Perempuan yang Menyalakan Ilmu di Ranah Minang

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG – Di sebuah kota kecil yang diselimuti kabut gunung, di tanah adat yang memuliakan perempuan Padang Panjang, Minangkabau, tahun 1900. Lahir seorang anak perempuan yang kelak menyalakan pelita bagi bangsanya, Rahmah El Yunusiyyah. Namanya lembut, tapi pikirannya tajam. Langkahnya tenang, namun jejaknya mengguncang zaman. Ia tumbuh di rumah ilmu ayahnya seorang ulama, kakaknya seorang pembaru pendidikan. Dari sana, Rahmah belajar bahwa iman tanpa ilmu adalah kegelapan, dan ilmu tanpa keikhlasan hanyalah kebanggaan kosong.

Tahun 1923, di usianya yang masih muda, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Puteri Padang Panjang. Sebuah lembaga pendidikan Islam modern pertama khusus perempuan di Asia Tenggara. Dari surau kecil, ia membangun madrasah dengan tekad besar: agar perempuan bisa berilmu, beriman, dan berdaya.

Di masa ketika perempuan masih dibatasi ruang dan suara, Rahmah menulis sejarah baru dengan kesabaran dan kecerdasan. Ia ajarkan tafsir dan hadits, juga menjahit, berdiri, dan berpidato. Ia mendidik muridnya untuk berpikir luas, tanpa meninggalkan akar budaya dan keislaman.

Di tanah Minang, perempuan adalah limpapeh rumah nan gadang penyangga adat, penjaga marwah, dan sumber kebijaksanaan. Mereka bukan hanya ibu dari anak-anak, tetapi juga ibu dari nilai-nilai. Tradisi matrilineal membuat perempuan Minangkabau terbiasa berpikir mandiri, memimpin keluarga, dan mengatur harta pusaka. Namun Rahmah melangkah lebih jauh, ia membawa semangat itu ke ruang ilmu dan pendidikan.

Bagi Rahmah, perempuan Minang tidak cukup hanya cerdas dalam adat, mereka juga harus cerdas dalam pengetahuan modern dan agama. Ia ingin agar perempuan bukan hanya penerima nasihat, tetapi penentu arah. Ia ingin setiap gadis Minang mampu berdiri di atas kaki sendiri, menjadi cahaya di rumah, dan lentera di masyarakat.

Kabar tentang madrasah itu sampai ke Mesir. Dunia Islam menoleh ke barat Nusantara. Universitas Al-Azhar di Kairomengundangnya, memberi penghargaan, dan memanggilnya dengan nama yang agung Syaikhah Rahmah El Yunusiyyah gelar kehormatan yang langka bagi seorang perempuan non-Mesir. Tanda bahwa ilmu dan ketulusannya menembus batas bangsa dan gender.

Kini, lebih dari seratus tahun berlalu, Diniyah Puteri masih berdiri tegak di Padang Panjang. Menjadi saksi bahwa gagasan Rahmah bukan sekadar cita, tapi gerakan yang hidup melahirkan perempuan-perempuan cerdas, tangguh, dan beriman.

Rahmah El Yunusiyyah bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah nyala abadi dari ranah Minang, perempuan yang menjadikan pendidikan sebagai jalan pengabdian, dan membuktikan bahwa kemajuan bangsa bisa lahir dari tangan seorang ibu, dari ruang belajar yang sederhana, dan dari keyakinan bahwa ilmu adalah bentuk cinta tertinggi kepada Tuhan dan manusia.

Sebagai pendidik dan pejuang kemerdekaan yang dedikasinya paling menonjol dalam mempelopori pendidikan perempuan Islam di Indonesia. Presiden Prabowo Subiato memberikan gelar pahlawan nasional untuk Almarhumah Hajjah Rahmah El Yunusiyyah sebagai Pahlawan bidang perjuangan pendidikan Islam. (RN).

Related posts