjutnya ditambahkan oleh Yusuf (dalam Fakhriyani, 2019) bahwa individu dengan mental yang sehat dapat dilihat dengan ciri-ciri, yaitu apabila mereka tidak memiliki dari gangguan kejiwaan, mampu menyesuaikan diri, mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya secara maksimal, serta mampu untuk mencapai kebahagiaan dirinya sendiri dan juga orang lain. Karakteristik dari individu yang sehat mental ini juga ditinjau dari beberapa aspek, seperti aspek fisik, psikis, sosial, dan moral-religius. Apabila fisiknya sakit, mental individu tersebut pun juga akan menjadi sakit. Setiap individu membutuhkan kondisi yang sehat mental, baik pada anak-anak, remaja, dewasa maupun lansia (Fakhriyani, 2019).

Pada anak-anak, kesehatan mental ini sangatlah penting. Apabila kebutuhan kesehatan mental ini tidak terpenuhi selama masa kanak-kanak, maka akan menyebabkan kesulitan di masa perkembangan selanjutnya (McDougall, 2011). Hal tersebut secara khusus dibuktikan dengan peningkatan 15.7 % yang memenuhi kriteria American Psychiatric Association terhadap gangguan mood, kecemasan, atau penggunaan zat seumur hidup (American Psychiatric Association, 2000; dalam Maclean dkk., 2016). Hasilnya menunjukkan bahwa mengalami bencana alam pada usia lima tahun meningkatkan kemungkinan gangguan MHSU (mental health and substance use) seumur hidup (McDougall, 2011).

Dalam sebuah penelitian menurut Maclean dkk. (2016) menunjukkan bahwa guncangan kesehatan yang dialami selama masa kanak-kanak secara negatif dan terus-menerus mempengaruhi kesehatan mentalnya. Anak-anak yang memiliki rentang usia 0-11 tahun dalam masa perkembangannya, pada masa tersebut mereka belum bisa berpikir secara abstrak untuk dapat mengatasi masalah stresnya. Dengan kata lain, anak-anak masih pada usia perkembangan yang belum matang secara psikologis (Thoyibah dkk., 2019). Mereka sering kali bergantung kepada orangtua mereka, sehingga apabila dihadapkan pada suatu peristiwa yang dapat mengguncang kesehatan mental mereka, akan sulit bagi mereka untuk mengatasi masalah tersebut sendiri.

Bencana alam yang terjadi menimbulkan banyak sekali masalah. Biasanya berdampak pada kesehatan baik fisik maupun mental (Handayani dkk., 2020). Selain itu Sari (2021) juga menyebutkan bahwa bencana alam dapat menimbulkan kerusakan infrastruktur, kehilangan korban jiwa serta berbagai macam penyakit yang ditimbulkan. Bencana alam yang terjadi secara tiba-tiba membuat orang yang mengalaminya merasa terkejut, ketakutan dan tidak memiliki persiapan apapun. Pada kondisi ini, apabila stres tersebut tidak mampu diatasi oleh individu, maka stressfull event akan berubah menjadi traumatic event. Akibatnya akan berdampak pada individu tersebut yaitu kondisi trauma pasca bencana (Cohen dkk., 1995 dalam Alqumairah, 2020).

Menurut Baryshnikova dan Pham (2019), kerusakan dari pengalaman bencana alam memiliki efek negatif terhadap kesehatan mental rata-rata, dan yang terpenting efeknya berbeda di berbagai bagian distribusi kesehatan mental. Misalnya bencana alam seperti gempa bumi telah terbukti berhubungan dengan masalah kesehatan mental, seperti depresi dan gangguan stres pasca-trauma (Thoyibah dkk., 2019). Salah satu penelitian yang dilakukan di Taiwan setelah enam minggu terjadinya gempa bumi, hasilnya menunjukkan bahwa 21,7% dari 323 siswa menimbulkan masalah stres trauma pasca bencana. Masalah PTSD yang terjadi tersebut disebabkan oleh faktor cedera fisik yang dialami anak-anak dan kehilangan atau kematian anggota keluarga mereka akibat gempa bumi (Hsu dkk., 2002 dalam Thoyibah dkk., 2019).

