Peran Mitos Dalam Perilaku Generasi Z

Gen Z
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Rangga Mulenta

Mitos dipercayai oleh masyarakat adat sebagai kisah yang berlatar belakang pada cerita zaman dahulu, dipercayai karena mengandung unsur mistis di dalamnya. Ada beberapa masyarakat tertentu yang menganggap mitos sebagai cerita rakyat. Walaupun mitos adalah sebuah keberadaan yang masih bersifat abstrak akan kebenarannya namun hal ini dijadikan oleh masyarakat adat sebagai media edukasi untuk para keturunannya. Namun pada zaman modenisasi sekarang transformasi masyarakat adat menjadi masyakat modern tidak bisa lagi dicegah, nilai-nilai dari mitos dianggap tidak lagi penting karena tidak ada bukti konkrit untuk membenarkan hal tersebut.

Read More

Transisi masyarakat adat yang selalu mengglorifikasikan cerita adat dan mitos-mitos yang mereka anut menjadi masyarakat modern yang dikelilingi berbagai fakta-fakta sosial dan teknologi sebagai sarana pencari informasi, maka tidak diherankan lagi jika banyak sekali generasi sekarang tidak percaya dan tidak meluhurkan mitos. Padahal tidak seluruh mitos berdasarkan dari mistis masyarakat yang abstrak namun dasar fundamental dari mitos adalah sejarah dan filosofi masyarakat.

Masyarakat yang mempercayai mitos dan cerita adat mempunyai arah dalam berperilaku, kita ambil contoh mitos yang ada di Ranah Minang tentang Sumbang Duo Baleh, hal ini dipercaya oleh masyarakat bagi padusi minang yang melakukan ini dianggap baradaik. Tidak mengherankan jika masyarakat adat terkenal dengan keluhurannya.

Semakin berkembangnya transit penduduk yang ada maka beriring pula demgan perubahan status sosial dalam masyarakat, mereka dianggap sebagai kaum terbelakang di era modernisasi sekarang, namun banyak juga yang mengkaji mitos ini untuk menciptakan berbagai teori atas fenomena sosial dan sejarah. Selain itu hal ini juga berpengaruh pada kerusakan esensi dari adat dan budaya, sejatinya kompas dan arah dari setiap kegiatan adat berdasarkan pada mitos tersebut. Seperti tradisi pacu jawi di MinangKabau dalam sejarahnya syarat dalam melakukan pacu jawi yaitu terlihat jelasnya gunung marapi dari arena pacu yang mana hal ini dilakukan agar para leluhur bisa ikut menyaksikan acara tersebut, namun sekarang syarat ini seakan tidak berlaku lagi karena masyarakat sekitar mengira kalau hal ini hanyalah sebuah perayaan biasa dan melakukannya tanpa memerhatikan syarat yang ada, hal inilah yang membuat kurangnya esensi adat karena masyarakat yang dihimpit pergolakan modernisasi.

Tidak hanya faktor eksternal yang membuat mitos seakan tak mempunyai peran di kalangan pemuda (Gen Z) zaman sekarang namun faktor internal juga sangat berperan penting. Selain berpengaruhnya modernisasi dan globalisasi dalam menciptakan transisi masyarakat hal yang berperan penting lainnya adalah sikap apatisme masyarakat terhadap mitos dan cerita adat. Mereka tidak mementingkan hal yang mendasar dari suatu mitos, seperti teorisme historis, filosofis, dan edukasi, namun hanya bergantung pada mistis dan tidak adanya fakta ilmiah akan mitos tersebut.

Modernisasi dan globalisasi bukanlah sebuah hal yang buruk, namun jika hal ini membuat kita masyarakat yang tumbuh akan adat dan budaya harus melupakan tradisi sendiri itulah hal yang berbahaya. Sebagai masyarakat adat kita harus bisa memilah pengaruh dari modernisasi dan globalisasi, jangan menghilangkan esensi adat yang dianggap sebagai pedoman hanya karena tidak bisa memfilter pengaruh eksternal. Stigma masyarakat akan mitos juga harus dihapus karena hal inilah yang membuat berkembangnya negativisme dalam masyarakat akan arti sebenarnya dari mitos, literasi akan mitos juga harus diperbanyak agar terhindar dari salah kaprah. Bagi masyarakat adat yang masih ada haruslah menjadikan ini sebagai media edukasi terhadap masyarakat yang sedang bertransisi agar kesalahan arti mitos tak lagi menyebar, sehingga stigma buruk masyarakat bisa di delete satu persatu. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum, Universitas Andalas.

Related posts