Percaya atau Tidak, Ada Tradisi yang Bikin ‘Merinding’ di Bukik Lontiak Sumpur Kudus

  • Whatsapp
sumpur kudus
Sumpur Kudus, Sijunjung (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Ayu Fazira

Siapa yang tak kenal dengan Sumpur Kudus. Daerah pedalaman di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat dan dikelilingi perbukitan. Dulu, mendengar namanya saja orang lain sudah takut. Ada yang mengatakan kalau di Sumpur Kudus orangnya punya ilmu-ilmu tenaga dalam dan sakti mandra guna.

Read More

Dulu, Sumpur Kudus adalah daerah terisolir dan gelap gulita. Hanya cahaya lampu “cogok” (lampu yang terbuat dari botol yang di isi minyak tanah dan diberi kain sebagai sumbu) yang menemani di malam hari. Tak ada lampu, tak ada barang-barang elektronik bahkan tak ada signal handphone untuk berkomunikasi. Baru 10 tahun ini Sumpur Kudus merasakan terangnya lampu listrik dan handphone untuk berkomunikasi bahkan menjadi daerah yang maju dan berkembang. Masyarakatnya sebagian kecil ada yang merantau di dalam dan luar negeri. Menuntut ilmu dan kuliah di beberapa daerah di Indonesia.

Ada sebuah tradisi lama yang mengharuskan orang yang baru masuk ke Sumpur Kudus menancapkan kayu ataupun meninggalkan satu buah benda sebagai tanda masuk daerah tersebut.

Daerah perbukitan yang terkesan angker dan menakutkan itu adalah Puncak Lontiak. Karena ada cerita rakyat dan pengalaman seseorang yang menjadi pelajaran dan kebiasaan bagi semua orang di wilayah tersebut. Konon ceritanya ada sekelompok orang yang baru pertama kali masuk ke Sumpur Kudus. Karena mendengar dan nasehat dari orang, kemudian mereka menancapkan kayu di Puncak Lontiak, tapi seseorang di antara mereka ada yang tidak percaya dengan tradisi tersebut.

“Apa-apa an ini. kolot. Kalian percaya sama yang gini-ginian?” kata pemuda tersebut dengan sinis. Hanya berselang beberapa hari di Sumpur Kudus, pemuda tersebut tiba-tiba sakit dan geram seperti orang gila. Dalam kepanikan rombongan tersebut, datanglah seorang bapak tua memberitahu obat yang harus diminum pemuda tersebut kemudian hilang dalam waktu sekejap.

Entah dari mana datangnya dan kemana perginya tidak ada yang tau. Tanpa pikir panjang, beberapa orang dari mereka mencari obat yang di beri tahu bapak tua tersebut. Hampir satu hari mereka mencari dan mendapatkan obat tersebut.

Malamnya obat itu langsung diberikan kepada pemuda tersebut. Takjub, dalam waktu sekejab pemuda itu sadar seakan-akan dia merasa tidak terjadi apa-apa.

Adalagi yang menceritakan pengalamannya waktu ia datang ke Sumpur Kudus. Ketika itu ia sudah sampai di Sumpur Kudus dan sudah menginap beberapa hari. ketika mau pulang di tengah perjalan, tidak ada angin tidak ada hujan mobil yang ia kendarai tidak bisa jalan. Mobil tersebut terasa berat seperti ada yang menahan dan ada yang menumpang. Sudah dicek dan ricek, tidak ada kerusakan yang berarti pada mobil dan jalanpun mulus serta tidak ada lobang atau becek. Dalam keheranan ia teringat kata seseorang waktu di kampung kalau masuk Sumpur Kudus harus menancapkan kayu ataupun meninggalkan tanda-tanda lainnya. Dengan dihantui rasa bersalah dan menyesai ia minta maaf dalam hati kemudian melemparkan sebuah baut mobil ke dalam hutan. Kemudian ia mulai mencoba menjalankan mobilnya. Tiba-tiba mobil tersebut berjalan lancar tanpa hambatan.

Sekarang tradisi tersebut hanya tinggal sejarah. Seakan-akan cerita itu hanya pengobat tidur dan terkesan menakut-nakuti. Tapi percaya atau tidak, kejadian tersebut memang benar adanya. Karena bagaimanapun, Sumpur Kudus adalah bagian dari Minangkabau yang kaya akan budaya dan tradisi nenek moyang yang turun temurun menjadi adat dan kebiasaan di Minangkabau. Ada sebagian orang berpendapat kalau tradisi tersebut harus ditinggalkan, karena sangat bertentangan dengan agama. Ada juga yang mengatakan semua itu mesti dipertahankan karena hanya bagian dari kebiasaan dan tidak mengubah aqidah. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Andalas.

Related posts