Dalam penelitian meta analysis yang membahas terkait dengan tekanan psikologis dan gangguan kejiwaan setelah bencana alam terjadi menjelaskan bahwa dari beberapa studi yang dilakukan ternyata menghasilkan data yang bervariasi. Beberapa melaporkan bahwa bencana alam berdampak pada tingkat gangguan kejiwaan sebesar 60% dan tingkat PTSD sebesar 74%. Sedangkan yang lain melaporkan perbedaan yang tidak signifikan antara populasi terdampak dan tidak terdampak bencana alam terhadap depresi berat, PTSD, gangguan kecemasan lainnya, serta penyalahgunaan/ketergantungan alkohol (Beaglehole dkk., 2018). Selanjutnya, pada sebuah penelitian menjelaskan terkait paparan stresor menjadi salah satu faktor resiko terkuat yang menyebabkan PTSD yang sering dialami individu pasca bencana (Bromet dkk., 2017).

Ketika bencana terjadi, kondisi para pengungsi sangat rentan untuk mengalami gangguan kesehatan mental. Mereka mengalami tekanan yang besar akibat kehilangan harta-benda dan keluarga serta adanya keputus-asaan disebabkan kebingungan bagaimana cara melanjutkan kehidupannya. Kesehatan mental tersebut terus menerus mengganggu dan akan mengakibatkan penyakit mental lainnya seperti kecemasan, depresi hingga trauma. Salah satu kelompok rentan mengalami hal itu adalah anak-anak (Budiarti, 2018).

Anak-anak adalah kelompok yang masih membutuhkan perhatian dari orang tua, kasih sayang, dan pemenuhan kebutuhan nutrisi dan gizi seimbang untuk memaksimalkan potensi dalam dirinya untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Bencana membuat anak-anak mengalami ketakutan dan perasaan kehilangan sesuatu yang berharga, seperti tempat nyaman rumah mereka, teman-teman, adik-kakak, dan orang tua. Masa kanak-kanak adalah masa dimana seseorang banyak belajar dan mengalami pengalaman baru. Pengalaman yang dialami oleh anak-anak korban bencana dapat memberikan kenangan traumatis yang sulit untuk dilupakan. Hal ini disebabkan peristiwa bencana terjadi diluar dari rutinitas perkembangan anak usia dini yang dapat mengancam kondisi fisiknya, membuat mereka kehilangan tempat tinggal, tempat bermain, dan saudara mereka.

Pengalaman bencana yang dialami anak usia dini dapat berdampak pada emosional dan psikologis anak. Efek negatif bencana tersebut berakibat pada kesehatan fisik, perkembangan emosional serta perkembangan kecerdasan anak-anak baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Reaksi anak terhadap bencana menurut American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACP, 2020) tergantung dari kerusakan yang dialami selama bencana itu terjadi. Jika anak menyaksikan kematian anggota keluarga atau teman, dan rusaknya rumah dan sekolah mereka, reaksi anak dapat lebih traumatis.

Dampak psikologis selanjutnya yang dialami anak setelah bencana adalah gejala stress. Sebanyak 50% anak melaporkan gejala stres pasca trauma setelah mengalami bencana, seperti terus mengingat tentang bencana, kewaspadaan berlebihan, atau sulit tidur dan berkonsentrasi. Anak yang terpapar bencana alam juga sering mengalami gejala depresi, seperti merasa sedih atau kehilangan minat pada aktivitas, kecemasan, ketakutan dan kekhawatiran tentang keselamatan mereka. Gejala kesehatan mental kronis telah diamati di antara anak-anak bahkan empat tahun setelah peristiwa bencana (Lai, 2020).

