Perkembangan Museum ‘Rumah Adat nan Baanjuang’ di Masa Pandemi

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS, BUKITTINGGI – Semenjak Pandemi kondisi Rumah Adat nan Baanjuang yang terletak di Taman Budaya Kinantan sejak itu, jauh sekali merosot karena kondisi objek wisata ditutup, karena RKBH itu terletak di Kebun Binatang istilah orang sekarang. Hal ini disampaikan Kabid Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi kepada Minangkabaunews.com di ruang kerjanya, Senin (25/10/2021).

“Perlu kita sikapi sejak itu juga menganggu juga dengan sistim, intinya ada pemeliharaannya dan ada perbaikan- perbaikan yang perlu dilakukan di Rumah Adat nan Baanjuang,” ujar Kabid Kebudayaan ini.

Read More

Mul Akhiar lebih lanjut mengatakan jadi kondisi itu sepertinya sesuai dengan kondisi Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi, semua yang sifatnya tidak terlalu urgen, semua di refocusing kegiatan ekonomi kerakyatan.

“Jadi intinya, semua kegiatan yang menunjang di RKBH itu diarahkan membantu ekonomi kerakyatan, khususnya ekonomi harian,” jelas Mul Akhiar.

Ia menambahkan pasca Penyekatan Pembatas Kegiatan Masyarakat (PPKM) mulai diangsur dari level 4 ke level 3 mulai dibuka objek wisata, orang mulai berangsur -angsur satu-satu ke lokasi Budaya Kinantan tapi ke Museumnya masih tetap kurang, karena Museum itu banyak sangat diminati oleh orang luar daerah, yang menjadi daya tarik, di satu sisi, mereka berkunjung ke Museum mengenang Sejarah.

“Semua koleksi sudah tertata rapi, itupun sudah kita diusahakan dibantu oleh Kementerian berupa Dana Alokasi khusus (DAK) untuk membuat pameran di lantai bawah. Alhamdulillah! Sejak pandemi ini sudah mulai melandai, pengunjung sudah jauh lebih banyak berkunjung ke Museum, dulu sistimnya, dipungut dua kali biaya, masuk ke taman budaya Kinantan dan masuk ke Museum bayar lagi, sekarang ke Museum tidak (gratis),” imbuh ASN Pemko Bukittinggi ini.

Untuk memasyarakatkan Museum sekarang sudah ada kegiatan namanya Sekolah Museum, jadi anak- anak belajar di Museum.

“Kita memperkenalkan perjalanan Sejarah sebuah Museum seperti ‘Rumah Adat nan Baanjuang’ yang dibuat kembali tahun 1935, karena sebelumnya ada tapi terbakar. Jadi Rumah Adat nan Baanjuang yang berada di zaman bungo di kala itu, itu adalah Rumah Adat nan Baanjuang Joto Piliang sampai saat ini, alhamdulillah masihterjaga. Dengan Sekolah masuk Museum, maka minat anak-anak mempelajari perkembangan Museum dan mempelajari Sejarah berbalik ke belakang, justru sangat diminati sekarang,” tutur pria kelahiran Agam ini.

Banyak sekali pengunjung sudah masuk, melakukan kegiatan shoting oleh para recorder, ada penyanyi, ada orang – orang tradisi sudah action di Museum dan ada juga memanfaatkan halaman Museum.

“Kita berharap nanti, Museum itu sebagai bagian dari kehidupan manusia dan setelah kita amati beberapa bulan kebelakang, mereka sangat nyaman dan antusias untuk berkunjung ke Museum, karena dilihat dari sisi penataan dan pengelolaan Museum sudah cukup profesional, kita sudah memobilisasi barang -barang Antik ataupun yang ada didalamnya,” terang pria lulusan Fakultas Pendidikan, IKIP Padang itu.

Dalam suasana adaptasi kebiasaan baru yang tertuang dalam Perda No.6 Tahun 2020. Alhamdulillah! Masyarakat kita tidak berjalan dengan pola pikir kuno, tapi mereka sudah modern cara berpikirnya, dimana mereka berada di Museum tetap menjalankan protokol CoV19.

“Kita di Museum mempunyai Petugas yang selalu mengingatkan, selama di Museum mereka tetap menjalankan protokol kesehatan sesuai standar Nasional,” tutup Bapak dua orang anak ini.

Related posts