Peran Generasi Muda dan Teknologi Terhadap Berlangsungnya Tradisi Silawek di Nagari Kapelgam

Oleh: Rani Aulia

Indonesia merupakan negara di Kawasan Asia Tenggara yang sangat beragam. Keberagaman merupakan salah satu kekayaan yang harus dijaga oleh seluruh warga negara Indonesia. Banyaknya pulau dan beragamnya ras, agama, Bahasa, suku bangsa dan kebudayaan menjadikan kekayaan dan keindahan bangsa Indonesia. Salah satunya ialah etnis Minangkabau.

Read More

Minangkabau merupakan salah satu etnis di Indonesia yang terdapat di Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Sumatera Barat. Etnis Minangkabau dikenal dengan sistem kekerabatan matrilineal (garis keturunan ibu). Masyarakat Minangkabau umumnya memiliki kebudayaan yang dikaitkan dengan nilai-nilai agama Islam. Hal tersebut dapat dilihat dari pepatah Minangkabau, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” atau biasa disingkat ABS-SBK. Kebudayaan yang bernilai islami tersebut salah satunya di Kenagarian Kapelgam Koto Berapak, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan.

Pesisir Selatan merupakan sebuah kabupaten yang berada di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Dikenal dengan Negeri Sejuta Pesona, Pesisir Selatan memiliki berbagai destinasi wisata alam yang sangat indah. Selain, destinasi wisata yang penuh pesona, Pesisir Selatan memiliki tradisi yang masih dilestarikan yaitu tradisi Silawek di Kenagarian Kapelgam Koto Berapak, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan.

Kenagarian Kapelgam Koto Berapak merupakan sebuah Nagari di Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Kenagarian ini terdiri atas dua desa yang disatukan dalam satu Nagari. Desa tersebut ialah Desa Kapencong dan Desa Lubuk Gambir.  Dalam tradisi Silawek faktor agama merupakan faktor terkuat dalam pelaksanaan tradisi Silawek ini. Kenagarian Kapelgam Koto Berapak merupakan Kenagarian dengan mayoritas masyarakatnya menganut Agama Islam. Pada tradisi ini, Agama Islam sangat mendominasi dalam terlaksananya tradisi Silawek ini, seperti membaca doa dan shalawat-shalawat nabi serta membaca ayat suci al-Qur’an. Dengan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Silawek ini, maka tradisi ini masih dilestarikan di lingkungan masyarakat Kapelgam Koto Berapak.

Tradisi Silawek merupakan tradisi turun-temurun yang masih dilaksanakan masyarakat Kapelgam. Tradisi ini sama halnya melaksanakan tahlilan pada masyarakat umumnya. Di Kapelgam, masyarakat biasa melaksanakan tradisi Silawek pada malam setelah penguburan jenazah. Biasanya waktu melaksanakan tradisi Silawek yaitu setelah sholat isya’. Silawek dilaksanakan dirumah duka selama 2 sampai 3 hari tergantung permintaan dari keluarga duka. Di Desa Kapencong peserta dari silawek ini tidak dibatasi baik laki-laki maupun perempuan. Berbeda dengan di Desa Lubuk Gambir, peserta Silawek di Desa Lubuk Gambir hanyalah kaum laki-laki.

Cara pelaksanaan tradisi Silawek untuk di Desa Kapencong maupun di Desa Lubuk Gambir tidaklah berbeda, biasanya peserta Silawek duduk melingkar diatas karpet. Kemudian, ketua Silawek meminta izin kepada tuan rumah untuk memulai Silawek. Silawek dimulai dengan membaca al-Fatihah, dan membaca surat yang telah disediakan. Surat dari tradisi Silawek ini berisi doa dan shalawat-shalawat kepada nabi. Keistimewaan dari Silawek tidak hanya karena surat yang berbeda, namun juga irama yang lambat, tenang dan mendayu-dayu. Dipertengahan surat Silawek akan ada beberapa bacaan yang seperti dipertegas. Hal itulah yang menjadikan Silawek istimewa. Setelah pembacaan surat Silawek, akan dilanjutkan dengan beberapa peserta Silawek yang ingin membacakan ayat suci al-Qur’an. Pembacaan ayat suci al-Qur’an ini tidak pula dibatasi pesertanya. Hanya kesediaan dari peserta Silawek.

Setelah pembacaan al-Qur’an, dilanjutkan dengan pembacaan doa-doa untuk almarhum/almarhumah dan juga keluarga yang ditinggalkan oleh ketua Silawek. Untuk Ketua Silawek adalah orang-orang yang mampu dan menguasai doa maupun irama keseluruhan dari surat Silawek. Tuan rumah yang berada dirumah duka hanya menyediakan air minum (biasanya air mineral), permen dan juga rokok sebagai penutup tradisi Silawek ini yang kemudian dibagikan kepada seluruh peserta Silawek. Selesainya tradisi Silawek juga ditandai dengan ketua Silawek dan tuan rumah yang pamit dengan baradu kata dan ucapan terima kasih kepada peserta Silawek.