Penelitian telah secara konsisten menunjukkan bahwa anak-anak mengalami reaksi cukup parah terhadap stres setelah bencana, termasuk masalah psikologis seperti gangguan stres pasca trauma, gangguan beraktivitas, depresi, dan gangguan mental lainnya (SAMHSA, 2018). Setelah peristiwa seperti bencana alam, anak-anak dapat merasa cemas, takut, dan tidak berdaya. Anak-anak yang kehilangan rumah, harta benda, atau orang yang mereka cintai akan melalui masa-masa kesedihan dan rasa sakit yang lebih panjang. Setelah bencana alam, peningkatan depresi dan kecemasan di antara anak-anak telah dilaporkan, dengan beberapa gejala tersebut bertahan dari waktu ke waktu.

Secara umum, anak-anak lebih rentan terhadap trauma berkepanjangan daripada orang dewasa, sehingga terjadinya penurunan kualitas mental selanjutnya mengganggu kualitas hidup mereka. Anak-anak cenderung mengalami lebih mudah mengalami stres daripada orang tua. ini didasarkan pada faktor psikologis bahwa anak-anak kurang memiliki kemampuan untuk menghadapi bahaya dibandingkan orang tua. Dengan kata lain, semakin muda seseorang, kecil kemungkinannya untuk dapat menghadapi bahaya, dan cenderung lebih mungkin mengalami gejala stress (Hunainah, 2021).

Penelitian menunjukkan reaksi yang ditampilkan oleh anak-anak yang telah terkena peristiwa traumatis, seperti ketakutan yang meningkat, kecemasan jika terjadinya perpisahan (terutama pada anak kecil), gangguan tidur, mimpi buruk, kesedihan, kehilangan minat dalam beraktivitas, kurangnya konsentrasi di sekolah, dan cepat marah. Hampir semua kejadian traumatis bagi seorang anak, jika itu terjadi secara tiba-tiba dan berulang, membuat anak tidak siap dan pada akhirnya mempunyai kesehatan mental yang buruk. Hal ini dapat sering terjadi di wilayah Indonesia, disebabkan secara geografis, Indonesia sangat berpotensi timbulnya bencana alam yang menimbulkan kerugian besar, kerusakan lingkungan, dan dampak psikologis tersebut. (Hunainah, 2021). Penelitian pada anak-anak usia sekolah yang selamat dari bencana gempa bumi di Lombok memperlihatkan adanya tingginya ketakutan, gejala stres, masalah konsentrasi berpikir dan belajar, perubahan perilaku dan masalah sosial. Perilaku anak dilaporkan secara emosional menjadi lebih sensitif sehingga mereka mudah stress dan marah (Thoyibah, 2019).

