Perkembangan Pariwisata di Tengah Pandemi

  • Whatsapp

Oleh :Raditya Partama Yunanda

Saat ini, Pariwisata Indonesia sedang dihadapi tantangan yang memaksa sebagian dari objek wisata tutup akibat dampak pandemi. Mulai dari sektor wisata, budaya, sampai wisata kuliner terpaksa tutup akibat ganasnya virus Covid-19 yang merajalela. Ekonomi, kesehatan sampai kesejahteraan masyarakat dipertaruhkan demi meningkatkan kembali geliat wisata yang menjadi mata pencarian sebagian masyarakat.

Read More

Keelokan dan keindahan wisata Indonesia yang penuh dengan gemerlap dan dilengkapi sarana dan prasarana yang memukau sekarang terbengkalai tanpa satu orang pun menggunakannya. Semulanya terawat dan dikagumi karena keindahannya, sekarang berubah menjadi sebuah tempat yang lengang, sepi dan tidak terawat yang menimbulkan kesan angker.

Tapi, tidak semua wisata di Indonesia terkena dampaknya. Salah satu wisata di Sumatera Barat, tepatnya objek wisata di Pariaman tidak terlalu berdampak akibat merabaknya virus Corona, masyarakat sekitar masih tetap bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, mulai dari kegiatan wisata yang masih berjalan seperti biasanya, bahkan jumlah pengunjung tidak terpengaruh oleh virus ini. Namun beberapa bulan kemudian, barulah mulai terjadi perubahan dengan jumlah wisatawan yang berkunjung di Pantai Gandoriah.

Penerapan PSBB sampai PPKM menghambat wisatawan datang ke Pariaman demi menghadang dan memutus mata rantai Covid-19. Larangan hingga penutupan Pantai sempat dilakukan untuk menghindari keramaian yang ditakutkan bisa menularkan virus mematikan ini.

Kegiatan tahunan yang dilakukan setiap bulan Muharam yang dikenal dengan Festival Tabuik sekarang dilarang untuk dilakukan. Pemerintah melarang pelaksanaan festival ini untuk menghindari kerumunan orang yang akan datang untuk menyaksikan Festival Tabuik. Dua kali acara ini dibatalkan demi memutus mata rantai Covid-19, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali mematuhi dan menerapkan anjuran pemerintah demi kebaikan bersama.

Kota Pariaman yang merupakan salah satu kota wisata di Sumatera Barat menjadi sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat di sekitar pantai, rupiah demi rupiah mereka kumpulkan demi mencari sesuap nasi. Pedagang, tukang parkir sampai penyedia rental mainan anak-anak menjadi korban akibat penutupan objek wisata ini, tentu mereka menjadi salah satu yang menerima dampak keganasan virus ini. mereka hanya bisa pasrah saat penutupan objek wisata karena penerapan PPKM yang terjadi di Kota Pariaman. Sampai akhirnya mereka harus mencari pekerjaan lain guna mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Bulan demi bulan berlalu, kondisi semakin mengkhawatirkan. Virus ini mencapai puncaknya pada pertengahan Bulan Juli tahun 2021, lebih dari lima puluh ribu penambahan kasus harian terjadi dalam sehari, Pemerintah menjadi lebih ketat menerapkan aturan untuk mencegah penambahan kasus semakin banyak lagi. Dengan kerja sama dari semua kalangan, baik dari masyarakat menerapkan protokol kesehatan sampai melakukan vaksinasi masal yang terbukti mampu menekan pertumbuhan kasus harian. Sampai artikel ini dibuat, lebih kurang terjadi seribu penambahan kasus harian, jauh lebih berkurang saat pertengahan Bulan Juli kemarin.

Penggiat dan pelaku wisata sekarang sudah mulai bernapas lega, Pemerintah sudah mulai membuka sebagian objek wisata dengan kapasitas setengah dari daya tampung. Angin segar yang datang di berbagai sektor, termaksud sektor wisata mulai menata kembali fasilitas, sarana dan prasarana yang terbengkalai cukup lama demi menyambut kembali wisatawan yang ingin berkunjung.

Wisatawan yang datang sekarang bisa menikmati berbagai objek wisata yang biasanya ditutup akibat pandemi. Protokol kesehatan tidak lupa diterapkan meskipun angka penambahan kasus terus menurun. Bagi wisatawan, dihimbau agar mematuhi aturan yang berlaku demi kebaikan bersama.

Dengan dibukanya objek wisata, Pedagang, tukang parkir sampai penyedia rental mainan anak-anak sekarang bisa kembali mencari nafkah untuk keluarganya. Ekonomi semakin membaik dan kesejahteraan penduduk meningkat, itu semua bisa terjadi karena masyarakat menerapkan aturan dengan baik dan melakukan vaksinasi untuk mencapai kekebalan tubuh.

Sampai akhirnya, objek wisata kembali bergeliat dan mulai berangsur pulih seperti sebelum Covid-19 menyerang, bahkan pelaku wisata saat ini lebih mampu mengendalikan wisata menjadi lebih baik, mulai dari menjaga kesehatan sampai menata objek wisata lebih baik lagi.

/*Penulis : Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.

Related posts