Adanya tradisi Silawek ini tentunya tidak lepas dari peran generasi muda yang masih melestarikan keberadaan dari tradisi Silawek. Di era globalisasi saat ini Silawek masih tetap eksis dikalangan masyarakat Kenagarian Kapelgam. Meski era globalisasi memberikan dampak-dampak terhadap berkembangnya tradisi Silawek ini. Globalisasi adalah proses sesuatu yang mendunia. Globalisasi ditandai dengan dengan majunya informasi, pemikiran, gaya hidup dan teknologi. Tentunya dengan kemajuan era ini berdampak terhadap pelestarian tradisi Silawek di Kenagarian Kapelgam Koto Berapak.

Di Desa Kapencong Kenagarian Kapelgam Koto Berapak, tradisi Silawek masih terus dilestarikan dengan peran generasi muda yang masih aktif dan peduli dengan Silawek. Biasanya, ketika terdengar kabar adanya kematian, pemuda akan mengumumkan dan mengingatkan bahwa akan berkunjung ke rumah duka. Berkembangnya teknologi menjadikan tradisi ini tidak terlupakan. Penggunaan aplikasi Whatsapp sangat berperan penting terhadap pelaksanaan tradisi Silawek. Whatsapp adalah aplikasi pengirim pesan, video maupun telfon suara dan telfon video yang saat ini banyak digunakan masyarakat Indonesia. Kemampuan generasi muda di Kenagarian Kapelgam menggunakan teknologi seperti ponsel pintar sangat mempermudah generasi muda untuk hadir dan mengetahui informasi pelaksanaan tradisi Silawek. Mudahnya mengakses informasi di era globalisasi yang memiliki kemajuan teknologi, menaikkan minat generasi muda di Desa Kapencong untuk hadir dan mau mempelajari tradisi Silawek yang ada di Kenagarian Kapelgam Koto Berapak.

Berbeda dengan di Desa Kapencong, pelaksanaan tradisi Silawek di Desa Lubuk Gambir biasanya hanya dihadiri oleh kaum laki-laki. Namun, minat generasi muda laki-laki di Desa Lubuk Gambir masih tergolong sangat peduli dalam menghadiri tradisi Silawek ini. Tidak ada yang terlalu berbeda, semua cara pelaksanaan tradisi Silawek di Lubuk Gambir sama dengan pelaksanaan Silawek di Desa Kapencong.

Tentunya, peran generasi muda dalam mengembangkan dan melestarikan tradisi Silawek di Kenagarian Kapelgam hendaknya terus dijaga.  Peran generasi muda, orang tua, ninik mamak, pemuka adat ataupun instansi yang terkait masih sangat diperlukan terhadap berkembang dan dikenalnya tradisi yang masih terjaga ini. Kebudayaan yang masih ada hendaklah terus diperhatikan sebelum menghilang. Meski pada dasarnya, kelestarian tradisi tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, penting untuk terus mengembangkan dan mendukung minat dari generasi muda terhadap pelestarian tradisi itu sendiri. Kemauan generasi muda untuk terus ingin mempelajari Silawek ini harus terus dikembangkan. Karena peran generasi muda saat inilah yang menentukan adanya tradisi Silawek pada masa nanti.

Peran teknologi yang ada pada saat ini mampu menjaga tradisi Silawek dalam masyarakat Kapelgam Koto Berapak. Namun, pada saat ini, teknologi belum mampu sepenuhnya memperkenalkan tradisi Silawek. Jika dibawa keluar lingkungan Nagari Kapelgam Koto Berapak, banyak orang-orang yang tidak mengenal tradisi dari Silawek ini. Padahal seiring majunya teknologi, tradisi Silawek masih terus aktif pada saat sekarang ini. Keberadaan orang-orang dewasa dan instansi terkait seharusnya juga berperan  penting dalam memperkenalkan tradisi ini sampai keluar daerah. Sangat jarang ditemukan tulisan-tulisan yang membahas tentang tradisi Silawek masyarakat Kapelgam.

Oleh karena itu, kerja sama dari seluruh masyarakat untuk melestarikan tradisi Silawek sangat diperlukan. Keberadaan Silawek yang masih eksis sampai saat ini, hendaknya menjadi perhatian seluruh masyarakat. Agar kebudayaan yang masih dimiliki saat ini tidak hilang.

/*Penulis: Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Universitas Andalas

 

Related posts