Peran Literasi dalam memulihkan Eksistensi Kebudayaan Minangkabau

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Arjun

Saat ini cukup banyak fenomenal yang bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Fenomenal ini telah merebak ke segala aspek kehidupan. Tidak hanya satu bidang kehidupan saja yang sedang mengalami masalah, semua bidang kehidupan sedang disibukkan untuk menghadapi berbagai problem yang muncul. Mulai dari ekonomi, sosial, politik, budaya, dan bidang kehidupan lainnya. Terlebih-lebih pada saat pandemi seperti sekarang ini, dunia sedang disibukkan dengan berbagai usaha untuk mengatasi virus yang menurut beberapa sumber berasal dari China ini. Salah satu cara yang sedang populer ialah memberikan vaksin kepada rakyat.

Read More

Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) ini menyerang bagian pernapasan dan penyakit karena virus ini disebut COVID-19. Sekedar informasi, di Indonesia sendiri hingga saat tulisan ini dibuat sudah tercatat total kasus 1,13 juta, yang sembuh 927 ribu, dan meninggal dunia 31. 202. Sedangkan di Sumatera Barat total kasus 27.439, yang sembuh 25.522, dan yang meninggal dunia 619. Berbagai kasus yang muncul tentunya memberikan dampak terhadap Indonesia. Salah satu bidang yang merasakan dampaknya yaitu bidang kebudayaan, terkhusus Minangkabau. Eksistensi kebudayaan yang tidak terlalu tinggi semakin dibuat terpuruk dengan adanya pandemi ini.

Eksistensi kebudayaan di Minangkabau semakin hari semakin terpinggirkan. Tingkat kepedulian masyarakat yang rendah membuat begitu banyak kebudayaan yang sejatinya sangat unik harus ditepikan dan tidak pernah lagi terlihat di tengah-tengah masyarakat. Keadaan ini semakin diperparah dengan minimnya perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan budaya di Minangkabau terutama di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan. Pemerintah lebih fokus memperbaiki beberapa sektor lain seperti ekonomi, sosial, dan lain sebagainya. Hal ini tentunya membuat mereka lupa bahwa budaya daerah semakin hari semakin terpinggirkan dan kalah bersaing dengan budaya asing yang mulai menguasai kehidupan para generasi muda.

Kemudian, sekolah sudah tidak banyak lagi yang mengajarkan pengetahuan yang berbau Minangkabau kepada siswa. Meskipun ada, tapi tingkat persentasenya sangat sedikit. Hal ini membuat para siswa merasa budaya itu tidak terlalu penting karena mereka hanya mempelajari bagian-bagian tertentu saja. Mereka hanya mengetahui budaya dari sebatas kulit luar saja.
Mirisnya, hal itu tidak mereka dapatkan lagi di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Keadaan semakin diperparah dengan kurangnya dukungan dari keluarga. Keluarga yang merupakan sarana pendidik pertama bagi anak-anak tidak memberikan pengetahuan budaya kepada anak sejak dini.

Alangkah baiknya jika memperkenalkan budaya kepada anak. Meskipun sedikit, setidaknya anak-anak sudah ada bekal untuk menggali lebih jauh lagi segala yang berhubungan dengan budaya. Selain itu, para generasi muda juga tidak memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian budaya. Generasi muda adalah tonggak terpenting dalam kehidupan karena kelak mereka yang akan menjadi pewaris kebudayaan. Nasib suatu bangsa atau daerah berada di tangan pemuda. Tapi, lihatlah pemuda saat ini, banyak yang tidak sesuai dengan harapan. Mereka yang diharapkan menjadi agen perubahan justru tidak bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Mereka yang di harapkan sebagai teladan justru menampilkan sesuatu yang tidak baik yang tentunya sangat tidak cocok untuk dijadikan contoh bagi generasi di bawahnya.

Sebenarnya, hal ini tidak sepenuhnya salah generasi muda. Ini adalah kesalahan dari semua pihak. Lingkungan yang baik akan membentuk manusia yang baik. Generasi muda hidup di lingkungan yang acuh terhadap budaya. Keluarga tidak memberikan pengetahuan yang cukup sejak dini sehingga mereka menjadi tidak peduli terhadap keberlangsungan budaya di daerah sendiri.