Mitigasi bencana menjadi upaya penting dalam mengurangi kerugian akibat bencana. Di Indonesia, pemerintah baik pusat maupun daerah adalah penanggungjawab utama dalam perlindungan dan penanggulangan bencana. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, termasuk memberikan perlindungan kepada kelompok rentan, seperti anak, ibu hamil dan menyusui, serta lansia. Hal ini diperkuat lagi dengan pasal 59 dan 59A Undang-Undang no 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Dimana pemerintah memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan khusus pada anak, termasuk saat bencana. Adapun bentuk usaha pemerintah yang telah dilakukan dalam penanggulangan bencana adalah:
1. Pembentukan undang-undang tentang penanggulangan bencana UU No 24 tahun 2007. Undang-undang ini menjelaskan tiga tahap penanggulangan bencana yaitu a) preparedness yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana, b) Mitigasi yaitu kegiatan untuk mengurangi risiko bencana, baik fisik, mental dan kemampuan menghadapi benacana, c) Tanggap darurat, yaitu kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat terjadi bencana, d) Rehabilitasi yaitu perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana, dan e) Rekonstruksi yaitu pembangun kembali semua prasarana dan sara kelembagaan pada wilayah pasca bencana (BNBP, 2014).
2. Pemerintah indonesia secara resmi membentuk Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) yang bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan, mengkoordinasikan pelaksanaan dan pengarahan terhadap upaya penanggulangan bencana.
3. Menteri Kesehatan RI (2006) menerbitkan pedoman penanggulangan masalah psikososial pada masyarakat akibat bencana. Dalam pedoman dijelaskan pokok kegiatan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam penanganan masalah kesehatan mental masyarakat yang terkena dampak bencana, dimana terdiri dari tiga tahapan yaitu pra bencana (menyusun kebijakan standar dan pedoman, melakukan sosialisasi, advokasi, dan fasilitas, melakukan pemantauan dan evaluasi) saat bencana (melakukan penilaian, pengawasan, menyediakan tenaga pendamping, dan koordinasi) dan pasca bencana (supervisi, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah, merencanakan program berikutnya).
4. Membuat dan menerbitkan buku panduan dukungan psikososial bagi anak korban bencana alam. Buku ini berisi panduan teknis bagi individu dan kelompok yang terlibat dalam aktifitas kerelawanan, khususnya pada pemberian dukungan aspek psikososial anak dan mengurangi risiko kesehatan mental buruk.
5. Mengutip dari katadata (2021), APBN telah menyiapkan anggaran penanganan bencana dan dana cadangan sebesar 11,5 triliun, yang mana tahun-tahun sebelumnya pemerintah masih belum sepenuhnya mengatur asuransi kebencanaan ini.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan masyarakat sebagai upaya dalam penanggulangan risiko bencana dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu pra bencana, saat bencana dan pasca bencana.
1. Pra bencana
Pertama masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan mengetahui hal yang berkaitan dengan tindakan pertolongan pertama, menyiapkan peralatan darurat, dan bila perlu ikuti pelatihan pencegahan bencana sebagai bentuk kesiapsiagaan. Guru atau orang tua dapat memberikan edukasi terkait tindakan-tindakan yang harus dilakukan saat terjadi bencana pada anak (Fothergil, 2017). Kemudian masyarakat dapat membagikan sosialiasi mitigasi bencana melalui social media, memberikan peringatan dini bila bencana terjadi (Nazer et al, 2017).
2. Saat bencana
Masyarakat dapat memberikan dukungan emosional dan empati disaat-saat kritis, pada sesama penyintas bencana, seperti memberi pelukan, bernyanyi dan menyakinkan mereka. Selain itu orang tua atau orang dewasa yang bersama anak pada saat bencana, mungkin dapat menanyakan bagaimana perasaan mereka, memberikan dukungan, kehangatan dalam situasi bencana, dan memberikan rasa aman. (Fothergil, 2017).
3. Pasca-bencana
Masyarakat dapat membantu dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan mungkin terjun langsung sebagai relawan untuk menolong para penyintas. Proses pengumpulan dana pun dapat dilakukan dengan membagikan informasi di sosial media (Nazer et al., 2017). Dalam membantu pemulihan penyintas, kita dapat menjadi pendengar aktif sebagai bagian dari psychological first aid. Selain itu, kita dapat memberikan dukungan sosial untuk rasa aman dan ketenangan. Bila menemukan penyintas yang menunjukkan reaksi fisik dan psikologis yang tidak biasa, segeralah membuat rujukan kepada tenaga kesehatan (Badan Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, 2020) .

Simpulannya, dari semua pemaparan di atas dapat kita pahami bahwa bencana alam dapat mempengaruhi kesehatan mental anak, terlebih setelah bencana. Untuk menyikapi kondisi tersebut dibutuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental anak melalui program penanggulangan bencana dan penanganan pasca bencana, baik itu dari pemerintah maupun masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi kita bersama-sama untuk saling memberi dukungan baik materi maupun dukungan emosional kepada para penyintas anak.

/*Penulis: Kelompok 7B Psikologi Bencana, Psikologi, Fakultas Kedokteran UNAND

Related posts