Perangi Hoax di Media Massa, Tim Pengabdian Masyarakat Dosen Ilmu Komunikasi UNAND Gelar Penyuluhan ke PMKRI Padang

  • Whatsapp
Dosen dan mahasiswa Ilmu Komunikasi Unand beserta anggota PMKRI Kota Padang
Dosen dan mahasiswa Ilmu Komunikasi Unand beserta anggota PMKRI Kota Padang.

MINANGKABAUNEWS, PADANG – Tim pengabdian masyarakat berbasis kelompok dosen Konsentrasi Jurnalistik, Jurusan Ilmu Komunikasi Unand, mengadakan penyuluhan terkait berita hoax, dengan menyusung tema ‘Antisipasi Berita Hoax di Media Massa Tentang Vaksinasi Covid-19’ kepada Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Kota Padang, yang diketuai oleh Diego Yenmis.

Acara yang dilaksanakan pada Sabtu, 13 November 2021 di Sekretariat PMKRI Kota Padang ini, merupakan tugas wajib dosen sebagai bagian dari tri dharma perguruan tinggi, yakni penelitian, pengabdian, dan pengajaran.

Read More

Kegiatan ini dimulai dengan kata sambutan dan juga pemaparan materi yang diberikan oleh Rinaldi, selaku narasumber dan juga dosen Jurnalistik Ilmu Komunikasi Unand. Ia mengatakan bahwa media massa merupakan konstruksi realitas, sehingga hal-hal yang terjadi di media massa tidak terjadi begitu saja. Namun, apa yang terjadi di media dipengaruhi oleh beberapa hal.

“Apa yang kita lihat di media serta bagaimana berita itu diproduksi, juga dipengaruhi oleh latar belakang individu pekerja media itu sendiri, yakni wartawan dari media. Hal ini kemudian disebut juga dengan faktor individu media,” ujar Rinaldi.

Rinaldi juga menyampaikan bahwa verifikasi informasi sangat penting untuk dilakukan oleh para wartawan, karena kurangnya verifikasi bisa menimbulkan berita hoax. Oleh karenanya, ada kode etik yang mengatur pekerjaan para wartawan.

“Wartawan tidak boleh sembarangan menjadikan anak-anak sebagai narasumber, harus ada izin dari orang tua terlebih dahulu. Selain itu, wartawan juga tidak boleh mencantumkan nama orang-orang yang masih berstatus sebagai terperiksa maupun tersangka kasus pidana.” terangnya.

Pada saat sekarang ini, orang-orang seakan tidak pernah lepas dalam mengkonsumsi media. Sehingga pemahaman mengenai literasi media penting untuk dilakukan. Literasi media biasanya disebut juga sebagai melek media, dimana orang-orang paham bagaimana untuk memanfaatkan media dan memfilter informasi yang mereka dapatkan di media massa. Bapak Rinaldi juga menambahkan bahwa media informasi yang ada pada saat sekarang terbagi atas dua, yang pertama yakni media konvensional yang terdaftar di dewan pers. Serta yang kedua yakni citizen journalism (jurnalis warga) dimana informasi yang berasal bukan dari wartawan professional, melainkan dari masyarakat awam.

“Ada dua hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi berita hoax yang ada di media massa, yang pertama yakni dengan mendeteksi media. Media informasi yang kita gunakan tersebut sudah terdaftar di dewan pers atau tidak. Setelah mendeteksi media, hal selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah berhenti menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya,” jelasnya.

Mengamini pernyataan Rinaldi, Dalmenda selaku narasumber kedua menyatakan bahwa cara mudah untuk mengetahui apakah media massa itu sudah terdaftar ke dewan pers atau belum adalah dengan mengkonfirmasi langsung ke wartawan atau media tersebut. Selanjutnya, seyogyanya dewan pers mengumumkan hal tersebut, namun tidak bersifat kontiniu.

Kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan harapan, masyarakat terutama mahasiswa mampu memerangi berita hoax yang ada di media massa, terlebih berita hoax mengenai Covid-19 pada saat sekarang. (Lisa Hartina)

Related posts