Fenomenal ini sudah lama ada di tengah masyarakat. Akan tetapi masyarakat tidak menyadari karena mereka hanya fokus pada pekerjaan masing-masing sehingga mereka tidak sadar bahwa semakin hari budaya mereka semakin terpinggirkan, semakin hari semakin ditinggalkan oleh semua orang, terutama para generasi muda. Masyarakat tidak sadar bahwa dengan teknologi yang semakin canggih membuat mereka lupa bahwa aset penting dari nenek moyang atau leluhur sedang berada pada kondisi yang cukup darurat dan terancam punah. Mereka justru semakin menikmati budaya asing yang kian merebak ke dalam kehidupan masyarakat dan lupa akan budaya sendiri. Keadaan ini tentunya sangat memprihatinkan, bisa jadi dalam beberapa tahun ke depan budaya yang ada di daerah Minangkabau semakin pudar atau lebih mengerikannya lagi akan terjadi kepunahan karena semakin hari eksistensi kebudayaan terus memudar.

Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kita bisa melakukan berbagai cara. Sangat banyak cara untuk mempertahankan eksistensi kebudayaan Minangkabau, salah satunya melalui literasi. Literasi merupakan kemampuan manusia dalam membaca dan menulis. Literasi merupakan salah satu cara yang cukup menarik untuk memulihkan eksistensi kebudayaan Minangkabau yang mulai tersisih. Kenapa literasi bisa memulihkan eksistensi kebudayaan Minangkabau yang memudar? Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini dunia literasi sedang berada di jalur yang baik. Para remaja yang merupakan target untuk mewariskan kebudayaan, mereka yang merupakan tonggak kehidupan bermasyarakat, sedang mengikuti perkembangan literasi itu sendiri. Hal ini bisa kita liat dengan banyaknya anak muda yang membaca buku, bahkan tidak sedikit pula yang menjadi penulis. Para anak muda banyak yang rajin membaca buku. Kesadaran akan manfaat membaca telah tumbuh dalam pribadi para generasi muda. Selain itu, pandemi yang membuat semua harus dilakukan di rumah membuat generasi muda melakukan aktivitas membaca buku untuk mengisi waktu luang atau ketika tidak sibuk dengan aktivitas lain.

Lalu, bagaimana cara literasi mengembalikan eksistensi kebudayaan yang mulai memudar? Cara literasi mengembalikan eksistensi kebudayaan yang mulai memudar yaitu dengan mengajak para generasi muda agar lebih giat lagi untuk menulis dan membaca. Kebudayaan dikemas dengan bentuk yang menarik minat pembaca. Para penulis sesekali bisa menulis buku yang berhubungan dengan budaya agar pengetahuan masyarakat semakin bertambah. Penulis menciptakan novel atau cerpen lalu menyelipkan salah satu contoh budaya yang ada di tengah masyarakat sehingga masyarakat mau membacanya karena budaya yang ditulis tersebut masuk pada alur cerita novel atau cerpen tersebut. Selain itu, penulis yang memang sudah cukup terkenal bisa membangkitkan lagi kepedulian masyarakat terharap budaya dengan cara mengajak pembaca lewat tulisan yang ia ciptakan. Untuk para pembaca, diharapkan mau membaca buku yang berhubungan dengan kebudayaan. Jangan hanya terfokus untuk menambah pengetahuan dalam bidang lain sehingga lupa bahwa semakin hari pengetahuan budaya semakin berkurang. Agar literasi bisa memperbaiki eksistensi budaya tentunya pemerintah harus terlebih dahulu memperbaiki sektor pendidikan. Kemampuan membaca dan menulis bisa didapat di sekolah. Namun faktanya, masih banyak masyarakat yang tidak sekolah, masih banyak masyarakat yang tidak bisa membaca dan menulis. Terlebih-lebih mereka yang berada di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan. Hal ini tentunya menjadi PR besar untuk pemerintah. Diharapkan pemerintah bisa menumbuhkan minat masyarakat akan pentingnya pendidikan. Kemudian pemerintah memberikan bantuan kepada keluarga yang kurang mampu agar tidak ada lagi yang terkendala biaya untuk menempuh pendidikan.

Memang tidak mudah untuk memperbaiki eksistensi budaya Minangkabau. Dibutuhkan kerja sama yang berkesinambungan oleh semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dan para generasi muda. Semoga kedepannya kebudayaan Minangkabau bisa menjadi lebih baik dan tidak punah meskipun semakin hari semakin banyak budaya asing yang memasuki Indonesia.

/*Penulis : Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau, Universitas Andalas.

Related posts