Peringatan! BMKG Ungkap Ada Potensi Banjir Bandang Ancam Sumbar dan 18 Provinsi Lainnya, Antisipasi Bencana?

  • Whatsapp
Ilustrasi cuaca buruk (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.COM, JAKARTA — Potensi bencana banjir kembali menghantui Tanah Air. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini, adanya potensi hujan lebat di 19 daerah di Indonesia yang bisa menyebabkan banjir.

Menurut prakiraan cuaca BMKG, hujan lebat disertai petir dan angin kencang antara lain berpeluang terjadi di wilayah Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat.

Read More

Wilayah Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua juga menghadapi potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang. Sementara itu, wilayah Provinsi Sumatera Utara, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, dan Gorontalo diprakirakan menghadapi hujan dengan intensitas yang lebih ringan.

BMKG menyampaikan bahwa selama 20 sampai 21 September 2021 wilayah Provinsi Aceh, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan masuk dalam kategori waspada banjir bandang. Wilayah Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua juga masuk dalam kategori waspada banjir bandang dalam kurun itu.

BMKG dalam lamannya juga menyebut, hujan lebat tersebut dipegaruhi sirkulasi siklonik yang terpantau di sekitar wilayah Thailand dan di perairan barat Filipina, yang membentuk daerah konvergensi (pertemuan dan perlambatan kecepatan angin), dan memanjang di sekitar sirkulasi siklonik tersebut. Daerah konvergensi juga terpantau memanjang dari Laut Banda hingga Selat Makassar bagian tengah dan di Papua.

Kondisi itulah yang menyebabkan meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut.

Sementara itu, Peneliti Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto mengatakan, cuaca ekstrem tersebut menjadi salah satu dampak krisis iklim di Indonesia.

Laporan terbaru Panel Antar-Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) PBB, katanya, menemukan perubahan iklim mengintensifkan siklus hidrologi atau air di alam. Jadi sangat sering terjadi suatu wilayah akan mendapatkan curah hujan ekstrem yang bisa menyebabkan banjir, namun di saat musim kemarau wilayah tersebut akan mengalami kekeringan yang intens.

“Perubahan iklim juga akan menyebabkan pola curah hujan di wilayah tropis berubah dan intensitasnya tergantung dengan wilayah,” katanya.

Daerah pesisir juga akan mengalami dampak dari kenaikan tinggi muka laut sepanjang abad ke-21 yang berkontribusi terhadap banjir pantai yang lebih sering di daerah pesisir serta menyebabkan erosi pantai. Dia juga mengingatkan bahwa untuk kota seperti Jakarta, Makassar, Medan dan Surabaya juga akan mengalami respons berbeda.

“Terutama di kota sendiri sudah ada fenomena yang disebut dengan fenomena panas perkotaan,” tuturnya.

Secara umum saat ini rata-rata suhu udara permukaan Indonesia lebih rendah dari rata-rata global. Namun, jika dilihat secara spesifik per kota seperti Jakarta maka ditemukan tingkatnya lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. “Kalau kita lihat kota per kota seperti Jakarta itu akan 1,4 derajat Celsius lebih kuat, dibandingkan rata-rata global,” tutupnya.

Related posts